Ketika Anda Gagal Mengelola Waktu, Apa Menyesal? - - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Kamis, 23 Juni 2022 20:07 WIB

  • Topik Utama
  • Ketika Anda Gagal Mengelola Waktu, Apa Menyesal?

    Apakah saya menyesal berada di taman bacaan? Terkadang penyesalan pun berdampak positif untuk orangnya. Agar bisa mengelola waktu

    Dibaca : 141 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Berkiprah di taman bacaan adalah sebuah keputusan. Berjuang untuk literasi pun sebuah keputusan. Bahkan menyediakan akses bacaan untuk anak-anak pun bukan perkara gampang. Sementara orang-orang serba digital, taman bacaan masih berpikir buku-buku yang manual. Taman bacaan, sama sekali tidak populer. Lalu pertanyaannya, apakah saya menyesal berada di taman bacaan?

     

    Memang ada benarnya. Anekdot yang menyebut “pendaftaran itu berada di depan dan penyesalan itu datangnya belakangan”. Memilih taman bacaan sebagai jalan hidup bisa jadi menyesal. Berjuang jadi pegiat literasi pun bisa jadi pilihan yang tidak pas di era digital seperti sekarang. Apalagi sulitnya membangun tradisi baca dan budaya literasi di masyarakat. Bisa jadi, penyesalan yang terjadi kian paripurna.

     

    Untuk para pegiat literasi, apakah Anda menyesal berada di taman bacaan?

    Itu pertanyaan sederhana, sangat mudah untuk dijawab. Karena faktanya di luar sana, tidak sedikit orang yang menyesal setelah mengambil keputusan. Merasa salah memilih jurusan saat kuliah, merasa salah memilih pekerjaan. Bahkan menyesal karena telah membuang kesempatan di depan mata. Anda menyesalkah?

     

    Jaid begini sahabat. Di dunia ini, setiap manusia pasti akan dan pernah menyesal dalam hidup. Tanpa terkecuali dia orang baik atau tidak baik. Jangan orang tidak baik, orang baik pun pasti menyesal. Penyesalan itu sesuatu yang dekat dengan manusia. Tapi untuk apa menyesal atas pilihan?

     

    Penyesalan itu sama dengan kerugian. Bagi sahabat muslim,, tentu hafal  dengan surat pendek Al ‘Ashr (waktu). Bahwa “Demi waktu. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS Al ‘Ashr: 1–3). Waktu adalah aset terpenting yang dimiliki manusia. Tapi sayangnya, tidak semua manusia mampu mengelola waktu hidupnya. Maka siapa pun akan menyesal bila gagal menggunakan waktunya.

     

    Siapa pun yang gagal mengelola waktu, pasti merasakan penyesalan. Manusia yang rugi dan menyesal. Bahkan orang yang telah berbuat baik sekalipun, akan menyesal. Mengapa dia tidak berbuat baik lebih banyak, lebih sering? Bukankah “khoirunnas anfauhum linnas”, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain?

     

    Anda merasa menyesal berada di taman bacaan, tidak masalah. Penyesalan itu lumrah. Tapi penyesalan bukan berarti negatif. Justru penyesalan bisa berdampak positif bila mampu direnungkan dan dijadikan hikmah dalam hidup. Karena dengan menyesal, siapa pun bisa memperbaiki niat dan meningkatkan ikhtiar. Agar rasa sesal mampu menjadikan untuk:

    1. Makin tahu kemampuan diri sendiri untuk meningkatkan “tahu ilmu tahu diri tahu arti peduli” dan mengenal kelebihan – kekurangan  diri sendiri.

    2. Meminimalisasi kegagalan untuk bahan evaluasi dan pembelajaran ke depan.

    3. Mempunyai sudut pandang baru untuk melihat setiap masalah secara lebih objektif.

     

    Penyesalan itu fakta, bahkan bersifat mutlak. Untuk apa pun dan di mana pun. Jadi yang terpenting itu bersikap untuk ke depannya. Bila taman bacaan jadi jalan hidup, maka kerjakan dan nikmatilah. Tidak usah mengeluh, apalagi kecewa dan marah pada diri sendiri. Untuk apa menyesal bila tidak menjadikan lebih baik dan lebih bermanfaat untuk orang lain?

     

    Seperti saya di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka. Sama sekali tidak menyesal berada di taman bacaan. Setelah 5 tahun berjalan, dari hanya 14 anak kini menjadi 130 anak pembaca aktof. Dari 1 program taman bacaan kini menjadi 14 program literasi dan memberi layanan ke 250 orang setiap minggunya. Taman bacaan yang buka 6 hari dalam seminggu.  Jusru bagi saya, taman bacaan bukan hanya tentang "jalan" yang dipilih. Tapi tentang "jejak" apa yang hendak ditinggalkan nanti. Bekap apa yang akan dibawa “pulang” esok ketika waktunya tiba?

     

    Teruslah perbaiki niat dan tingkatkan ikhtiar baik di taman bacaan. Agar waktu yang dimiliki dan hidup yang dijalani tidak sia-sia. Agar selalu memberi manfaat untuk banyak orang. Sungguh di taman bacaan, saya belajar. Bahwa rasa syukur harus jauh lebih kuat daripada keluhan dan penyesalan apa pun.

     

    Jadi, apakah ada orang yang menyesal saat beribadah? Salam literasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka #BacaBukanMaen

    Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    5 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 596 kali