Mengikis Kegelapan - Fiksi - www.indonesiana.id
x

image: painting by Alain Amar

sucahyo adi swasono

Pegiat Komunitas Penegak Tatanan Seimbang (PTS); Call Center: 0856 172 7474
Bergabung Sejak: 26 Maret 2022

Minggu, 19 Juni 2022 05:59 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Mengikis Kegelapan

    Tentang sisi-sisi fakta fenomena hidup dalam kehidupan dengan tatanan timpang berselimutkan kegelapan, saatnya dikikis dan disingkirkan walau dengan sebersit cahaya pelita ...

    Dibaca : 721 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Memang sederhana kedengarannya, nampaknya, serasa dalam kalbu dan alam pikir, bagi yang mau berpikir dengan kejernihan. Bukankah pelita itu adalah lampu yang diharapkan cahayanya, meski berenergi bahan bakar minyak? Apalagi, di era yang boleh dibilang super modern yang serba canggih dengan teknologi serba digital elektrik bin komputerisasi di zaman yang bernama milenial ini? Begitu, bukan? Namun sejujurnya saja, meskipun sederhana atau dikata  jadul, akan menjadi amat berarti manakala dibutuhkan saat di sekitar tiba-tiba gelap, listrik padam! Kehadiran sebatang lilin, amat berarti tidak?

    Begitu pula halnya sisi-sisi kehidupan ini, sekecil apapun sebuah tindakan sebagai perwujudan yang bermula, yang didasari lantaran dari yang hakiki, kepastian hukum alam akan menampakkan hasil yang berdaya dan berhasil guna. Sebab apa? Tak teracuni oleh hal di luar yang semestinya, sepatutnya, pun asasinya. Murni, jujur, adil, seimbang, apa adanya, dan tanpa tedeng aling-aling. Hanya, dari manakah semua itu didapatkan? Dimanakah semua itu ditemukan? Sebuah tanya besar di sisi-sisi hidup dalam kehidupan yang fana ini ...

    Menyadari dengan sepenuh hati siapakah diri ini, sebagai yang paling asasi di keseluruhan sisi-sisi kehidupan, itulah yang semestinya, yang seharusnya. Bukankah hidup ini ada yang menciptakan, sekaligus ada yang menyelenggarakan? Ataukah, masih terbesrsit sebuah kegalauan dan keraguan bila hidup ini ada dengan sendirinya, tanpa ada yang menciptakan dan menyelenggarakan? Ujug-ujug, serta merta? Lantaran dilanda kesulitan serta menyaksikan kecarutmarutan tiada kunjung reda, dan tak menemukan jawabnya, kenapa?  Begitukah?

    Sahdan, sayup-sayup tertangkap olehku, sebuah timbal cakap antara sang senior dengan sang yunior dari sebelah rumah, saat di kampung kotaku mengalami listrik padam, dini hari.

    “Paman, aku pernah mendapatkan masukan dari sebuah narasi filsafat, “ ungkap sang yunior.

    “Bagaimana, narasi gamblangnya?” timpal sang senior.

    “Begini, ‘Guru, bolehkah aku bertanya tentang kematian? Sang guru pun menjawab lugas, bagaimana kita akan memperoleh pengertian tentang kematian, sementara kita masih belum memahami apa arti kehidupan?’ Maksudnya apa itu, paman?” sambung kata sang yunior. Sang senior diam sejenak, tak langsung sigap menimpali penuturan sang yunior.

    Udara dingin kian menusuk tulang, listrik padam tak kunjung tiba menyala. Aku kian penasaran untuk mengikuti arah perbincangan dua sosok manusia yang setidak-tidaknya adalah bagian dari kaum terpelajar, intelek. Kebetulan memang sebagai tetangga sebelah, sehingga aku tahu persis siapa dan keseharian mereka. Sang yunior adalah keponakan dari sang senior. Berasal dari desa sebuah kabupaten di luar provinsi. Datang ke kota ini, hidup serumah dengan keluarga pamannya lantaran dalam rangka menempuh studi di perguruan tinggi negeri ternama di kota ini. Dan, sang senior yang merupakan pamannya, adalah seorang dosen di perguruan tinggi yang sama dengan tempat sang yunior berstudi. Yang kutahu, sang senior adalah dosen filsafat, dan sang yunior adalah mahasiswa ilmu sosial dan ilmu politik, semester enam.

    “Apa yang mendorongmu, menanyakan narasi filsafat itu kepada paman, sebelum paman mengupasnya?” sang senior kembali balik bertanya.

    “Hanya karena saya sudah mulai tertarik, bahkan mulai keranjingan dengan materi filsafat yang konon adalah induk dari semua ilmu yang bertebaran di dunia ini. Terlebih lagi, setelah saya menempuh mata kuliah dasar umum, yakni filsafat ilmu. Kemudian, pada saat perantauan berpikir , saya pun akhirnya sampai meyembulkan tanya kepada diri sendiri untuk mengembangkan daya pikir diri ini, yakni, ‘Apakah hidup itu?’, yang kata teman-teman sesama mahasiswa bila pertanyaan saya itu adalah pertanyaaan filsafati,  sehingga membutuhkan jawaban filsafati pula,” jawab sang yunior dengan serius.

