Hadi Tjahjanto Dipercaya Joko Widodo Sejak Bertemu di Solo - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Presiden Joko Widodo (kanan) menjamu Panglima TNI (saat itu) Marsekal Hadi Tjahjanto di Istana Bogor, 14 Desember 2017. Pada 2022, setelah pensiun dari dinas kemiliteran, Hadi Tjahjanto diangkat Jokowi menjadi Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional. Foto: Tempo/Amirullah Suhada.

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 21 Juni 2022 09:52 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Hadi Tjahjanto Dipercaya Joko Widodo Sejak Bertemu di Solo

    Hadi Tjahjanto adalah tipe pekerja keras. Dia tak mengeluh meski seakan karir berjalan lambat. Namun kesungguhannya bekerja akhirnya mendapatkan penghargaan dari seorang teman yang mempercayainya. Semua bermula dari kepindahan tugasnya dari Skuadron 4 Abdulrachman Saleh (Malang) untuk menjadi Komandan Lapangan Udara Adi Sumarmo. Di kota Solo inilah dia bertemu Joko Widodo yang kelak menjadi Presiden RI. Lalu kisahnya pun bergulir menuju puncak karirnya.

    Dibaca : 577 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Anak Sersan Jadi Panglima

    Judul: Anak Sersan Jadi Panglima

    Penulis: Eddy Suprapto

    Tahun Terbit: 2018 (cetakan kedua)

    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

    Tebal: viii + 172 + halaman foto

    ISBN: 978-602-03-8097-1

     

    Hadi Tjahjanto adalah tipe pekerja keras tanpa mengeluh meski seakan karir berjalan lambat. Namun kesungguhannya bekerja akhirnya mendapatkan penghargaan dari seorang teman yang mempercayainya. Hadi Tjahjanto, si anak kolong yang karirnya seakan pupus. Ia terlalu lama berada di Skuadron 4 Abdulrachman Saleh sebelum pindah ke Solo sebagai Komandan Lapangan Udara Adi Sumarmo. Saat di Solo inilah ia bertemu dengan Joko Widodo yang kelak menjadi Presiden RI. Tak dinyana tak disangka, ternyata ia dipercaya oleh Presiden Joko Widodo sebagai Panglima TNI. Bahkan kini setelah purna, Hadi Tjahjanto masih diberi kepercayaan sebagai menteri.

    Buku ini mengisahkan perjalanan karir Hadi Tjahjanto sebagai seorang anak seorang Sersan di Angkatan Udara sampai menjadi Panglima TNI. Uraian secara kronologis yang dipilih oleh Eddy Suprapto membuat perjalanan hidup Sang Tokoh menjadi mudah untuk diikuti.

    Hadi Tjahjanto lahir pada tanggal 8 November 1963 dari pasangan Bambang Sudarto dengan Saa’dah. Hadi Tjahjanto beserta keempat adiknya dibesarkan di komplek perumahan PAGAS (Pancar Gas, atau jet tempur) Lapangan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh Malang). Sang Ayah memang bertugas sebagai mekanik pesawat tempur di Lanud Abdulrachman Saleh. Sedangkan ibunya harus membantu ekonomi keluarga dengan berjualan makanan. Hadi Tjahjanto kecil sering membantu mengantarkan dagangan sang ibu kepada para langganan. Kadang-kadang Hadi juga menjadi caddy di lapangan golf dekat bandara.

    Hadi Tjahjanto menghabiskan masa kecilnya di komplek tersebut sampai dengan SMA. Saat SMA ia mengikuti seleksi calon tentara. Sebenarnya cukup banyak lulusan SMA sebayanya dari kompleks tersebut yang mengikuti seleksi. Namun hanya sedikit yang lolos sampai ke Magelang.

    Cita-citanya untuk menjadi tentara berkembang karena sering menemani sang ayah di hangar pesawat. Hadi kecil sangat terkesan dengan cerita tentang Komodor Leo Wattimena, seorang penerbang yang luar biasa. Sejak mengagumi Leo Wattimena, Hadi Tjahjanto semakin rajin belajar dan berolah raga. Ia benar-benar menyiapkan diri supaya bisa lolos seleksi taruna.

    Sebagai seorang pemuda normal, Hadi juga tertarik pada lawan jenis saat SMA. Ia memacari Nanik, seorang gadis yang masih SMP. Nanik adalah anak seorang polisi. Awalnya orangtua Nanik menentang hubungan ini. Sebab keduanya masih kecil dan belum pantas berpacaran. Namun usaha Hadi dan Nanik akhirnya berakhir manis di pelaminan. Naniklah yang menjadi pendamping Hadi satu-satunya.

