Terik di Rialto Bridge - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Wisata Little Venice Bogor

Ali Mufid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Maret 2022

Rabu, 15 Juni 2022 06:59 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Terik di Rialto Bridge

    Setelah beberapa jam menyusuri jalanan kota Venice, kami penasaran ingin melihat panorama kota dari Fondaco dei Tedeschi. Dari balkon tinggi itu kita bisa melihat lebih luas keindahan Venice. Kami melihat bangunan-bangunan tua diantara sungai serta dominasi warna merah yang menempel atap bangunan. Ada juga toko buku Libreria Acqua Alta yang didirikan Luigi Frizzio tahun 2004, Ini menjadi salah satu daya tarik dari sekian banyak tempat menawan di Venice.

    Dibaca : 683 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Hari kedua perjalanan akan mengulik tentang keindahan kota Venice. Biasanya hari kedua perjalanan jauh stamina masih oke, tuh. Rasa penasaran untuk mengeksplorasi tempat baru masih menggebu-gebu. Apalagi pemandangan kota Venice sarat akan kanal-kanal yang dihiasi beragam moda transportasi air, lalu bangunan bersejarah serta aktifitas masyarakat yang intim dengan sungai. Hah, tak sabar rasanya beranjak dari hotel. Mari berangkat...

    Sampainya di lokasi pagi hari benar-benar energi masih tersimpan banyak. Mata makin sumringah melihat keindahan kotanya. Terlebih lalu lintas perahu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Saat itu kondisi baru beberapa bulan pemerintah Italia melonggarkan aktifitas warga, setelah kurang lebih tiga bulan lockdown. Sehingga warga maupun wisatawan yang datang dianjurkan tetap menggunakan masker.

    Kaki melangkah perlahan beberapa meter jalan lalu berhenti, begitu seterusnya kurang lebih sepanjang 500 meter. Betapa tidak, karena hampir setiap toko souvenir dipinggiran jalan menjual barang yang ikonik. Seperti topeng misalnya. Nah, kenapa di toko-toko itu banyak menjual topeng. Ternyata, selain memiliki julukan sebagai Kota Apung, Venice juga disebut sebagai City of Mask. Berbagai sumber menyebut jika masyarakat kota Venice memiliki acara karnaval selama kurang lebih satu bulan menjelang hari Paskah. Agenda tahunan ini mewajibkan masyarakat kota Venice memakai topeng.

    Setelah beberapa jam menyusuri jalanan kota Venice, kami penasaran ingin melihat panorama kota dari Fondaco dei Tedeschi. Dari balkon tinggi itu kita bisa melihat lebih luas keindahan Venice. Di atas itulah kita bisa melihat bangunan-bangunan tua diantara sungai serta dominasi warna merah yang menempel atap bangunan rumah-rumah tua.

    Ternyata ada juga loh tempat menarik selain pemandangan dari atas Fondaco di Tedeschi. Adalah toko buku Libreria Acqua Alta, sebuah toko buku yang didirikan oleh Luigi Frizzio tahun 2004 lalu ini menjadi salah satu daya tarik dari sekian banyak tempat menawan di kota Venice. Di Libreria Acqua Alta ini, banyak menyediakan buku-buku baru maupun bekas. Informasi ini membuat pecinta baca atau sekedar mengoleksi buku tertarik untuk mengunjunginya. Termasuk saya pun penasaran seunik apa perpustakaan apung itu.

    Setelah mengikuti google map yang beberapa kali mengecoh rute, akhirnya sampai di Libreria Acqua Alta. Dari pengamatan, jika bangunan tersebut berada persis di pinggiran sungai. Di belakang toko terdapat pintu yang menghadap langsung ke air sungai. Berbagai sumber menyebutkan saat musim dingin, kota Venice digenangi banjir. Fenomena inilah yang disebut Acqua Alta. Penyebabnya karena gelombang tinggi di laut Adriatik Utara.

    Badan berasa lelah setelah hampir separuh hari berkeliling di kota Venice. Gayung bersambut, perut pun terasa lapar. Mencari makanan yang memiliki citarasa Italia. Tak jauh-jauh tebakannya adalah spaghetti. Kali ini eksplorasi kuliner khas Itali yaitu spaghetti al nero di sepia. Nah, jadi spaghetti ini merupakan salah satu menu populer dan klasik. Selain warnanya, makanan ini diolah dan dicampur dengan tinta sotong.

    Sedikit cerita tentang spaghetti hitam ya. Berbagai sumber menyebutkan bahwa dulu tinta sotong digunakan hanya untuk membumbui sotong, cara untuk tidak membuang apa pun, namun saat ini tinta sotong telah menjadi bumbu yang sangat populer terutama untuk sajian pertama. Faktanya, pasta tinta sotong dianggap gourmet dan jika Anda tidak tahu cara memasak sotong hari ini, mereka tidak bisa tidak mengundang Anda untuk mengikuti resep yang disiapkan dalam beberapa menit ini dan membawa banyak rasa.

    Ikuti tulisan menarik Ali Mufid lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.