    “Jadi, itukah yang mendorongmu, apalagi kau pun tahu bila paman ini seorang dosen filsafat. Begitu, ya?”

    “Tepatnya begitu, paman. Karena, bukankah ada sebuah ungkapan bahwa segala sesuatu hendaknya diserahkan kepada ahlinya, agar menjadi pas bila ingin memperoleh kapasitas jawaban sesuai dengan ranahnya dari yang berkompeten  dan berkemampuan atas bidangnya?”

    “Baiklah. Mari kita kupas narasi filsafat yang telah kamu dapatkan itu.”

    “Namun paman, paman tak harus mengupasnya saat ini, sebab nanti saya ada kuliah pada jam 07:00, apalagi, listrik sudah menyala, pemadaman telah berakhir. Saya kuatir nanti bergulat dengan ngantuk di kelas, paman. Bagaimana?”

    “Baiklah, mari kita rehat dulu, masih ada hari esok ...”

    Lengang akibat listrik padam pun berpendar, memecah suasana gulita. Akupun harus bisa menerima untuk berhenti menguping pembicaraan dua sosok manusia senior dan yunior intelek yang telah bercengkerama ilmiah, menurut penilaianku yang tak kesampaian menjadi seperti mereka karena tersandung faktor ekonomi, soal biaya untuk bisa seperti mereka. Sekolahku hanya berakhir di SMK, setelah itu aku harus bekerja sebagai buruh pabrik, demi kelangsungan hidup keluargaku agar bisa bertahan hidup meski terhimpit oleh ekonomi yang kurang beruntung, tak seperti mereka.

    *****

    “Narasi fisafat itu, simpelnya, mengisyaratkan kepada kita, bahwa kematian adalah urusan atau prerogratifnya Sang Pencipta. Kita manusia takkan pernah tahu kapan saat ajal tiba. Pun demikian, bagaimana gambaran proses kematian itu dipampangkan. Tak ada satupun manusia yang tahu dan diberi tahu oleh Sang Pencipta kehidupan dan kematian,” kata sang senior mengawali ulasannya sore ini.

    “Jikalau ada yang bertutur mengemukakan gambaran proses kematian, bahkan tentang situasi dan kondisi alam pasca kematian yang sedemikian rupa, maka nalar kita harus berani memutus bahwa hal itu tak lebih dari mitos yang akan melemahkan akal sehat kita sebagai manusia. Sadarilah hal itu!” lanjut sang senior menandaskan bicaranya.

    Pembicaraan mengalami jeda sejenak karena kehadiranku bertandang ke rumah pak dosen itu. Sengaja aku bertandang ke rumah pak dosen sebagai tetangga sebelah, lantaran terdorong oleh rasa penasaranku yang masih bergayut, setelah menguping pembicaraan mereka berdua semalam yang belum berlanjut.

    “Permisi, maaf pak, saya mengganggu ya?” ucap kataku mengawali saat bertandang ke rumah pak dosen.

    “Oh, mas Budi, gak apa-apa, kami sedang ngobrol santai dengan si Arman, koq. Silakan duduk, ayo kita bergabung,” sambut pak dosen dengan ramah.

    “Tumben, mas Budi?” Sahut sang yunior, si Arman, turut menimpali dengan ramah pula.

    “Ya, mas Arman, ini pas lagi dapat shift malam nanti di pabrik. Daripada bengong di rumah, saya gunakan ke sini saja, gabung ngobrol,” jawabku rileks.

    “Kopi ya, mas Budi?” kata Arman menawarkan minuman suguhan kepadaku.

    “Boleh, agak pahit ya?” pintaku kepada Arman.

    “OK, beres mas ...” jawab Arman sembari masuk ke dalam rumah, untuk membuatkan kopi pahit seleraku.

    Ngobrol bertiga di teras rumah pak dosen tetangga sebelah, bersuguhkan wedang kopi plus ketela ungu rebus, menjadi gayeng. Keguyuban, keakraban bertentangga pun terasa sekali.

    “Kita lanjutkan bincang kita tadi, mumpung ada mas Budi yang hadir nimbrung di sini,” kata pak dosen melanjutkan perbincangannya.

    “Dengan demikian, maka kita sebagai manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Segala, sudah sepatut dan selayaknya tunduk dan patuh terhadap apa yang menjadi ketentuan dari Tuhan Semesta Alam. Sebab, tidaklah diciptakan jin dan manusia, kecuali hanya sebagai abdi, sebagai hamba Tuhan di muka bumi. Kesemuanya, harus selaras dengan tatanan kehidupan seimbang yang sudah menjadi ketentuan-Nya. Silakan diamati dan dicermati, adakah ciptaan Tuhan yang tidak mengarah kepada prinsip-prinsip keseimbangan serta universal?” kata pak dosen yang begitu gamblang dengan bahasa yang sederhana dan gampang dimengerti.

