Hidup Adalah Menari di Bawah Hujan - Analisis - www.indonesiana.id
x

Dara, seorang gadis belasan tahun, menikmati bidadari yang gembira menari dengan latar alam indah yang padat dengan pepohonan.

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Rabu, 22 Juni 2022 08:13 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Hidup Adalah Menari di Bawah Hujan

    Pandemi ini membawa banyak kesulitan, termasuk kesulitan eknomi dan psikis. Bagaimana mengatasinya? Paling tidak ada tiga cara. Sila ikuti terus.

    Dibaca : 463 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

    Hidup adalah menari di bawah hujan? Apa maksudnya?  Ini adalah metafora.  Life isn’t about waiting for the storm to pass, it is about learning to dance in the rain. (Seneca).  Hidup bukan menunggu badai reda, tapi belajar berdansa di bawah hujan”.  Demikian kata mutiara Seneca, atau dalam bahasa Prancis Sénéque, seorang filosof Romawi yang pernah menjadi penasehat kaisar Nero dari tahun 54 AD - 62 AD.    Mari kita bahas.

    Kalimat bijak Seneca ini sangat relevan dengan situasi kekinian tatkala ekonomi dunia sedang mengalami resesi gara gara Covid 19.  Hampir seluruh sektor ekonomi terpukul berat.  Ratusan juta manusia mengalami kerugian yang tidak sedikit dan bahkan kehilangan pekerjaan.    Sampai saat ini sudah setengah tahun lebih ujian ini berjalan dan belum ada tAnda tAnda kapan akan pulih. 

    Seneca menganjurkan kita tidak hanya menunggu badai reda, tidak diam saja menunggu sikon pulih.  Dia menganjurkan kita ‘berdansa di bawah hujan’.   Memang indah sekali ungkapan seorang pujangga besar.  Kalimatnya pendek tapi penuh makna.  Maksudnya tentu saja agar kita segera mengambil tindakan.

    Tiga tindakan

    Paling tidak ada tiga tindakan yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah. 

     

    Menata hati dan pikiran

    Pertama menata hati dan pikiran agar tidak terkena dampak psikis yang berat.  Stress, kesedihan, penyesalan sebenarnya wajar saja.  Siapa tidak gelo ketika sasaran sudah di depan mata, tetiba hilang ditelan Covid.   Meskipun demikian kita harus menatap ke depan dan mengkaji berbagi kemungkinan untuk mencari peluang lain.

     

    Membahas cara menata hati kita harus ingat pada sang pencipta, sang khalik, Allah swt.  Mendekat kepada Allah swt adalah sebuah pilihan terbaik karena dunia seisinya adalah milikNya.  Segala sesuatu yang terjadi sudah seijinNya.  Tidak ada daun selembarpun jatuh tanpa diketahuiNya.   

    Saya jadi ingat  kalimat bijaksana dari Nouman Khan. 

    ”It is not true that if we had true faith we would not be sad. Prophets (as), and righteous people experienced a great deal of sadness. The Quran is full of stories in which the central theme is sadness.  Sadness is a reality of life. The Quran is not there to eliminate sadness, but to navigate it. Sadness is one of the tests of life, just as happiness, and anger are tests.”

    (Tidak benar bahwa kalau kita beriman lalu kita tidak akan sedih. Para nabi dan orang saleh mengalami kesedihan berat.  Al Qur’an penuh kisah yang tema pokoknya kesedihan.  Kesedihan adalah kenyataan hidup.  Al Qur’an diturunkan tidak untuk menghapus kesedihan, tapi untuk membimbing manusia melewatinya.  Kesedihan adalah ujian kehidupan, seperti juga kesenangan dan amarah adalah ujian”) 

    Kemudian di dalam Al Qur’an ada sebuah ayat indah tentang kesulitan dan kemudahan, yaitu di dalam Surah Alam Nasrah ayat 5 dan 6.

    Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

    “sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

    Jadi janga kuatir karena sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan, di balik kesulitan ada kemudahan.   Manusia sudah dibekali dengan akal pikiran, ilmu, maka tugas manusia adalah berupaya, berpikir.  Memang tidak mudah.  Perlu perjuangan, tapi tidak perlu stress.

    Menulis

    Selain mendekatkan diri kepada Allah swt, ada cara spesifik untuk mengatasi beban mental yaitu dengan menulis.   Ada sebuah teknik menulis yang disebut  ‘expressive writing’.   Lain kali isya Allah akan saya paparkan di sini tentang expressive writing ini.

    Mencari alternatif kerja

    Tindakan ketiga tentu saja tindakan nyata untuk mengatasi kerugian atau mencari pekerjaan lain atau peluang usaha lain.   Upayanya apa ya bisa sangat banyak variasinya.  Tergantung kompetensi masing masing orang.  Kalau selama ini Anda sudah memiliki kompetensi tidak usah kuatir.  Ada sebuah kalimat mutiara Rumi tentang  “What you seek is seeking you” (Apa yang kamu cari sedang mencarimu).  Jadi sebenarnya dunia kerja, dunia bisnis juga sedang membutuhkan kompetensi Anda.  Justru di dalam situasi resesi inilah dibutuhkan banyak pikiran cerdas untuk memecahkan masalah ini.  Dalam setiap situasi ada potensi, ada peluang.  Namun masih tersembunyi.  Cari saja maka suatu saat Anda akan menemukannya.

     

     

    Ada beberapa website yang menyediakan peluang untuk bekerja secara free lance (lepas). Sila googling Anda akan dengan mudah menemukannya. Di sana tersedia banyak sekali lowongan pekerjaan dengan berbagai macam kompetensi.  Kebanyakan situs itu dari luar negeri. Jadi ordernya kebanyakan juga dari manca negara. Maka Anda mesti menguasai bahasa Inggris dengan baik.  Jangan khawatir sekarang Anda bisa belajar bahasa asing dengan bantuan internet.

    Menata hati, menulis untuk melepaskan beba mental dan mencari kerja di situs pekerjaan lepas. Itulah palng tidak tiga tindakan yang bisa diambil. 

     

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    5 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 595 kali