Rima Melati,  Vaya con Dios - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Rima Melati

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Jumat, 24 Juni 2022 19:04 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Rima Melati,  Vaya con Dios

    Rima Melati, artis segala zaman yang anggun itu, hari ini wafat di Jakarta. Dalam usia 84. Vaya con Dios.

    Dibaca : 512 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    "Telah berpulang dengan tenang ke pangkuan Tuhan yang Maha Esa, Ibu Rima Melati, ibunda/mertua terkasih dari Aditya Bimasakti dan Marisa Tumbuan," "Mohon doanya dan mohon dimaafkan semua kesalahan-kesalahan beliau." tulis Marisa di Instagram Story, Kamis (23/6).

     Marisa juga menginformasikan,  Rima Melati meninggal dunia sekitar pukul 15.14 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Jakarta Pusat.

    Dikutip dari Antara,  aktris senior Rima Melati meninggal dalam usia 84 tahun setelah beberapa hari dirawat di RSPAD Gatot Subroto Jakarta.  Rima Melati meninggalkan dua anak: Aditya Tumbuan dan Henneke Adinda Tumbuan.

    Lebih dikenal dengan nama panggung Rima Melati, perempuan asal Tondano, Sulawesi Utara, tersebut terlahir dengan nama Marjolien Tambajong. Rima Melati lahir di Tondano, Sulawesi Utara, 22 Agustus 1939 Ia dikenal sebagai seorang aktris senior, penyanyi, sutradara serta model. Ibunya, Non Kawilarang adalah seorang perancang dan perintis dunia mode Indonesia.

     

    Sejumlah Film

    Pemilik nama asli Marjolien Tambajong ini sudah membintangi film sejak 1958 dengan judul “Djuara Sepatu Roda”. Kemudian pada tahun 1961, Rima Melati memulai debut akting sebagai pemeran utama di film “Kasih Tak Sampai.”

    Film-film era 1960-an yang dibintanginya berjudul  “Notaris Sulami” (1961), “Bermalam di Solo” (1962), dan “Kartika Aju” (1963). Rima sempat vakum dan kembali ke layar lebar di tahun 1969 lewat judul “Big Village”.

    Tidak hanya sebagai aktris, di era yang sama, Rima Melati juga menjadi personel grup penyanyi wanita terkemuka pada 1960-an yaitu, Baby Dolls. Saat itu, dia bersama Baby Huwae, Gaby Mambo, dan Indriati Iskak.

    Kemudian, di era ‘70-an hingga 2000-an, nama Rima Melati selalu mengisi panggung perfilman Tanah Air. Karya-karya film yang pernah dibintanginya yakni “Intan Berduri” (1972), “Perawan Malam” (1974), “Max Havelaar (Saijah dan Adinda)” (1975), “Di Balik Kelambu” (1982), “Kupu-kupu Putih” (1983), “Arini (Masih Ada Kereta yang Akan Lewat)” (1987), “Sesal (1994), dan “Banyu Biru” (2004).

    Kala itu,  Rima berperan sebagai Ningsih, anak seorang pembantu bernama Iyem. Ibunya dihamili oleh lelaki yang bertanggung jawab. Alhasil Ningsih pun diakui sebagai anak dari majikan Iyem, Ny. Sukardi.

    Mulanya Iyem tak boleh mengakui bahwa Ningsih adalah darah dagingnya. Saat Ningsih sukses menjadi bintang film pun dirinya malu mengakui Iyem sebagai ibu kandung. Namun, rasa penyesalan itu datang di belakang ketika Iyem sudah pergi untuk selamanya.

    Film “Intan Berduri”(1973) yang dibintanginya pada Festival Film Indonesia 1973, merupakan debut awal prestasinya. Dia meraih Piala Citra sebagai pemeran utarama wanita terbaik. “Intan Berduri” mengisahkan keluarga miskin yang terdiri dari Jamal (Benyamin Sueb), Saleha (Rima Melati), dan anak mereka. Suatu hari ketika keluarga itu tengah menangkap ikan di sungai, ditemukanlah intan. Akibatnya, seluruh penduduk desa dibuat geger oleh penemuan intan tersebut.

    Rima Melati membawa pulang piala Asia-Pasific Film Festival untuk kategori Best Supporting Actress lewat film “Ungu Violet”. Dalam film ini, Rima beradu akting dengan aktris muda dan berbakat lain seperti Dian Sastrowardoyo. Peran Rima di Ungu Violet tak lain sebagai nenek dari Kalin, yang dilakoni oleh Dian. Kalin diceritakan tingal bersama sang nenek.

    Film “Noda Tak Berampun” berkisah  tentang Marina, yang memiliki suami seorang germo. Oleh karena suaminya pengangguran, Marina terpaksa bekerja keras sebagai sopir taksi. Konflik demi konflik mulai muncul.

    Misalnya saja ketika Marina terpincut pria bernama Budiman. Film yang dirilis pada 1970 ini juga menjadi saksi prestasi seorang Rima Melati. Istri mendiang Frans Tumbuan itu memboyong piala Aktor-Aktris Terbaik PWI kategori Aktris Terbaik.

    Film “Salah Asuhan” adalah akting Rima Melati selanjutnya. Ia berperan sebagai Rapiah. Aktingnya memukau penonton di era tahun 1970-an. Terbukti Rima masuk dalam nominasi Aktris Terbaik di ajang penghargaan Aktor-Aktris Terbaik PWI pada 1973. Namun,  tak seperti film Noda Tak Berampun, Rima harus cukup puas dengan bertengger di jajaran nominasi dan tak membawa pulang piala.

     

    Pada kesempatan lain Rima pernah juga dinominasikan untuk penghargaan Pemeran Pembantu Wanita terbaik di beberapa Festival Film Indonesia yaitu dalam film “Kupu-Kupu Putih” (1984), “Tinggal Landas buat Kekasih” (1985), “Pondok Cinta” (1986), “Biarkan Bulan Itu” (1987) dan “Arini II (Biarkan Kereta Itu Lewat)” (1989).

     

    Selain menjadi aktris, Rima Melati tercatat sebagai sutradara yang andal untuk film televisi. Salah satu karyanya berjudul “Api Cinta Antonio Blanco”.

     

    Semasa hayatnya, istri almarhum Frans Tumbuan ini juga tercatat membintangi sejumlah judul sinetron. Sinetron yang dibintanginya itu di antaranya “Cinta Tak Pernah Salah”, “Mentari Di Balik Awan”, Kabut Sutra Ungu, Candy, “Buku Harian Nayla: 8 Tahun Kemudian”. Di samping menjadi seorang artis, Rima Melati juga aktif mengampanyekan kesadaran kanker payudara melalui Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta.

     

     

    Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    5 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 593 kali