Sang Putri Singwangibakpandan - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Dialog. Gerd Alatmann dari Pixabay.com

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Jumat, 17 Juni 2022 18:51 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Sang Putri Singwangibakpandan

    Kerajaan Negeri Nakurat dipangku dikenal sebagai negeri idaman. Kerajaan ini menyimpan berbagai kisah yang melegenda. Rakyat hidup aman sejahtera. Rajanya,  Eron Bijakbajik memerintah dengan adab dan santun. Permaisurinya bernama Ayu Singapikklakuane, dikenal ramah. Putri semata wayangnya bernama Sipuk Singwangibakpandan.

    Dibaca : 593 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kerajaan Negeri Nakurat dipangku oleh Raja bernama Eron Bijakbajik. Permaisurinya bernama Ayu Singapikklakuane. Putri sematawayangnya bernama Sipuk Singwangibakpandan. Sebagai negeri idaman, kerajaan ini menyimpan berbagai kisah. Rakyat hidup aman sejahtera. Raja memerintah dengan bijak dan bajik sehingga apa pun yang menjadi keputusan raja, tidak perlu ada gejolak apalagi sampai rakyat turun berunjuk rasa di bundaran Ha-i-hi-hi-hi, nama alun-alun kerajaan. Misalnya, waktu harga BBM (Bahan Bumbu Masak) dan minyak goreng dinaikkan. Mana ada ibu-ibu rumah tangga yang protes?

    Sang Putri Raja, Sipuk Singwangibakpandan selalu melibatkan diri untuk urusan kebijakan Negeri Nakurat. Dia sibuk memberikan penjelasan latar belakang naiknya BBM. Meskipun usianya belum genap 17 tahun, dia memang sering diajak Baginda Raja bertemu dengan berbagai lapisan masyarakat.

    Kebijakan kenaikan BBM diambil baginda Raja Nakurat antara lain dalam rangka memperoleh masukan keuangan negara. Hal ini disebabkan, permintaan akan BBM dan minyak goreng di luar kerajaan begitu tinggi. Jika penghasilan kerajaan meningkat, kesejahteraan rakyat juga meningkat.

    “Nah, itulah pertimbangan kerajaan. Bagaimana Ibu-ibu dan sahabat saya putri remaja?” ungkapnya dalam sebuah pertemuan di Balai Desa Jatiraden.

    “Setuju. Tapi, janji Tuan Putri mau ngajar kami jadi, kan?” kata seorang ibu.

    “Oh, tentu! Saya akan mengusulkan kepada Hulubalang Menteri Pendidikan agar sebagian keuntungan kenaikan BBM dapat diberikan kepada kita berupa: membangun gedung sekolah, mendirikan taman keprigelan di desa ini, dan membeli buku- buku ilmu pengetahuan. Tapi ada syaratnya, lo!”

    “Apa itu Tuan Putri?” tanya seorang remaja.

    “Semua warga disini harus sudah melek huruf . Semua warga: anak-anak, remaja, dan para orang tua harus sudah pandai membaca. Selain itu, kita harus semakin meningkatkan kerja keras.”

    “Setuju, Tuan Putri!”

    Sang Putri Sipuk yang terbiasa dekat dengan rakyat selain mengajar baca tulis, juga memberikan keterampilan menyulam, menjahit, dan memperkenalkan berbagai bentuk variasi sulaman kepada anak-anak, remaja, dan para orang tua.

    Dari 61 desa yang merupakan wilayah bagian kerajaan Nakurat, sebagian besar penduduk mengandalkan hidupnya dari hasil pertanian dan hasil hutan (terutama rotan dan kayu). Namun, di desa Jatiraden inilah sawah dan ladang jarang ditemukan. Justru yang banyak ditemukan adalah situ, danau, sungai, dan empang. Beternak ikan juga dilakukan penduduk desa ini. Namun, hasilnya kurang memadai. Entah kurang cocok dengan alamnya, atau kurangnya pengetahuan penduduk, yang banyak dijumpai hanyalah tumbuhan eceng gondok yang begitu subur dimana-mana. Sementara di sekitar rumah penduduk, yang banyak tumbuh adalah pohon pisang dan pohon jarak.

