Supremasi Persahabatan Armada Cheng Ho - Analisis - www.indonesiana.id
x

Bayu W |kuatbaca

Penulis Manis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Maret 2022

Senin, 27 Juni 2022 05:01 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Supremasi Persahabatan Armada Cheng Ho

    Supremasi yang berhasil ditunjukkan Tiongkok melalui ekspedisi Cheng Ho justru digunakan untuk mengamankan persahabatan-persahabatan antar negara ketimbang untuk penindasan atau kolonisasi. Tidak diketemukan catatan maupun kesaksian dari wilayah-wilayah yang dilewati menyebut bahwa armada Cheng Ho telah melakukan agresi apalagi pencaplokan.

    Dibaca : 284 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pada tanggal 15 Juli 1405, armada Tiongkok Dinasti Ming di bawah laksamana Cheng Ho memulai pelayaran dunia selama 28 tahun dari daratan Cina ke Semenanjung Malaka, Sumatra, Jawa, India, Jazirah Arab, sampai Mogadishu di Afrika Timur. Armada laut Cheng Ho berangkat dari Nanjing dengan penterjemah bernama Ma Huan.

    Pada tahun 1405, rombongan ekspedisi Cheng Ho itu singgah di pelabuhan Samudra Pasai dan bertemu dengan Sultan Zainal Abidin Bahian Syah. Cheng Ho menganjurkan agar Pasai mengakui perlindungan dari kaisar Tiongkok dan juga menghadiahi sebuah lonceng besar (Lonceng Cakra Donya) kepada sultan.

    Pengiriman armada Dinasti Ming dibawah pimpinan Laksmana Cheng Ho dan Ma Huan juga bertujuan untuk mengamankan jalur pelayaran niaga di Nanyang (Asia Tenggara) dari ganguan bajak laut orang-orang Hokkian yang dipimpin oleh Lin Tao-chien. Pada masa itu, bajak laut telah menguasai Pattani, sebuah pelabuhan di selatan Siam (Thailand) dan Kukang (Palembang).

    Sementara itu, seorang pemimpin bajak laut lainnya yang berasal dari Canton bernama Tan Tjo Gi berhasil pula menguasai kota Palembang, dan dari sana melakukan perompakan terhadap kapal-kapal yang melalui Selat Malaka. Hal ini nampaknya diakibatkan oleh lemahnya pemerintah Palembang setelah berkali-kali mendapatkan serangan dari kerajaan di Jawa. Setelah Tan Tjo Gi berhasil ditangkap, ia dirantai dan dibawa ke Peking. Disana ia dipancung di muka umum sebagai peringatan kepada orang-orang Tionghoa Hokkian di seluruh Nanyang.

    Selain itu, Laksamana Cheng Ho juga datang ke Malaka untuk mempertegas kembali persahabatan Tiongkok dengan Malaka. Dari Malaka, Armada Cheng Ho kemudian menuju Majapahit. Dimana dalam catatan berita Tiongkok disebutkan tentang adanya perang saudara di Majapahit, dan pada saat perang berlangsung, utusan Tiongkok sedang berkunjung ke kerajaan Majapahit Timur (Blambangan).

    Peristiwa tersebut merupakan satu-satunya pertempuran yang menewaskan pasukan Cheng Ho dalam jumlah besar. Karena, pada waktu itu armada Cheng Ho kebetulan berada di sektor timur (daerah Blambangan). Serangan pasukan Wikramawardana, yang datang dari barat, telah menyebabkan tewasnya 170 awak kapal Cheng Ho.

    Peristiwa pembunuhan ini diuraikan dalam buku Ming Shi, kitab sejarah resmi Dinasti Ming. Selain Ming Shi, ada pula dua buku klasik lain yang membeberkan perjalanan Cheng Ho. Buku ini ditulis oleh dua ahli bahasa yang menyertai pelayaran muhibah itu. Yakni Ma Huan, muslim yang fasih berbahasa Arab, dan Fei Xin, seorang sarjana ahli sastra. Menurut Liu Ruzhong, sejarawan dari Universitas Beijing, pertempuran di Majapahit ini sempat membuat panik Cheng Ho. Oleh karena itu, menurut kronik China tulisan Ma Huan (sekretaris Cheng Ho), Wikramawardhana pun diwajibkan membayar denda pada kaisar sebesar 60.000 tahil.

    Setelah pertempuran itu, Cheng Ho membawa armadanya ke barat, dan singgah di Pelabuhan Simongan, Semarang. Bahkan, ada yang menduga, seorang nakhoda kapal Cheng Ho, yaitu Wang Jing Hong, terluka oleh prajurit Majapahit. Wang kemudian dirawat di Simongan. Antara tahun 1405-1433, Kaisar Yung Lo dan peng-gantinya memerintahkan sampai tujuh kali ekspedisi pelayaran kekaisaran yang spektakuler menuju laut Tiongkok Selatan dan Samudera Hindia.

