Revolusi Kaum Napi - Perjalanan Hidup Anton Medan Dari Seorang Kriminal Menjadi Pendakwah - Hiburan - www.indonesiana.id
x

cover buku Revolusi Kaum Napi

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 20 Juni 2022 09:53 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Revolusi Kaum Napi - Perjalanan Hidup Anton Medan Dari Seorang Kriminal Menjadi Pendakwah

    Kekerasan dalam keluarga oleh ibunya dan penolakan membuat Anton Medan menjadi seorang kriminal. Namun cinta kasih dalam penjara membawanya menjadi seorang pendakwah.

    Dibaca : 727 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Revolusi Kaum Napi – Catatan Kesaksian Anton Medan

    Penulis: Kafil Yamin

    Tahun Terbit: 2004

    Penerbit: Matahari Media Komunika

    Tebal: xvi + 219

    ISBN:

     

    Ada orang yang punya kehidupan begitu berliku dan penuh gejolak. Contohnya adalah Anton Medan alias Tan Hok Liang  (Chen Kok Lien). Anton Medan tumbuh dari keluarga cina miskin. Bahkan sangat miskin. Tetapi ia pernah menjadi orang yang sangat kaya. Anton Medan dikenal sebagai penjahat kelas kakap, tetapi juga sebagai seorang mubaliq yang sangat religius. Anton Medan adalah orang tak berpendidikan. SD saja ia tidak selesai tetapi dia menjadi rekan para petinggi dan menjadi saksi peristiwa-peristiwa besar bangsa ini.

    Kehidupan keras Anton Medan diawali saat ia masih kanak-kanak. Kekerasan oleh ibunya dan penolakan oleh keluarganya membuat Hok Liang menjadi kriminal.

    Perampokan yang melanda keluarganya sesaat sebelum mereka pulang ke Tiongkok akibat PP10, menyebabkan keluarganya gagal pulang ke Tiongkok dan hidup dalam kemiskinan. Kemiskinan yang datang tiba-tiba membuat ibunya frustasi. Kefrustasian sang ibu dilimpahkan kepada Tan Hok Liang yang saat itu masih kecil. Tak Hok Lian mengalami penyiksaan oleh ibunya. Apapun yang dilakukan oleh Tan Hok Lian tidak pernah benar dihadapan sang Ibu.

    Akibat dari penyiksaan lahir bantin ini membuat Hok Liang lari dari rumah. Mula-mula ia berkeliaran di Terminal Tebing Tinggi. Orang-orang terminal terkejut ada anak cina yang bekerja sebagai pencuci bus. Hok Liang bekerja rajin. Penghasilannya sebagian dikirimkan ke keluarganya. Pergaulan terminal membuatnya mengenal perilaku seks bebas di umur yang baru 13 tahun. Sebuah peristiwa perkelahian dengan seorang sopir membuatnya ditangkap polisi. Ia melarikan diri dari tahanan polisi karena merasa dijadikan tontonan saat ditahan.

    Kehidupan Hok Liang tidak jauh dari terminal. Setelah meninggalkan Tebing Tinggi ia hidup menggelandang di Terminal Medan. Ia masih tetap rajin bekerja dan mengirimkan hasil kerjanya kepada keluarganya. Kehidupan Terminal Medan lebih keras. Di terminal inilah Hok Liang terlibat perkelahian yang menyebabkan lawannya mati. Hok Liang dipenjara selama 4 tahun. Setelah bebas, Hok Liang pulang ke keluarganya. Bukannya diterima, Hok Liang malah diminta untuk meninggalkan keluarganya. Keluarganya malu mempunyai anak seorang pembunuh.

    Maka Hok Liang pun berangkat ke Jakarta untuk mengadu nasip. Ia berupaya mencari pamannya yang membuka restoran di Blok M. Sang Paman sangat mengasihinya saat ia kecil. Ia berharap bahwa Sang Paman akan memberikan tempat dan pekerjaan di Jakarta. Namun sayang, setelah berminggu-minggu menggelandang untuk mencari alamat Sang Paman, Hok Liang harus menerima kenyataan ditolak oleh Sang Paman.

    Maka Hok Liang kembali ke jalanan. Karena lapar dan tidak mempunyai keahlian, Hok Liang menjadi preman. Mula-mula ia menjadi penodong dan penjambret. Lama-lama ia menjadi perampok profesional. Ia tak pernah tertangkap polisi.

    Saat menjadi perampok di Jakarta inilah ia mulai mendapatkan julukan Anton Medan. Nama Anton sendiri sebenarnya adalah nama seorang anak kecil yang ditinggal ibunya di bengkel dimana Hok Liang bekerja. Karena nasip Anton sama dengan nasipnya yang dibuang oleh keluarga, maka sejak itu Hok Liang dipanggil dengan nama Anton Medan. Nama inilah yang kemudian melekat kepadanya dan dikenal luas oleh khalayak.