    “Oleh karenanya, kecarutmarutan kehidupan manusia saat ini, atau dengan kata lain, terjadinya ketimpangan di keseluruhan aspek hidup dalam tatanannya, adalah sebagai akibat betapa manusia telah menjalani hidup tak seimbang, hanya menuruti nafsu kemauannya sendiri yang maha subjektif, lepas dari ketentuan Tuhan dalam prinsip-prinsip keseimbangan yang universal.” Sambung kata pak dosen.

    “Lalu, apa kesinambungannya dengan narasi filsafat itu, paman? Yakni, tentang kehidupan dan kematian?” sela Arman bertanya kepada pak dosen.

    “Artinya, kewajiban kita sebagai hamba Tuhan adalah tentang hidup dengan segala aspeknya, menghadapi fakta hidup yang sesungguhnya ini secara realistis, logis, dan berpedoman kepada ketentuan-Nya, tanpa mengada-ada. Sehingga untuk apa kita berhalusinasi terhadap kematian yang merupakan kepastian dari Tuhan atas segala mahluk hidup ciptaan-Nya, tak terkecuali terhadap kita manusia? Sementara makna hidup yang sesungguhnya menurut ketentuan Tuhan belum kita dapatkan esensinya? Dunia adalah cermin dari akhirat. Akhir perjalanan hidup kita ini ditentukan oleh jalannya hidup yang kita jalani. Apakah sudah selaras dengan ketentuan Tuhan tentang hidup seimbang menurut maunya Tuhan? Karena, kematian adalah sebuah otomatisasi yang tidaklah mungkin ditawar lagi sebagai kepastian dari Tuhan atas ciptaan-Nya.” Jawab pak dosen terhadap pertanyaan Arman.

    “Lanjut, paman ...,” tukas Arman.

    “Keseimbangan yang dimaksudkan di sini adalah, bagaimana harmonisasi dalam memperlakukan diri sendiri, keluarga, masyarakat, lingkungan dan negara dengan prinsip-prinsip keseimbangan. Dan, perlu disadari, bahwa ketimpangan tatanan hidup saat ini, yang tengah kita hadapi di keseluruhan aspek hidup saat ini, simpelnya, adalah produk dan praktik dari sebuah kegelapan.”

    “Maksudnya, paman?” tanya Arman dengan antusias sekali.

    “Kegelapan adalah majas dari penyimpangan praktik hidup atas ketentuan Tuhan yang melahirkan disharmonisasi di keseluruhan aspek hidup manusia. Itulah esensi kehidupan saat ini. Dan, sejarah kehidupan para Nabi atau Rasul sebagai utusan Tuhan dengan keteladanannya, adalah jawaban terhadap tatanan kehidupan manusia yang telah timpang, rusaknya tatanan seimbang universal ketentuan Tuhan. Sementara, sepeninggal Muhammad beserta para pendukung tatanan hidup seimbang, Tuhan sudah tak mengutus seorang Nabi atau Rasul lagi ..., ” jelas pak dosen.

    “Lantas, bagaimana seharusnya kita saat ini, paman?” tanya Arman lagi.

    “Silakan mendayagunakan kecerdasan akal sehat kita sebagai karunia Tuhan, dengan mengkaji sejarah para Nabi atau Rasul sebagai patron kehidupan manusia, sebagaimana yang telah tertoreh dalam dokumen sejarah peradaban manusia, yang massal manusia menyebutnya sebagai kitab suci, untuk diadopsi dan selanjutnya kita praktikkan dalam tindak nyata dalam rangka menuju tatanan hidup seimbang menurut ketentuan Tuhan di keseluruhan aspek hidup ini.” Ungkap pak dosen menutup perbincangannya dengan Arman yang kusaksikan sendiri sebagai pendengar dan mencermati setiap apa yang diulas oleh sang senior, pak dosen tetangga sebelah rumahku.

    Senja mulai menapak, matahari beranjak menuju ke peraduannya, memasuki saat maghrib tiba. Aku pun pamit untuk beranjak pulang ke rumah kepada sang senior dan sang yunior dengan sejumput rasa gembira bercampur sedih. Gembira lantaran telah memperoleh pencerahan yang boleh jadi kusebut sebagai kuliah terbuka di teras rumah pak dosen, gratis tak berbiaya. Sedih, setelah mencermati ulasan pak dosen yang menyiratkan tentang betapa kehidupan saat ini masih sarat oleh ketimpangan, jauh dari tatanan seimbang universal menurut ketentuan Tuhan, dan hal itu memang kurasakan jua. Aku pun sudah mulai berani untuk berkesimpulan setelah mencermati obrolan mereka, bahwa saat ini adalah saatnya mengikis kegelapan. Semoga!

     

    Kota Malang, Juni hari kedelapan belas, Dua ribu dua puluh dua, 

    "Menuju secercah cahaya keseimbangan, mengikis kegelapan ..."

    Ikuti tulisan menarik sucahyo adi swasono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.