Perbedaan Pikiran Besar, Sedang dan Kerdil - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

ilustr: ACR

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Kamis, 16 Juni 2022 12:15 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Perbedaan Pikiran Besar, Sedang dan Kerdil

    Seorang tokoh dari Amerika dengan indah melukiskan perbedaan tiga jenis pikiran. Apa saja itu? Bagaimana menbcapai yang terbaik? Ikuti terus.

    Dibaca : 697 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

    Kebesaran seseorang terletak pada ahlak dan pikirannya. Kebanyakan orang hanya memiliki pikiran kerdil saja. Mereka yang berpikiran agak lebih besar  jumlahnya lebih sedikit. Paling sedikit adalah mereka yang berpikiran besar.  Apa ciri yang membedakan ketiga jenis pikiran itu?

    Ada sebuah quote menarik dari seorang tokoh dari Amerika Serikat bernama Eleanor Roosevelt.  Quotenya sangat relevan dengan pertanyaan di atas.

    “Great minds discuss ideas; average minds discuss events; small minds discuss people.” (Eleanor Roosevelt)  Pikiran besar membahas gagasan; pikiran sedang membahas peristiwa; pikiran kecil membahas orang.  Demikian kutipan kalimat mutiara dari mantan ibu negara paman Sam, Eleanor Roosevelt yang sangat bijaksana.   Mari kita otak atik.

    Membahas gagasan ini bukan hanya milik orang besar atau orang dalam posisi tinggi.  Sejatinya setiap orang bisa saja membahas gagasan.  Jadi setiap orang bisa saja memiliki pikiran besar.  Anda tidak perlu menjadi presiden Amerika Serikat untuk mampu merubah dunia.  Menjadi ketua rt atau rw dan memiliki gagasan mengelola sampah yang bagus, itu saja sudah pikiran besar.  Anda sudah memberi sumbangan besar kepada dunia Anda.    Bahkan bila Anda bukan rt, bukan pejabat, bukan orang kaya tetap saja Anda bisa memiliki gagasan yang bermanfaat untuk orang lain.  Saya pernah melihat acara ‘Kick Andi’ yang mengundang orang biasa karena mereka memiliki karya biasa saja sebenarnya tapi memberi manfaat untuk orang lain.  Mereka juga menginspirasi orang lain untuk berbuat kebaikan. 

    Membahas peristiwa banyak dilakukan orang saat ini ketika Indonesia gaduh dengan banyak peristiwa politik.  Sebagian besar mungkin pembicara yang kurang berkualitas karena orang yang membicarakan kurang menguasai teori politik, ekonomi, hukum,dsb.  Maka yang terjadi sejatinya hanya mengutarakan opini pribadi tanpa dasar pemikiran yang kuat.  Ini terjadi di kedua kubu, bukan satu kubu saja. Sebenarnya prinsip mereka adalah ‘pokokmen’.  Maka bukan diskusi yang banyak terjadi tapi eyel eyelan alias debat kusir atau pertengkaran.  Islam mengajarkan untuk meninggalkan kegiatan semacam ini karena lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya.

    Kegiatan ketiga juga banyak dilakukan orang yaitu mengomongkan orang. Sebenarnya tindakan ini bisa positif jika Anda menyoroti sisi keunggulan seseorang untuk memberi masukan kepada anak anak Anda misalnya.  Tapi informasi yang Anda sampaikan harus berdasarkan fakta nyata, bukan sekedar berdasarkan hoax atau kultus individu. Meskipun demikian saya yakin yang dimaksud Eleanor adalah ngrasani atau ghibah.  Pikiran kerdil suka ngrasani orang lain.   Di dalam pikiran kecil tidak ada orang yang benar.  Kalau ada tetangganya yang kaya dia gosipkan kkn, cari pesugihan, hasil kejahatan dsb.  Orang yang kurang makmur juga disalahkan.  Orang cantik dirasani, orang tidak cantik juga dirasani.  Orang solat disalahkan, tidak solat juga disalahkan.  Tidak ada orang benar dalam anggapannya.

    Acara kumpul kumpul dengan tetangga adalah ajang kedua kegiatan terakhir ini.  Jadi kegiatan kumpul nonggo itu memang kegiatan buruk yang tidak banyak disadari orang.  Apalagi ketika Covid masih ada sekarang ini. Dulu di Yogyakarta di tingkat RT RW ada aturan dilarang nonggo di antara jam 18.00 -21.00 agar tidak mengganggu anak belajar.   Sebaiknya daerah lain menirunya untuk mengurangi kegiatan jelek ini.

    Di antara ketiganya tentu yang terakhir itu yang terburuk.  Ada konsekwensinya secara agama.  Secara mental juga buruk.  Pikiran jadi hanya berfokus pada kesalahan orang dan lupa melihat sisi baik dari orang lain.   Pilihannya terserah Anda. 

    Semoga Anda bisa naik kelas menjadi produsen gagasan dan menghindari atau menghilangkan kegiatan eyel-eyelan dan ngrasani.   Semakin banyak orang naik kelas menjadi penyumbang gagasan maka akan semakin baiklah negri kita.   Indonesia masih membutuhkan banyak sekali penyumbang gagasan untuk sederet masalah masyarakat yang kita hadapi. Jadilah salah satunya.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    5 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 595 kali