    “Eceng gondok ... pohon pisang, harus diapakan ya? Semua orang menganggap eceng gondok hanya sebagai hama pengganggu dan tumbuhannya sering dibuang percuma. Demikian pula gedebog pisang.”

    Sang Putri Sipuk berpikir keras mengatasi keadaan ini. Sang Putri tiba-tiba mendapat ide cemerlang! Dia menemui Ayahndanya.

     

    ***

    Seperti biasa, setiap Minggu penduduk belajar keterampilan kepada Sang Putri. Kali ini, penduduk diajak belajar tentang pemanfaatan eceng gondok dan gedebog pisang. Mula-mula, eceng gondok dibersihkan kemudian dijemur. Setelah kering, mulailah Sang Putri memberikan cara merangkai eceng gondok yang kering menjadi tali, lalu dari tali dililit-lilit menjadi anyaman berupa kerajinan tas, dompet, topi, lampu hias, dan anyaman untuk variasi hiasan meja kursi.

    Cara kedua, gedebog pisang dikupas hingga ditemukan pelepahnya. Tiap pelepah lalu disayat hingga habis. Sayatan ini kemudian dijemur hingga kering. Nah, jika sudah kering disambung hingga panjang kemudian dibuat anyaman. Sebagaimana eceng gondok, tali gedebog pisang dapat pula dijadikan anyaman berupa tas, topi, lampu hias, dan variasi meja kursi.

    Para penduduk dengan senang dan semangat mengerjakan berbagai bentuk kerajinan yang dibuat dari eceng gondok dan gedebog pisang. Ada pula yang membuat keripik gedebog pisang. Hasil kerajinan tangan buatan penduduk Jatiraden melimpah. Produknya kemudian dipasarkan ke mancanegara.

    Tahukah kamu, Desa Jatiraden yang semula dianggap sebagai daerah miskin kini beranjak sejajar dengan Desa-desa lain di kerajaan Nakurat. Penghasilan tiap kepala keluarga meningkat. Desa ini pun dikenal di berbagai mancanegara.

    Rupanya, Sang Putri tidak ingin menyia-nyiakan semangat warga kerajaan Nakurat yang sedang berkobar. Sekarang warga Jatiraden juga diajarkan memanfaatkan biji jarak. Kalian tahu, pohon jarak yang tumbuh di sekitar rumah penduduk pun harus dapat dimanfaatkan. Sang Putri kembali memberikan teknik memanfaatkan biji jarak.

    Biji jarak yang telah dipanen, kemudian dijemur. Untuk apa?

    “Agar kadar air dan getahnya berkurang” ujar Sang Putri sambil memeragakan teknik menumbuk biji jarak. Dengan campuran buah Jamplung, tumbukan itu dilekatkan pada rautan bambu. Bambu yang berfungsi sebagai lampu penerang atau obor tersebut dapat digunakan pada malam hari.

    Ya, Kerajaan Nakurat memang hidup makmur. Kerajaan ini terkenal dikarenakan pula kesederhanaan dan kesantunan Sang Permaisuri dan Sang Baginda Raja. Secara diam-diam, mereka sering berkeliling desa. Dengan penyamaran sebagai pengelana, Sang Baginda dan Sang Permaisuri dapat mengetahui keadaan rakyatnya secara langsung. Mereka pun kagum akan kehebatan putri semata wayangnya yang ternyata begitu dekat dengan rakyatnya. Ini disimpulkannya ketika mereka selalu mendengar pujian akan kedekatan dan kehebatan Sang Putri dalam mendidik warga desa. Sang Putri Raja, Sipuk Singwangibakpandan benar-benar membanggakan Sang Baginda Raja dan Sang Permaisuri Kerajaan Nakurat. ***

     

     

    Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.