Jangan Remehkan Imajinasi dan Burung saat Berteknologi - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Imajinasi dan Penemuan. Ilustrasi oleh Darkmoon Art di Pixabay.com

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Rabu, 22 Juni 2022 20:28 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Jangan Remehkan Imajinasi dan Burung saat Berteknologi

    Imajinasi dan burung, adakah pertaliannya? Ada setidaknya pernah ditunjukkan oleh Leonardo dan Vinci. Imajinasinya melalui sketsa tentang “terbang” sudah mencakup: konsep pesawat terbang, model sayap, pengukur kecepatan dan arah angin hingga instrumen-instrumen. Pemikiran Leonardo tentang “terbang” ini terkumpul dalam Codex “On the Flight of Birds”.

    Dibaca : 555 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Siswa kelas I jenjang SD itu turun dari mobil dan diantar Ibunya hingga ke gerbang ke sekolah. Seperti biasa, ia disambut Ibu gurunya yang ramah. Anak tersebut disapa lalu dibimbingnya memasuki kelas. Melewati area lapangan basket, anak tersebut diledek oleh teman lainnya yang sedang bermain basket.

    Saat rehat, anak “manja” berkulit putih ini tidak ke kantin, tapi ke perpustakaan. Sementara teman-temannya, yang berkulit hitam,  tetap giat di lapangan basket.

    Di perpustakaan inilah, si anak manja ini menemukan sejumlah karya Leonardo da Vinchi. Ia baca dan coba memahami semua coretan sketsa dari pelukis yang kondang dengan lukisan Monalisa itu. 

    Hal yang menarik dari temuannya adalah bahwa Leonardo Da Vinchi ternyata pernah menggagas dan berimajinasi tentang pesawat terbang. Inilah yang kelak, saat dewasa bacaannya membuat ia menjelajah dan berselancar tentang pesawat terbang.

    Potongan cerita tersebut sangat mengesankan, saat pada tahun 2000-an menonton film sains bertajuk Adreneline di teater Imax Keong Emas Taman Mini Indonesia Indah Jakarta.

    Imajinasi

    Temuan bacaan siswa tadi, di perpustakaan yang koleksinya digambarkan dalam film tersebut sangat lengkap, menemukan jejak kiprah ilmuwan yang pelukis Leonardo da Vinci.

    Imajinasi Leonardo melalui sketsa tentang “terbang” mencakup: konsep pesawat terbang, model sayap, pengukur kecepatan dan arah angin hingga instrumen-instrumen.  Pemikiran Leonardo tentang “terbang” ini terkumpul dalam Codex “On the Flight of Birds” yang disimpan di Biblioteca Reale Turin, Italia dan Codices of the Institut de France di Paris, Perancis. Gagasan Leonardo itu sebagian besar telah dituangkan dalam bentuk replika di National Museum of Science and Technology Leonardo da Vinci di Milan, Italia.  

    Dalam banyak dokumennya, ia menyertakan tulisan-tulisan yang ditulis secara terbalik (mirror image writing)—salah satu keistimewaan seorang dyslexic—yang menjelaskan arti atau kegunaan alat/instrumen yang digambarnya.

    Apa saja gagasan Leonardo Da Vinci dalam mewujudkan impian agar manusia dapat terbang sebagaimana burung di udara?  

    • Pertama, Flying Ship.   Ini merupakan kapal terbang kecil yang dilengkapi dengan sayap dan helm.   Kursi penerbangnya terletak di dalam cerukan berbentuk setengah tabung. Di dalamnya berisi semua sistem mekanis (screws, nut dan crank) yang mengendalikan dua sayap yang mirip sayap kelelawar.  

    Gambar kapal terbang ini tidak disertai catatan Leonardo. Pengamat memperikirakan sketsa tersebut dibuat antara tahun 1486 dan 1490.   Gambar ini menarik karena untuk pertama kalinya gambar ini menjelaskan adanya bidang ekor yang besar untuk memberi kestabilan terbang dan mendarat serta adanya bentuk badan.   Sayap dioperasikan dengan alat berupa screw dan nut-screw yang dirancang khusus untuk mengurangi stress dan terletak di pegangan tangan serta digerakkan oleh dua orang sebagai awak pesawatnya.

