Mengenang Haji Darip,  Generalissimo van Klender 1945 - Analisis - www.indonesiana.id
x

Haji Darip

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Rabu, 22 Juni 2022 08:44 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Mengenang Haji Darip,  Generalissimo van Klender 1945

    Julukan  “Generalissimo van Klender 1945”  kepada Haji Darip layak disandang.  Berkat keikhlasan dalam berjuang, karisma dan karomah ilmu yang dimilikinya,  ia layak menyandang gelar Panglima Perang dari Klender Jakarta Timur atau “Generalissimo van Klender 1945.”  

    Dibaca : 522 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Jalan Bekasi Timur Raya hingga batas Jalan Ahmad Yani di kawasan Jakarta Timur, kini berubah menjadi Jalan Haji Darip. Tokoh Betawi heroik ini, disegani kawan dan lawan era revolusi. Siapakah beliau?

    Beberapa saat usai Proklamasi berkumandang, suasana di Tanah Air, khususnya di Jakarta, terjadi berbagai pergolakan. Apalagi tidak lama kemudian, pasukan Belanda dengan mendompleng sekutu turut mendarat ke Jakarta.

    Rakyat yang tidak ingin lagi melihat negerinya dijajah, melakukan perlawanan. Di Jakarta, di antara para ulama dan mualim yang menghimpun para pemuda untuk siap mati membela negara, ada nama Haji Mohammad Arif. Ia lebih dikenal dengan sebutan Haji Darip.

    Kiprahnya dalam berjuang dilandasi semangat jihad yang membara. Sebagaimana diketahui, pascaproklamasi kemerdekaan berkumandang pada 17 Agustus 1945 sejumlah pertempuran pecah di beberapa wilayah Indonesia.

    Para pemuda yang berjuang di medan perang mesti melawan dan mengusir Jepang dan Belanda (NICA) yang membonceng Sekutu Inggris. Kemudian, pada 11-13 Oktober 1945, pasukan Sekutu bertempur melawan para pemuda pejuang di sekitaran Jl Kramat Raya Jakarta Pusat.

    Dua hari berselang, pertempuran di daerah pusat kota Jakarta itu menjalar hingga ke  wilayah pinggiran Jakarta beberapa hari kemudian.

    Abdul Haris Nasution dalam buku yang ditulisnya: Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia mencatat, bahwa pada waktu itu tentara Inggris hendak menduduki Klender pada tanggal 15 Oktober 1945.  Ini mengakibatkan perlawanan dari rakyat.

    Saat tentara Inggris hendak menduduki Klender, mendadak  dari rumah-rumah penduduk bermunculan barisan-barisan rakyat yang bersenjatakan golok dan bambu runcing menyerang mereka. Kelak diketahui, bahwa barisan rakyat itu adalah Barisan Rakyat Indonesia (BARA) yang dipimpin oleh mualim dan jagoan pencak silat tanah Betawi, Haji Darip.

    BARA beranggotakan para jago dan jagoan. Mereka menguasai wilayah Klender, Pulogadung, hingga Bekasi.

    Tentara Sekutu tidak menduga akan mendapat serangan semacam itu. Mereka dibikin kalang kabut oleh pasukan yang dipimpin oleh Haji Darip tersebut. Maka berkobarlah pertempuran hebat. Golok, bambu runcing, kelewang dan sangkur ikut digunakan dalam pertempuran jarak dekat satu lawan satu. Banyak korban yang jatuh akibat pertempuran tersebut.

    Banyak di antara mereka yang gugur menghadapi serangan massal dari segala jurusan sehingga mereka tidak dapat bertempur sebagaimana mestinya. Akibatnya di pihak Sekutu pun tidak sedikit jatuh korban.

    Mereka kemudian melakukan serangan balasan yang menimbulkan tidak sedikit korban di kalangan rakyat, dan akhirnya mereka berhasil juga menduduki Klender.

    Darip dan pasukan BARA lantas hijrah ke beberapa tempat seperti Tambun, Cikarang, Lemah Abang, Bekasi, Cikampek, Karawang hingga ke Purwakarta dan membentuk BPRI (Barisan Pejuang Rakyat Indonesia) Jakarta Raya. Di tempat persembunyiannya di Purwakarta, H. Darip menyusun strategi melawan Belanda.

    Karena kepemimpinannya dalam mengorganisasi para pemuda pejuang dianggap berbahaya, Belanda lalu mengirimkan mata-mata untuk menangkap Darip dan memenjarakannya.

    Sosok Haji Darip

    Pria asli Betawi kelahiran 1886 itu memulai perjuangan melalui dakwah dari satu musalah ke musalah di kawasan Klender. Putra pasangan jawara silat asal Klender bernama Haji Kurdin dan Hajah Nyai Mai kelahiran 1886 tersebut sejak kecil acap dipanggil Mad Arif lalu Madarif lantas saat dewasa menjadi Darip.

    Karena dakwah dan syiar islamnya itu, murid dan pengikut Haji Darip lambat laun terus bertambah.  Darip nan sejak kecil menempuh pendidikan agama dan belajar silat atau maen pukulan kemudian dikenal sebagai jawara dengan wilayah kekuasannya meliputi Klender, Jatinegara, serta Pulo Gadung.

