Dalam Esai Tanda Ketik - Analisis - www.indonesiana.id
x

Taufan S. Chandranegara

Praktisi Seni-Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Kamis, 23 Juni 2022 20:01 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Dalam Esai Tanda Ketik

    Imajinasi, senantiasa sehat walafiat. Kehidupan, baik-baik saja. Oksigen aman. Meski polusi emisi kota, umumnya perlu dijernihkan, mungkin melalui upaya bersama. Ruang publik semarak indah, komunikasi berjalan cepat, kini, satu tombol-melihat dunia, mode, desain, seni murni, museum, taman kota, banyak sekali keindahan. Oh! Ya, kini hidup di dunia tekno kemodernan loh. Kritik seni, seni kritis masih diperlukan, barangkali.

    Dibaca : 434 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Apa betul tanda ketik bisa dibaca. Kalau tidak bisa dibaca, mungkin tidak bisa mengetik. Persoalan ketik mengetik tak menjadi penting, apabila kritik seni, tak lagi hadir atau bisa juga tidak diperlukan. Wah! Hebat. Seni tanpa kritik seni. 

    Nah! Apa betul begitu. Bisa betul. Bisa juga tidak. Apakah itu isme-dilema. Bisa iya. Bisa juga tidak. Wah! 

    Apa betul kritik seni sudah terlanjur tak hadir lagi, atau, mungkin saja karena seni tak hadir lagi untuk dikritik alias dikritisi. Loh! Kenapa bisa begitu. Mungkin begitu atau mungkin juga tidak begitu. 

    Kritis mengkritik bisa baik, bisa pula bikin ngambek, cemburu, cemberut. Pacaran pun bisa kritis, akibat tafsir kritis warna berbeda, misalnya, meskipun hanya urusan selera makan, atau tak cocok semerbak parfum kekasih. 

    ***

    Lantas apa itu modern-isme di ranah seni ber-seni, kalau kritik seni tak ada lagi, sebab akibat, dari, tak ada seni mau dikritik atau sebaliknya, tak ada kritik seni untuk seni. Walah! Namun demikian hal tersebut bukan benang kusut, sulit terurai.

    Apakah seni masih perlu uraian, urai-mengurai seni. Apabila pada musim bunga terjadi pengadeganan, 'terserah gue dong mau bikin apa, zaman modern gini. Ini karya gue, domain gue', barangkali loh, ada pemeo dialogis, bagaikan cerita khayal dalam tanda petik tunggal itu.

    Waduh! Zaman tekno tak selalu hebat bak, deus ex machina, dramatis, muncul di adegan akhir umumnya-manusia juga sih, sebagai aktor sang adil, penyelamat soal rumit jadi mudah-tampil satir komedi, alegoris-bisa begitu, atau bermacam watak adegan pula, di teater klasik benua jauh, di teater modern pun, kadang-kadang, melakukan peniruan bagai itu.

    ***

    Seolah-olah terpola katarsis pada mesin tekno. Seakan-akan mesin tak terbatas, meskipun, hanya sampai pada tingkat perencanaan asosiatif tekno berpadu kasih, kadang sampai, kadang tidak. 

    Sebagaimana tekno serial tertentu, terbatas bejana tekno tertentu pula, padahal hasil meniru analog-natural, agar tampak, canggih, mampu, melihat awan dari dalam lemari besi, setelah program dirancang bangun. 

    Seakan-akan pula, telepon seluler jadi pahlwan, mencatat peristiwa personal-meskipun, mungkin, otak manusia tengah dibikin malas akibat tanpa aktivitas analog, barangkali, kegiatan sel-sel otak menurun bertahapan-hampir serupa dengan jantung, pun memerlukan etape aktivitas pemacunya-olahraga.

    Keterbatasan tekno-mesin, akibat dari peniruan situasi, bentuk, iklim dari peristiwa natural. Nonton deh, terjadinya tata cahaya panggung; Melakukan tidakan peniruan dari tata laku cuaca natural. Ramai pula mesin tekno, konon, mampu meniru, bagaikan perasaan manusia. Uwow! Pasti beda-lah.

    Tekno mesin, mungkin bisa disebut program dengan predikat canggih atau super canggih, tetaplah berbasis data asupan dari manusia pembuatnya, untuk menjadi alat 'pembantu', bergiat sehari-hari dengan kapasitas maksimal tertentu, tanpa nurani. 

    Tekno apapun itu, berbeda dengan manusia, ber-sel otak, dilengkapi nurani, plus ruh dari Ilahi.

    ***

    Oke. Kembali pada kritik seni, atau seni dikritisi atau seni kritis. Nah! Apa atau siapa, pembuat kritik seni, pembuat seni kritis, sebaliknya di bolak balik. Tidak ada. Siapa bilang.

    Jadi ada? Ada. Dimana, kapan, seperti apa. Enggak tahu deh. Jadi, kritik seni itu apa? Relativitas mungkin.

    Karena 'maya', telah menjadi dunia estetika kritis. Apakah mungkin begitu? Apakah karena bangun pagi sudah terjadwal di telepon seluler, hingga makan siang, kapan pulang dari bergiat diri, berjumpa dengan pasangan, jam berapa belanja di toko swalayan. Lalu kembali kerumah-bahagia bersama keluarga.

    Indonesia Indah selalu. Salam bahagia saudaraku.

    ***

    Jabodetabek Indonesia, Juni 23, 2022.

    Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.