Interupsi Keringat di Gerbong Sawunggalih - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

KA Sawunggalih. Wikipedia

Ali Mufid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Maret 2022

Rabu, 15 Juni 2022 15:06 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Interupsi Keringat di Gerbong Sawunggalih

    Belum lagi pedagang asongan yang mondar-mandir menawarkan aneka dagangan. Bisa dibayangkan berapa banyak orang berkepentingan dalam satu gerbong kereta.

    Dibaca : 675 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dua belas tahun lalu, kita pilih saja hari minggu karena jadwalnya kembali aktifitas saat senin pagi. Menyapa salah satu stasiun kecil di barat Kabupaten Cilacap, daerah itu disebut Sidareja. Distrik dari lima kecamatan termasuk Sidareja didalamnya. Stasiun 5 meter diatas permukaan air laut itu dilalui kereta api dari ujung timur Jawa hingga Ibukota Negara. Lodaya dan Sawunggalih adalah kereta api langganan mahasiswa yang kuliah di Jogja dan Solo.

    Lodaya lebih intim dengan mahasiswa kelas ekonomi menengah ke atas. Sementara Sawunggalih lebih bersahaja menyapa kita mahasiswa yang uang sakunya pas-pasan. Sawunggalih ini kereta kelas ekonomi. Di era itu, betapa kacaunya pemandangan di dalam kereta. Selama masih ada ruang untuk berdiri, berapapun jumlah penumpang ditampung. Belum lagi pedagang asongan yang mondar-mandir menawarkan aneka dagangan. Bisa dibayangkan berapa banyak orang berkepentingan dalam satu gerbong kereta.

    Jika tugas yang tak bisa diwakilkan tiba, kita harus bersusah payah berjalan ke arah toilet. Hati-hati, kita harus lihai dan jalan pelan, khawatir menginjak orang yang sedang duduk di lantai gerbong. Sampai di depan pintu, perlu santun menggeser penumpang yang tengah dipaksa nyaman duduk di ruangan kecil itu. Barulah kita bisa buang air kecil. Jangan kilas balik sekuat apa aroma yang mampir di indera penciuman kita. Kira-kira begitulah aromanya.

    Kembali ke tengah rangkaian gerbong sembari berharap ada penumpang turun di stasiun berikutnya. Ya, kali ini bersiap untuk merasakan udara pengap lalu tak berselang lama butiran keringat bermunculan. Hembusan nafas saling bertabrakan. Terang saja, jarak antar penumpang hanya beberapa jengkal saja. Belum lagi suara bersaut-sautan pedagang asongan. Semakin menegaskan bahwa itu adalah situasi terkacau.

    Kereta api kita telah mengalami transformasi. Kini mengedepankan pendekatan yang lebih manusiawi. Meski untuk sampai di titik itu, banyak pro dan kontra. Salah satunya protes pedagang asongan karena tidak diperbolehkan lagi masuk ke rangkain kereta. Saat ini, jangankan masuk ke gerbong, untuk berjualan di dalam stasiun saja tidak diizinkan.

    Bahkan saat itu, pernah terjadi puluhan pedagang asongan di stasiun Lempuyangan Yogyakarta mengadu ke komisi A DPRD Kota Jogja. Para pedagang ini merespon terkait adanya pengumuman dari PT KAI yang melarang mereka berjualan di Stasiun Lempuyangan. Bukan tanpa alasan, pihak PT KAI sendiri tengah mewujudkan kenyamanan dan kebersihan di area stasiun.

    Terlepas dari warna pro dan kontra kala itu, faktanya saat ini aspek pelayanan dan kenyamanan di semua stasiun sangat baik. Termasuk tidak ada lagi penumpang tanpa tiket. Tidak ada juga penumpang berdiri. Satu tiket satu kursi, sangat tertib. Rangkaian gerbong kereta seluruhnya terpasang AC. Petugas kebersihan selalu mengontrol tiap kursi penumpang. Masinis tak pernah lupa mengingatkan melalui pengeras suara sesaat sebelum kereta berhenti di stasiun berikutnya.

    Transformasi sebuah keharusan karena banyak aspek yang harus diperjuangkan. Seperti kenyamanan penumpang menggunakan transportasi publik misalnya. Meski cerita saling berdesakan itu tak bisa terulang, paling tidak menjadi saksi peralihan adalah sebaik-baiknya merekam cerita.

    Ikuti tulisan menarik Ali Mufid lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.