Koalisi Tandingan versi Mas Nakurat - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Perundingan

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Jumat, 17 Juni 2022 09:43 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Koalisi Tandingan versi Mas Nakurat

    Jelang Pemilu 2024, muncul wacana koalisi. Ada yang sudah mendeklarasikan. Ada yang sedang berencana, namun sudah punya nama. Ada yang tidak punya partai, tapi punya keinginan bentuk koalisi.

    Dibaca : 571 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    “Di negeri yang makin kocak ini, kita tak hanya kenal musim buah dan musim iklim. Ada juga musim lain yang muncul dari ranah politik menjelang tahapan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.” ujar Mas Nakurat sambil menghirup kopi kentalnya, merk Bukan Luwak.

    “Apa tuu, Mas?” serobot Mas Win Malukaya, sambil menunggu pesanan nasi uduk.

    “Musim koalisi. Dinamika politik menjelang (Pemilu), mulai mengerucut pada pembentukan koalisi. Sejauh ini, sudah ada tiga partai yang memutuskan untuk bekerja sama dalam Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). Partai tersebut adalah Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

    Ada yang sedang merencanakan agar berkoalisi. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sepakat menjajaki peluang berkoalisi menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Kedua partai berencana menamai kerja sama mereka dengan Koalisi Semut Merah.

    Nama koalisi ini mengambil filosofi semut merah, yang memiliki koloni dengan saling bekerja sama, walaupun kecil tetapi mampu memberikan efek yang besar, serta dapat mengalahkan sosok besar, sebagai analogi partai besar. Selain itu, semut juga dapat menjadi simbol bagi rakyat kecil.

    Merespons soal kemungkinan membentuk poros tersendiri, Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, menggunakan istilah kerja sama partai politik, bukan koalisi. Bagi Hasto, "Kerja sama partai politik itu kan salah satu prinsip dari gotong royong."

    “Kira-kira apa tujuan mereka?” respon Win, sambil menuntaskan nasi uduk plus tiga bakwan.

    “Jangan pakai logika normatif” sergah Mas Nakurat.

    “Maksudnya?”

    “Ya, bisa plus minus.”

    Sotoy, deh!”

    “Lho, aku serius Mas win. Plusnya ya, kita yang cuma rakyat bisa menakar tingkat kekonflikan mereka. Tingkat dinamika mereka dalam berorganisasi, dalam beretorika, dalam kedewasaan bertindak. Dalam kesalehan sosial.”

    “Minusnya?”

    “Kadang … seperti logika tumpul yang aku punya: apalagi kalau bukan kekuasaan. Ego material yang berujung pada kepemilikan segala fasilitas. Ego sekotoral yang bikin bubrah gak genah.

    “Salah?”

    “Jangan ngomong salah benar. Kita tidak sedang diuji dalam ujian di Sekolah Dasar yang disodori dua pilihan jawaban:  benar dan salah.  Karena, yang menilai adalah seleksi alam yang bergerak secara alami. Jika hasil dari tandingan ternyata didukung rakyat, sebagai tesis kita catat sebagai kemenangan.”

    “Ada contoh, Mas?”

    “Kemelut yang menimpa Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dengan puncaknya terjadi peristiwa 27 Juli 1996 membuat PDI pecah. Yang satu dikenal sebagai PDI Soerjadi, yang satunya lagi tahun 1999 dikenal dengan nama PDI Perjuangan (PDIP) di bawah kepemimpinan Megawati Soekarnoputri.   Ini terjadi pada era Orba. Dalam perjalanan sejarah, PDIP mampu bertahan hingga kini.”

    “Jadi tak selamanya tandingan itu yang dikalahkan ya Mas?”

    “Satu kasus dalam contoh itu, jangan digebyah uyah atau digeneralisasikan. Nanti, pola pikirmu makin tumpul. Dalam kasus, pengambilan sampel secuil kuah sayur untuk merasakan asin tidaknya, si koki mungkin bisa mengatakan bahwa garam setoples yang ada di samping kompor pasti asin semua. Tapi, tidak pada kasus rebung.”

    “Piye, to?”

    “Rebung kan anak bambu yang masih muda. Itu kalau dilodeh, ditumis, atau dipepes . enak lhoo” sela Bu Mariani Hutagaol, yang kebetulan juga pesan 5 bungkus nasi megono, khas Warung Yu Ningnong ini.

    “Rebung itu enak pula jika diarsik lalu dicampur pepes ikan Mas misalnya.  Wow nikmat sangat!” tambah Opung Tioma Siahaan,yang juga lagi memborong pisang goreng.

    “Terus?”

    “Ya, salah kalau kita simpulkan tu rebung .. yang muda aja enak, apalagi yang tua.”

    (Sontak,  tawa mereka pun tak dapat ditahan!)

    “Mas Nakurat, kalau aku bikin koalisi tandingan, sampeyan mendukung?”

    “Maumu apa?”

    “Ya supaya kelihatan gaul aja!”

    “Siapa yang mau ditandingi?”

    “Mereka, rakyat yang bukan rakyat. Mereka yang tidak mau disensus dan menjadi golongan seperti kita: orang pinggiran, duafa, miskin ekstrim, dan hidup ngepas karena bernyawa. Namanya: Koalisi: Ngatako. “Filosofi dari Ngatako, pokoknya oke banget!”

    Ngatako?”

    “Ya. buNGA TAhi  koTOK.”

    “Hehehehehe … Makin ngaco kamu. Simpan saja ide gilamu, karena kita bukan tandingan mereka.”

     

     

    Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.