Psikologi Sastra dalam Cerpen "Dilarang Mencintai Bunga-Bunga" karya Kuntowijoyo - - www.indonesiana.id
x

Shakila Da'watunnisa

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Mei 2022

Kamis, 23 Juni 2022 20:07 WIB

  • Topik Utama
  • Psikologi Sastra dalam Cerpen "Dilarang Mencintai Bunga-Bunga" karya Kuntowijoyo

    Psikologi Tokoh dalam Cerpen "Dilarang Mencintai Bunga-Bunga" karya Kuntowijoyo

    Dibaca : 183 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Psikologi Sastra dalam Cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” Karya Kuntowijoyo

    Sastra merupakan hasil pemikiran pengarang berdasarkan realitas sosial budaya suatu masyarakat. Oleh karena itu, dalam karya sastra banyak menceritakan interaksi antar-manusia dengan lingkungannya. Karya sastra juga merupakan salah satu ungkapan kelembutan jiwa yang besar oleh pengarang terhadap alam sekitarnya.

    Manusia merupakan sumber dari sastra dan psikologi, maka pada manusia keterikatan dapat ditemukan, antara psikologi dan sastra merupakan dua sisi yang saling berpasangan, berbeda tetapi saling melengkapi karena terpaut dengan hal yang sama.

    Psikologi sastra lahir sebagai salah satu jenis kajian sastra yang digunakan untuk membaca dan menginterpretasikan karya sastra, pengarang karya sastra dan pembacanya dengan menggunakan berbagai konsep dan kerangka teori yang ada dalam psikologi.

    Walgito (2004: 1) menjelaskan bahwa ditinjau dari segi bahasa, psikologi berasal dari kata psyche yang berati 'jiwa' dan logos berarti 'ilmu' atau 'ilmu pengetahuan', karena itu psikologis sering diartikan dengan ilmu pengetahuan tentang jiwa. Jiwa manusia terdiri dari dua alam, yaitu alam sadar (kesadaran) dan alam tak sadar (ketidaksadaran). Kedua alam tidak hanya saling menyesuaikan, alam sadar menyesuaikan terhadap dunia luar, sedangkan alam tak sadar penyesuaiannya terhadap dunia dalam.

    Freud membahas pembagian psikisme manusia menjadi id (terletak dibagian tak sadar) yang merupakan reservoir pulsi dan menjadi sumber energi psikis. Ego (terletak di antara alam sadar dan tak sadar) yang bertugas sebagai penengah yang mendamaikan tuntutan pulsi dan larangan superego. Superego (terletak sebagian dibagian sadar dan sebagian lagi dibagian tak sadar) bertugas mengawasi dan menghalangi pemuasan sempurna pulsi-pulsi tersebut yang merupakan hasil pendidikan dan identifikasi pada orang tua.

    Id seperti penguasa absolut, sewenang-wenang, dan mementingkan diri sendiri. Menurut Freud, id berada di alam bawah sadar tidak ada kontak dengan realitas. Cara kerja id berhubungan dengan prinsip kesenangan, selalu menghindari ketidaknyamanan. Ego terperangkap diantara dua kekuatan yang bertentangan dan dijaga serta patuh pada prinsip realitas dengan mencoba memenuhi kesenangan individu yang dibatasi oleh realitas. Ego seperti memiliki tugas harus menyelesaikan segala pekerjaan yang terhubung dengan realitas dan tanggap terhadap keinginan masyarakat. Ego berada diantara alam sadar dan alam bawah sadar. Tugas ego memberi tempat pada fungsi mental utama yang merupakan pimpinan utama dalam kepribadian. Superego seperti selalu penuh dengan pertimbangan terhadap nilai-nilai baik dan buruk atau yang mengacu pada moralitas dalam kepribadian.

