Anakmu Bukan Anakmu, maka Biarlah Ia Menemukan Jati dirinya - Analisis - www.indonesiana.id
x

Hari Anak Nasional

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Rabu, 15 Juni 2022 17:27 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Anakmu Bukan Anakmu, maka Biarlah Ia Menemukan Jati dirinya

    Memahami sosok anak tak semudah yang dibayangkan. Salin tempel (copy paste) dari pendidikan orangtua di masa lalu, malah tidak sesuai dengan keberadaan pascadirinya sebagai orang tua. Zaman berubah.

    Dibaca : 547 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Anakmu Bukan Anakmu, maka Biarlah Ia Menemukan Jati dirinya

     

    Anakmu bukanlah anakmu.

    Mereka adalah putra putri kerinduan kehidupan terhadap dirinya sendiri.

    Mereka terlahir lewat dirimu, tetapi tidak berasal dari dirimu.

    Dan, meskipun mereka bersamamu, mereka bukan milikmu.

     

    (Kahlil Gibran)

     

     

    ***

     

    Apakah sebagai orang tua kita pernah mengurung anak karena melanggar aturan? Apakah sebagai orang tua kita pernah memarahi dengan berteriak-teriak kepada anak karena ia bersalah? Apakah sebagai orang tua kita pernah membuat anak merasa sangat ketakutan? Apakah sebagai orang tua, usai pengambilan rapor saat anak  kita duduk di SD tidak mengapresiasi prestasi yang diperoleh?

     

    Apabila, jawaban kita sebagai orang tua, “ya”  itu artinya kita mesti wawas diri.

     

    7 Pelecehan Orang Tua

    Pakar kesehatan mental Christine Hammond dan penulis buku Abuse Exposed: Identifying Family Secrets That Breed Dysfunction (2021) menyebutkan,  ada tujuh macam kekerasan atau pelecehan yang dilakukan orang tua terhadap  anak.

     

    Pertama, pelecehan fisik yakni menarik anak, mencubit, mengurung dan mengunci di kamar. Kedua, pelecehan verbal yakni meningkatkan volume suara mengabaikan perasaan anak, dan menuduh anak sensitif. Ketiga, kekerasan mental yakni marah tanpa alasan, membuat anak terkejut hingga terdiam, memutar balikkan fakta, membuat anak merasa takut seperti ditinggalkan dan ditolak.

    Keempat, emotional abuse yakni meremehkan pencapaian anak, menyindir dan merendahkan pekerjaan anak. Kelima, financial abuse yakni mengeksploitasi anak secara finansial, menuntut hadiah mahal dari anak, dan melarang anak membelanjakan uangnya sendiri. Keenam, pelecehan seksual yakni menyentuh area pribadi hingga melakukan pemerkosaan. Ketujuh, spiritual abuse yakni mengolok-olok keyakinan anak, mengharuskan anak mengadopsi kepercayaan yang diberikan dari lahir, segrasi, hingga melabeli anak sebagai pemberontak bila tidak sejalan dengan yang disampaikan orang tua.

    Ketujuh perundungan yang terjadi hendaknya lebih disadari para orang tua. Apalagi mereka yang anak-anaknya terlahir sebagai generasi Z.

     

    Generasi X dan Z

     

    Dikutip dari katadata.co.id/ Generasi Z adalah generasi peralihan dari generasi Y saat teknologi mulai berkembang. Generasi ini disebut juga sebagai Gen Z atau i-generation. Mereka yang masuk dalam generasi ini termasuk generasi up to date terhadap isu yang tersebar di media masa atau internet. Kehidupan gen Z tidak lepas dari internet, karena mereka lahir dan tumbuh di tengah perkembangan teknologi. Mereka juga dikenal sebagai generasi yang mahir dalam mengoperasikan internet baik untuk hiburan, belajar, atau bekerja.

     

    Karakteristik Generasi Z Gen Z memiliki karakteristik yang berbeda dengan generasi lain. Gen Z memiliki karakter yang menggemari teknologi, fleksibel, lebih cerdas, dan toleran pada perbedaan budaya. Generasi ini juga terhubung secara global dan berjejaring di dunia virtual. Meskipun terkenal open minded, namun generasi ini juga dketahui memiliki karakter yang menyukai budaya instan dan kurang peka terhadap esensi privat.

     

    Selain memiliki karakteristik sebagaimana dipaparkan, Gen Z juga memiliki beberapa ciri khusus yaitu: tidak bisa terlepas dari ponsel pintar dan internet,  memiliki orang tua dari generasi X, dan memiliki pengetahuan finansial yang baik

     

    Gen Z lahir dan hidup di era teknologi mulai berkembang. Maka dari itu, kelompok ini sangat akrab dengan internet dan ponsel pintar. Mereka bahkan sudah sangat mahir dalam menggunakan sosial media seperti Instagram, Facebook, Twitter, WhatsApp, dan berbagai sosial media lain. Tak hanya digunakan sebagai media komunikasi saja, mereka juga memanfaatkan sosial media untuk berkarya, bekerja, hingga berekspresi.

     

    Secara umum, gen Z lahir dari generasi X atau generasi yang lahir di era 1965 – 1979. Berbeda dengan gen Z, generasi X ini lahir sebelum teknologi tercipta. Meskipun demikian, gen X tetap bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang ada. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya gen X yang menggunakan Facebook.

     

    Ciri-ciri generasi Z lainnya yaitu memiliki pengetahuan finansial yang baik. Gen Z memiliki orientasi finansial yang jelas dengan pembekalan diri dengan pengetahuan finansial sejak kecil. Gen Z juga menyadari pentingnya menabung dan investasi di masa yang akan datang. Dalam urusan finansial, mereka juga sangat berhati-hati agar tidak terjebak dalam hutang.

    Populasi Generasi Z di Indonesia ternyata sangat banyak. Berdasarkan hasil sensus penduduk BPS di tahun 2020 melaporkan bahwa ada 74,93 juta gen Z di Indonesia atau sekitar 27,94% dari total penduduk Indonesia. Generasi Z saat ini diperkirakan berusia 8 – 23 tahun. Sebagian besar gen Z belum masuk usia produktif, namun diperkirakan sekitar tujuh tahun yang akan datang, mereka akan masuk ke usia produktif.

     

    Kondisi inilah menyebabkan Indonesia memiliki bonus demografi. Bonus ini hendaknya sudah diantisipasi secara cerdas, melalui jalur pendidikan. Jalur yang vital, justru berada sejak anak berada di lingkungan keluarga.  Sebagai orang tua, kita memang saatnya memahami dunia anak.

     

     

    Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.