    • Kedua, Struktur Sayap.   Studi tentang struktur sayap menandai momen penting dan kritis bagi pencarian Leonardo untuk merancang sebuah mesin yang dapat menerbangkan manusia.   Sayap ini, dengan ruas-ruas dan pelapisnya, terbuat dari poros kayu dengan roda penggerak kayu di bagian depannya.
    • Ketiga, Articulated Wing.   Da Vinci merancang sayap buatan ini dilengkapi dengan mekanisme hambat dan puntir di bagian luarnya, dalam usahanya untuk secara sempurna menghasilkan struktur sebuah sayap burung.   Tujuan alat ini adalah untuk menjamin gerakan balik yang otomatis dari sayap yang dilenturkan.   Perhatian khusus diberikan dalam hal pegas dan sendi-sendi yang menghubungkan bagian-bagian berbeda dari sayap tersebut.
    • Keempat, Parasut.   Dalam catatannya, Leonardo menjelaskan bahwa dengan kain yang dibentuk piramid dengan panjang rusuk 12 yard (sekitar 7 meter) menyilang dan sama panjang, bila tetap dalam keadaan terbuka, siapa saja dapat melompat dari ketinggian berapapun tanpa resiko sama sekali.
    • Kelima, Glider dengan Manoeuverable Tips.   Ketika merasakan sulitnya mewujudkan impian terbang dengan mesin bertenaga manusia, DaVinci  mulai mempelajari gliding flight (terbang meluncur tanpa mesin).   Dalam pesawat glider rancangannya, posisi penerbang diandaikan sedemikian rupa sehingga ia mudah menyeimbangkan dirinya dengan menggerakkan bagian bawah tubuh secukupnya.  

    Sayap glider ini, yang merupakan tiruan dari sayap kelelawar dan burung-burung besar, dipasangkan di bagian terdalam dan dapat bergerak bebas di bagian luarnya.   Bagian luar ini bahkan dapat  ditekuk oleh si penerbang dengan kabel yang digerakkan melalui beberapa pegangan.  

    Da Vinci mengembangkan solusi ini setelah mempelajari struktur sayap burung dan mengamati bahwa bagian dalam sayap mereka bergerak lebih lambat daripada bagian luarnya dan oleh karenanya bagian ini berfungsi lebih untuk bertahan (tetap mengudara) daripada sekedar mendorong ke depan.

    • Keenam, Anemometer.  Salah satu dari dua jenis anemometer yang digambar Leonardo adalah sebuah rancangan sederhana.   Terbuat dari rangka kayu bergerigi dengan bilah yang digerakkan oleh angin sehingga menunjukkan arah angin tersebut.   Alat ini dirancang untuk mempelajari kondisi cuaca, dengan tujuan menambah tingkat keamanan penerbangan.
    • Ketujuh, Inclinometer.  Alat ini digunakan untuk mengetahui posisi mesin terbang saat di udara. Ini bertujuan agar mesin terbang mencapai posisi horisontal pada kondisi terbang tertentu, bola kecil dalam tabung berbentuk loceng harus berada tepat di tengah-tengah alat ini.   Kaca lonceng ini adalah untuk mencegah angin agar tak mempengaruhi bola.
    • Kedelapan, Aerial Screw.   Sekrup Terbang  atau Aerial Screw jika dibuat dengan benar (dibuat dari kain (linen), pori-pori yang tertutup oleh kanji), maka bila alat ini diputar dengan cepat, sekrupnya akan mengaitkan gigi-giginya ketika berada di udara dan akan bergerak ke atas di ketinggian).   Ini adalah salah satu gambar Leonardo yang terkenal.  

    Beberapa ahli menyebutnya sebagai “nenek moyang” helikopter.   Satu-satunya gambar yang mengikuti catatan Leonardo adalah sketsa sebuah sekrup terbang dengan diameter 5 meter, terbuat dari serat tipis, kain linen dan kabel, (diperkirakan) digerakkan oleh empat orang yang mungkin saja berdiri di bagian tengah dan menghasilkan tekanan pada batang-batang di depannya dengan tangan mereka, sehingga membuat porosnya berputar.   Jadi, mesin yang kemudian dirancang ini kemungkinan tidak pernah terangkat atau digerakkan dari tanah.

    Burung

    Keberadaan burung ternyata mampu menginspirasi baik dari sosok maupun kepiawaian burung, ketika para ahli Aeronautika mencari model atau prototipe desain peswat terbangnya.

    Pernah melihat bagaimana burung elang ketika menerkam mangsanya? Ia akan menukik.  Perludicatat, kecepatan elang saat menukik bisa mencapai 290 kilometer per jam. Setelah mendapatkan sasarannya, elang akan terbang lagi sambil memegang mangsanya di kaki.

    Pesawat pengebom pun,  akan menukik mendekati area yang akan diserang. Setelah berhasil melepaskan bom, pesawat akan melesat lagi menjauhi tempat yang sudah dibom. Cara terbang pesawat ini sangat mirip dengan cara terbang elang.

    Lalu, tahukan Anda dengan pembuatan helikopter?  Sebagai  jenis pesawat yang bisa terbang sambil diam di tempat, ternyata diinspirasi oleh caraterbang kolibri.

    Baca juga https://tekno.tempo.co/read/1546600/kolibri-burung-mungil-ini-mampu-terbang-mundur-dalam-waktu-yang-lama

    Saat mengisap madu, burung kolibri akan mengepakan sayap dengan cepat.  Jadi, ia bisa terbang di tempat sambil mengisap madu di dalam bunga. Burung kolibri biasanya makan sebanyak 50 – 60 kali sehari, karena terbang sambil diam di tempat sangat menguras tenaga.

    Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.