    Anton Medan kembali berurusan dengan polisi saat membela keluarganya yang diserang preman. Anton Medan bersedia menyerahkan diri supaya abangnya dibebaskan. Ia dipenjara selama 7 bulan di Medan. Namun setelah tiga bulan dalam penjara, ia melarikan diri dari penjara dan kembali ke Jakarta.

    Reputasi Anton Medan dalam kejahatan semakin berkibar. Bukan hanya sebagai perampok, Anton Medan juga mulai berjualan narkoba.

    Lelah karena diburu polisi terus menerus, Anton Medan merancang penyerahan diri. Ia menimbun hasil rampokan. Ia mengelabuhi polisi bahwa hasil rampokannya telah habis di meja judi bersama seorang perempuan. Padahal ia menyimpan hasil rampokannya untuk keluarga barunya. Ia telah memiliki anak kembar saat ia memilih untuk menyerahkan diri. Ia dipenjara selama 12,5 tahun. Namun hanya menjalaninya selama 6 tahun saja. Anton Medan mendapatkan banyak remisi karena berkelakuan baik saat di penjara dan menyuap sana-sini.

    Namun ia begitu kecewa karena ternyata 5 kg emas yang disembunyikan di makam mertuanya sudah diambil oleh abangnya. Sementara istrinya hanya mendapatkan 250 gram saja. Peristiwa ini membuat Anton Medan semakin terluka atas perlakuan kelaurganya.

    Selepas dari penjara Anton Medan bekerjasama dengan polisi untuk memberantas perjudian. Ia berhasil memporak-porandakan judi yang diselenggarakan oleh seorang tionghoa dengan beking polisi. Melihat bahwa usaha judi sangat menjanjikan dalam menumpuk kekayaan, Anton Medan malah terjerumus dalam bisnis judi. Anton Medan menjadi penyelenggara judi.

    Pertobatan Anton Medan terjadi secara gradual. Ia menjadi Islam saat menikahi Siti Khadijah yang menjadi ibu dari anak-anaknya. Ia menikah secara Islam karena itulah syarat yang ditetapkan oleh orangtua sang gadis. Anton Medan memilih nama Effendi saat mengucapkan Kalimat Sahadat. Namun keislaman Anton Medan belumlah sungguh-sungguh.

    Baru saat dipenjara Kuninganlah ia mulai mempelajari Islam secara sungguh-sungguh. Sebenarnya Anton Medan tidak hanya berjumpa dengan Islam saat di penjara. Ia berjumpa dengan Budha dan Kristen. Namun pertemuannya dengan Tony Ardhielah yang membuatnya sungguh-sungguh mempelajari Islam. Ia kagum dengan kehidupan Tony yang masih muda tetapi dipatuhi oleh banyak tahanan. Pada tahun 1992, Tan Hok Liang mantap menjadi seorang Islam dengan nama Muhammad Ramadhan Effendi.

    Pertobatannya semakin mantap saat ia bertemu dengan Zainuddin MZ. Sejak bertemu dengan Zainuddin MZ, Anton Medan sering diajak untuk berdakwah. Tentu Anton Medan tidak membeberkan dalil-dalil agama. Ia hanya menyaksikan pertobatannya dari seorang kriminal menjadi seorang Muslim.

    Selain menjadi pendakwah, Muhammad Effendi mendirikan pesantren untuk membina mantan napi. Ia membangun pesantren di wilayah Puncak untuk menampung para mantan napi yang ingin memperbaiki hidupnya.

    Selain berkisah tentang kehidupan Anton Medan dari seorang kriminal menjadi seorang pendakwah, buku ini juga menjelaskan keterlibatan Anton Medan pada berbagai peristiwa. Peristiwa Mei 1998, pelarian Tommy Suharto adalah dua peristiwa dimana Anton Medan terlibat di dalamnya. Anton Medan ditawari oleh seorang petinggi militer untuk menggerakkan kerusuhan anti cina. Namun dia menolak. Anton Medan malah mengerahkan anak buahnya untuk melindungi tempat-tempat penting warga keturunan yang dijadikan sasaran kerusuhan.

    Tentang Tommy Suharto dan Bob Hasan, Anton Medan menyampaikan ancaman para napi yang ada di dalam penjara yang akan menghabisi keduanya. Tommy yang akan dipenjara di LP Cipinang akan dihabisi. Itulah sebabnya Tommy melarikan diri. Sedangkan Bob Hasan, para napi meminta supaya Bob Hasan dipenjara di Nusakambangan. Permintaan para napi ini dikabulkan oleh Jaksa Agung Baharuddin Lopa. 682

     

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.