    Psikologi Tokoh pada Cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga”

    Psikologi tokoh menggunakan teori psikisme manusia menurut Freud berdasarkan kutipan cerpen

    a. Tokoh aku (id):

    • Malam itu aku tidak mau makan.
    • Aku mencari-cari kesempatan untuk bertemu dengan Kakek. Pulang sekolah aku memanjat tembok pagar dari sebuan pohon kates. Berjalan mondar-mandir di atasnya.
    • Kalau ayahku pulang, aku cepat ke kamar. Di kamar menatap bunga-bunga sangat lain dengan melihat wajah Ayah.
    • Bagiku sungguh enak tinggal dalam kamar. Kawan-kawan datang mengajakku bermain. Tetapi, aku menolak. Bermain hanya bagi anak-anak. Apakah yang lebih menyenangkan daripada bunga dalam vas?
    • Bagiku tidak ada kewajiban lain yang mengikat kecuali ke sekolah dan mengaji. Selebihnya untuk kami berdua, aku dan sahabat setiaku.
    • Sebuah kesejukan yang menenteramkan lambat-lambat masuk dalam jiwaku. Aku berdamai dengan kehidupan. Apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan keteguhan batin? Sungguh bersyukur, berkenalan dengan Kakek itu.
    • Pengajian itu bernama Al-Ma'ruf, artinya 'kebaikan'. Mereka belajar menjadi baik. Tetapi, sebutlah, siapa di antara mereka mempunyai ketenangan jiwa dan keteguhan batin? Tidak seorang pun, kecuali aku.
    • Sore itu aku duduk di serambi masjid. Siapakah orangnya yang bisa tersenyum melihat anak-anak memperebutkan kelereng dalam permainan? Aku melihat keasyikan itu, anak-anak yang didorong oleh nafsu. Aku tersenyum dalam ketenangan. Jiwaku dikuasai oleh ketenangan batin yang mengasyikkan. Tidak ada niatku untuk bermain. Lebih baik duduk tenang, tersenyum memandang segala hiruk-pikuk dunia.

    b. Tokoh aku (ego):

    • Kulihat bungkah otot tangan Ayah menggenggam bunga kecil itu. Aku menahan untuk tidak berteriak.
    • Sampai di pintu, ayahku sudah berdiri di sana. Aku tersadar, hari telah sore dan aku lupa mengaji.
    • Aku berdiri saja. Ingin aku menyembunyikan setelitinya bunga-bunga di tanganku. Ayah telanjur melihat… "Kau pergi mencari bunga-bunga itu. Untuk apa, heh?" … "Cari di mana?" Tetapi, aku harus menyembunyikan dari mana asal bunga-bungaku. "Di sungai, Yah," kataku membohong.
    • Aku mulai segan bertemu dengan Ayah. Seperti ada orang lain dalam rumah bila Ayah di rumah. Kehadiran Ayah menjadikan aku gelisah.
    • Sesudah membersihkan kamar, aku meloncati pagar, lalu menangis di pangkuan Kakek.
    • Aku segera pulang. Pastilah Ayah akan menghukum bila tahu aku meloncat ke rumah sebelah. Aku kembali ke kamar melalui jendela. Menutup pintu rapat-rapat.
    • Aku sudah punya jambangan bunga sendiri. Tidak mengganggu lagi alat rumah tangga ibuku.

    c. Tokoh aku (superego):

    • Sore hari itu aku pergi mengaji ke masjid. Tidak lupa aku membawa sekuntum melati di saku. Itu menenteramkan jiwa. Setiap kali aku dapat mengeluarkannya dan mencium sepuasku.
    • "Untuk apa tangan ini, Buyung?" tanya Ayah mengulang. Kemudian, aku menemukan jawaban. "Kerja!" kataku.
    • Malam hari aku pergi tidur dengan kenangan-kenangan di kepala. Kakek ketenangan jiwa-kebun bunga, Ayah kerja-bengkel, Ibu mengaji-masjid. Terasa aku harus memutuskan sesuatu. Sampai jauh malam aku baru akan tertidur. Bagaimanapun, aku adalah anak ayah dan ibuku.

    a. Tokoh ayah (id):

    • Ayah merampas bungaku. Dan, membuangnya ke tempat sampah.
    • "Mana?” Aku mengulurkan tanganku pada Ayah. Diremasnya bunga-bunga itu.
    • "Buyung, coba mana tanganmu? keduanya!" Aku mengulurkan tanganku, putih bersih... "Tanganmu mesti kotor, seperti tangan ayahmu, heh!"

    b. Tokoh ayah (ego):