    Haji Darip adalah sosok yang sangat disegani di wilayah Klender, Bekasi, dan sekitarnya. Selain dikenal sebagai mubaligh, ia juga seorang pejuang yang memiliki ilmu main pukulan (ilmu silat) yang lihai.

    Begitu sekutu mendarat, ia memutuskan untuk turut angkat senjata mempertahankan kemerdekaan. Dengan prinsip "mencintai Tanah Air merupakan bagian dari iman", ia membakar semangat ratusan pemuda dari Klender dan sekitarnya. Namanya yang sudah dikenal membuatnya dalam waktu singkat mengumpulkan banyak pengikut.

    Sebuah brosur dari Angkatan 45 Daerah Khusus Ibukota tanggal 17 Agustus 1985 -- empat tahun setelah Haji Darip meninggal dunia -- menyebutkan, almarhum pada zaman penjajahan Belanda (sebelum perang dunia kedua), berjuang bersama Bung Karno bergerak di bawah tanah, terutama di Cilincing, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

    Ketika pendudukan Jepang, menyaksikan kekejaman pasukan Dai Nippon ini, Haji Darip memimpin masyarakat di Klender. Ia menghimpun para narapidana dan napi Rutan Cipinang untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang.

    Sebelum menjadi ulama di Jakarta, Haji Darip selama bertahun-tahun menjadi mukimin di Tanah Suci Mekkah dan Madinah. Selama di sana, dia banyak bergaul dengan tokoh-tokoh Islam dari berbagai negara.

    Inilah yang mengilhaminya untuk turut terlibat dalam pergerakan kemerdekaan sekembalinya ke Tanah Air. Ia mengawali perjuangan dengan berdakwah di sebuah musala kecil -- kini berubah menjadi Masjid Al-Makmur yang cukup megah -- di Klender. Di sini bergabung juga sejumlah ulama dari Klender yang juga pejuang seperti KH Mursidi dan KH Hasbiallah.

    Sejarawan Alwi Shihab menulis, ketika Jakarta dikuasai serdadu NICA Belanda yang mendompleng tentara sekutu, Haji Darip dan kawan-kawannya itu hijrah ke pedalaman Cikarang - Karawang - Purwakarta dan membentuk BPRI (Barisan Pejuang Rakyat Indonesia).

    Dari tempat persembunyiannya, dengan pangkat Letnan Kolonel Tituler -- ia bermarkas di Purwakarta dan menyususn strategi melawan NICA. Tahun 1948, setelah selama tiga tahun tidak henti-hentinya melawan pasukan Belanda, ia pun tertangkap. Kemudian dibawa ke Jakarta dan dipenjara di rumah tahanan Glodok (kini merupakan bagian dari pertokoan Harco). Lebih dari setahun ia mendekam di penjara Glodok, sebelum akhirnya dibebaskan setelah penyerahan kedaulatan akhir Desember 1949.

    Sewaktu dia masih memimpin pergerakan dari Klender, banyak para pemimpin yang datang kekediamannya, seperti Sukarni dan Pandu Kartawiguna. Kedua tokoh Partai Murba menjelang 17 Agustus 1945 menyatakan kepadanya bahwa sebentar lagi Indonesia akan merdeka, dan mereka membicarakan pengusiran orang Jepang.

    Bukan sekali dua kali Darip masuk bui di masa pemerintahan Hindia Belanda lantaran terlibat perkelahian lantaran membela nasih sesama Bumiputera. Bahkan, di masa Pendudukan Jepang, Darip begitu miris melihat kelakuan militer Jepang berbuat seenaknya terhadap Bumiputera.

     

    Haji Darip Wafat

    Setelah penyerahan kedaulatan RI pada akhir Desember 1949, H. Darip dibebaskan dari penjara.

    Haji Darip tidak memedulikan gelar veteran dan pahlawan yang diberikan pemerintah padanya. Pada masa senjanya ia menghabiskan waktu untuk berdakwah di Klender dan sekitarnya.

    Pukul 01.00, 13 Juni 1981, Haji Darip tutup usia. Sebelumnya, ia sering menderita sakit kepala sebagai akibat dari penyiksaan-penyiksaan didapat ketika menjadi tahanan. Atas permintaan teman-teman seperjuangannya di kesatuan Dewan Harian Angkatan 45 DKI Jakarta, Haji Darip diminta dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

    Menurut sumber di Angkatan 45 Daerah Khusus Ibukota Jakarta, sepeninggal pejuang yang tidak mengenal pamrih itu, pensiunan dan tunjangannya dicabut. Sedangkan rumahnya terkena proyek pelebaran jalan dan tergusur. Hanya makamnya saja yang kini tersisa di dekat bekas kediamannya, H. Darip dimakamkan di Pemakaman Wakaf Ar-Rahman Jalan Tanah Koja II, Jatinegara Kaum, Pulogadung, Jakarta Timur.

     

    Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.