    Kepemimpinan Hadi sudah mulai muncul. Ia terpilih sebagai anggota Dewan Musyawarah Taruna (Demustar). Demustar adalah para taruna terpilih dan mempunyai tugas untuk mengkoordinir pada taruna. Kepemimpinan Hadi di kalangan taruna semakin menonjol. Setelah tingkat empat, ia melepaskan jabatan Demustar karena ia menjadi Komandan Resimen Korps (Danmenkor). Ia juga menjadi anggota Dewan Pertimbangan Korps Taruna (Wantimkotar).

    Setelah lulus dari sekolah taruna, Hadi mendapatkan pelatihan terbang dengan pesawat latih sampai dengan pelatihan menjadi pilot pesawat komersial, sebelum berlatih mengemudi pesawat tempur. Ia menjadi bagian dari Skuadron 4 di Lanud Abdulrachman Saleh Malang. Ia pulang kampung. Ia tak patah semangat saat teman-temannya telah mendapatkan kepercayaan untuk menerbangan pesawat yang lebih besar seperti Hercules, sementara ia msendiri masih tetap bertugas menerbangkan pesawat kecil. Alih-alih menjadi frustasi, kesempatan tersebut justru dipakainya untuk belajar. Hadi sangat intensif membaca buku.

    Kepandaiannya menerbangkan pesawat membuat Hadi ditugaskan untuk menjadi pilot pengganti saat terjadi pemogokan pilot sipil. Ia mengawaki pesawat Deraya Air Service. Saat bertugas di Papua, ia pernah mengalami pesawatnya tertembak.

    Hadi juga pernah ditugaskan untuk melakukan pemotretan di wilayah musuh di Aceh.

    Saat berpangkat Kapten, Hadi mendapatkan kesempatan untuk  mengikuti Sekolah Komando Kesatuan Angkatan Udara (Sekkau). Tak lama kemudian ia juga mendapat kesempatan untuk mengikuti sekolah calon instruktur penerbangan di Jogja.

    Saat ia menyandang pangkat Mayor, ia berkesempatan belajar ke Perancis. Saat di Perancis inilah Hadi mengembangkan jaringan dengan sesama militer dari berbagai negara. Sepulang dari Perancis, seharusnya Hadi mendapat posisi sebagai Komandan Skuadron. Namun jabatan itu tidak didapatkannya. Ia malah kembali ke Jogja menjadi Pjs Kepala Personalia di Lanud Adi Sucipto. Setelahnya Hadi diminta untuk menjadi penerbang penyemprot hama sebelum dipindahkan kembali ke Malang sebagai Kepala Personalia.

    Baru pada tahun 2009 Hadi mendapatkan jabatan sebagai Komandan Lapangan Udara Adi Sumarmo di Solo. Inilah titik balik karirnya bermula. Di Solo ia bertemu dengan Joko Widodo yang saat itu menjadi Walikota Solo. Pertemuannya dengan Joko Widodo adalah dalam rangka membahas Bus Kota (Batik Trans) masuk bandara. Perjumpaan ini kelak berlanjut dengan bertemunya Hadi Tjahjanto dengan Presiden Joko Widodo saat Hadi menjabat sebagai Danlanud.

    Sempat menduduki beberapa jabatan di Mabes, Hadi Tjahjanto akhirnya kembali ke Malang sebagai Komandan Lapangan Udara Abdulrachman Saleh. Saat menjabat sebagai Danlanud Abdulrachman Saleh, sekali lagi ia bertemu Joko Widodo yang saat itu sudah menjadi Presiden RI. Sejak itu karir militer Hadi berubah menjadi lancar sampai menjadi Panglima TNI.

    Pemilihan Hadi Tjahjanto menjadi Panglima TNI tentu bukan dilakukan secara sembarangan. Presiden Joko Widodo tentu tidak asal pilih. Perjumpaan Joko Widodo dengan Hadi Tjahjanto di masa lalu, khususnya saat di Solo telah menumbuhkan kepercayaan pada Joko Widodo. Hadi Tjahjanto memiliki segudang pengalaman praktis di sepanjang karirnya yang sepertinya lambat yang sangat berguna baginya sebagai seorang Panglima. Sebab dari pengalaman tersebut Hadi Tjahjanto bisa merasakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh para prajurit.

    Kini, saat Hadi Tjahjanto sudah pensiun, Presiden Joko Widodo masih memberi kepercayaan kepadanya untuk menjadi seorang menteri. Hadi Tjahjanto diangkat menjadi Menteri ATR/BPN.

    Selamat buat Pak Hadi Tjahjanto, seorang anak sersan yang jadi Panglima. Sekarang malah jadi Menteri. 683

     

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.