    • "Laki-laki tidak perlu bunga, Buyung. Kalau perempuan, bolehlah. Tetapi, engkau laki-laki." Ayah melemparkan bunga itu.
    • "Engkau mulai cengeng, Buyung. Boleh ke sungai untuk berenang, bukan mencari bunga."
    • "Untuk apa tangan ini, heh?".... "Untuk kerja! Engkau laki-laki. Engkau seorang laki-laki. Engkau mesti kerja. Engkau bukan iblis atau malaikat, Buyung. Ayo, timba air banyak-banyak. Cuci tanganmu untuk kotor kembali oleh kerja. Tahu!"
    • "Akulah yang memecahkan, Buyung. Untuk apa, heh? Manusia tidak bisa hidup dengan hanya bunga. Ke sini!"

    c. Tokoh ayah (superego):

    • "Dari mana?" Dia bertanya "Di rumah, di kamar." "Untuk apa di kamar, heh, laki-laki mesti diluar kamar!" Ayah menyuruh Ibu membuat supaya aku disuruhnya bermain di luar.
    • "Engkau mesti bekerja. Sungai perlu jembatan. Tanur untuk melunakkan besi perlu didirikan. Terowongan mesti digali. Dam dibangun. Gedung didirikan. Sungai dialirkan. Tanah tandus disuburkan. Mesti, mesti, Buyung. Lihat tanganmu!"

    a. Tokoh kakek (id):

    • “… Hidup harus penuh dengan bunga-bunga. Bunga tumbuh, tidak peduli hiruk-pikuk dunia. Ia mekar. Memberikan kesegaran, keremajaan, keindahan. Hidup adalah bunga-bunga. Aku dan kau salah satu bunga... "
    • "Segalanya mengendap. Cobalah lihat, Cucu. Bunga-bunga di atas air ini melambangkan ketenteraman, ketenangan, dan keteguhan jiwa. Di luar matahari membakar. Kendaraan hilir-mudik. Orang berjalan ke sana kemari memburu waktu... Anak-anak bertengkar merebut layang-layang. Apakah artinya semua itu, Cucu? Mereka semua menipu diri sendiri. Hidup ditemukan dalam ketenangan. Bukan dalam hiruk-pikuk dunia …”

    b. Tokoh kakek (ego):

    • "Katakanlah, Cucu. Apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa?"

    c. Tokoh kakek (superego):

    • "Jangan lagi menangis. Kalau nafsu mengalahkan budi, orang tidak mendapatkan ketenangan jiwa. Perbuatannya menjadi kasar karena dorongan nafsu. Perbuatan itu menimbulkan kesengsaraan. Dunia rusak oleh nafsu. Tenanglah."

    a. Tokoh ibu (superego):

    • Ibu masuk kamar dan membujuk. "Tentu saja kau boleh memelihara bunga. Bagus sekali bungamu itu. Itu berwarna violet. Bunga ini anggrek namanya. Aku suka bunga. Kuambil vas, engkau boleh mengisinya dengan air. Dan, bunga ini ditaruh di dalamnya. Kamar ini akan berubah jadi kamar yang indah! Setuju?"
    • "Engkau mesti memilih permainan yang baik;" kata ibuku. "Ayahmu menyuruhmu main bola. Atau, berenang. Kalau tidak mau, kau akan dibawanya ke bengkel."
    • lbu berdiri kaku. Memandangku sepertibukan anaknya. Mataku ditatapnya dengan dalam-dalam… Ibu memutar badannya. Katanya memerintah: "Pergi ke kamar, kataku!"
    • "Jangan membantah ayahmu, Nak. Cepatlah mandi. Ah, hampir lupa. Engkau harus mengaji."

    Sumber:

    Aria Bayu Setiaji, Kajian Psikologi Sastra dalam Cerpen “Perempuan Balian” Karya Sandi Firli dalam https://jurnal.iainambon.ac.id/index.php/lingue/article/view/1176 diakses pada 15 Juni 2022, pukul 15:16.

    Minderop, Albertine. Psikologi Sastra: Karya, Metode, Teori, dan Contoh Kasus. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. 2016.

    Walgito, Bimo. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Ofsed. 2004.

    Ikuti tulisan menarik Shakila Da'watunnisa lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    5 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 595 kali