    Tiap armada terdiri dari 62 buah kapal yang disebut bao chuan atau kapal harta, yang paling besar berukuran panjang 12 meter dan lebar 54 meter. Ekspedisi tersebut membawa sejumlah besar emas, porselen, barang-barang tembikar, karya-karya seni yang indah dan kain sutera untuk ditukar dengan gading gajah, cula badak, kulit penyu, bahan obat-obatan, rempah-rempah, sarang burung walet, mutiara dan batu-batu permata. Di samping kapal penumpang untuk mengangkut pasukan dan kapal kargo, armada ini juga terdiri dari kapal tangki air, kapal pengangkut kuda untuk pasukan kavaleri, kapal-kapal tempur dan kapal patroli cepat yang mempunyai banyak dayung. Dalam tujuh kali pelayaran, kapal-kapal Cheng Ho membelah laut Tiongkok Selatan dan lautan Hindia, dari Taiwan menuju Teluk Persia dan Pantai Timur Afrika. Kong Yuanzhi, guru besar bahasa dan kebudayaan Indonesia di Universitas Beijing, RRC, mengupas perjalanan Cheng Ho dalam buku Muslim Tionghoa Cheng Ho.

    Armada raksasa ini melibatkan 27.800 personel yang sebagian besar muslim. Anggota armada ini bukan saja prajurit, kelasi, ahli militer, ahli teknik, dan ahli perbintangan, melainkan juga ahli bahasa yang akan bertindak sebagai penerjemah, dan tabib. Untuk setiap 150 jiwa, disediakan seorang tabib yang berfungsi sebagai dokter.

    Inilah pelayaran yang menggetarkan dunia bahari abad ke-15, ketika para pelaut Eropa masih pada tingkat ''membaca peta''. Menurut sejarawan J.J.L. Duyvendak di dalam bukunya, The True Dates of the Chinese Maritime Expedition in the Early Century, pelayaran ini merupakan langkah Kaisar Zhu Di untuk memulihkan kekuasaan China di negara-negara Asia Tenggara. Ekspedisi Cheng Ho, yang ''dibungkus'' dengan misi diplomatik, sesungguhnya tiada lain daripada misi unjuk kekuatan. Satu di antara sekian banyak prestasi gemilang dari seluruh ekspedisi Cheng Ho adalah 24 peta navigasi. Peta ini dicetak dengan nama Zheng He's Navigation Map.

    Dalam peta ini dipaparkan pokok-pokok arah pelayaran, jarak di laut, dan pelbagai pelabuhan, semuanya diuraikan secara rinci. Akurasi peta ini tak kalah jika dibandingkan dengan peta sejenis yang terbit belakangan. Pelayaran dan waktu daerah yang dilewati oleh Laksamana Cheng Ho yaitu; Pelayaran ke-1 antara tahun 1405-1407: Champa, Jawa, Palembang, Malaka, Aru, Sumatra, Lambri, Ceylon, Kollam, Cochin, Calicut. Pelayaran ke-2 sepanjang tahun 1407-1408: Champa, Jawa, Siam, Sumatra, Lambri, Calicut, Cochin, Ceylon. Pelayaran ke-3 antara tahun 1409-1411: Champa, Java, Malacca, Sumatra, Ceylon, Quilon, Cochin, Calicut, Siam, Lambri, Kaya, Coimbatore, Puttanpur. Pelayaran ke-4 antara tahun 1413-1415: Champa, Java, Palembang, Malacca, Sumatra, Ceylon, Cochin, Calicut, Kayal, Pahang, Kelantan, Aru, Lambri, Hormuz, Maladewa, Mogadishu, Brawa, Malindi, Aden, Muscat, Dhufar. Pelayaran ke-5 antara tahun 1416-1419: Champa, Pahang, Java, Malacca, Sumatra, Lambri, Ceylon, Sharwayn, Cochin, Calicut, Hormuz, Maldives, Mogadishu, Brawa, Malindi, Aden. Pelayaran ke-6 antara tahun 1421-1422: Hormuz, Afrika Timur, negara-negara di Jazirah Arab. Dan, pelayaran ke-7 antara tahun 1430-1433: Champa, Java, Palembang, Malacca, Sumatra, Ceylon, Calicut, Hormuz. Di tahun 1416, Ma Huan menulis buku yang terbit dengan judul Ying Ya Sheng Len (Pemandangan Indah di Seberang Samudra). Ketika dulu mendatangi Majapahit (1413), Ma Huan menyebutkan masyarakat Islam yang bermukim di Majapahit berasal dari Gujarat dan Malaka.

    Juga disebutkannya, pada tahun 1400 Masehi, saudagar Islam dari Gujarat dan Parsi sudah bermukim di pantai utara Jawa. Selain itu, di dalam Ying-yai Sheng-lan, dikatakan bahwasannya orang-orang Cina yang tinggal di Majapahit berasal dari Canton, Chang-chou, dan Ch-uan-cu. Mereka kebanyakan bermukim di Tuban dan Gresik, dan menjadi orang kaya di sana. Sedangkan, Gresik awalnya hanya ada ''pantai tanpa penghuni'' sebelum orang Kanton menetap di sana.

    Di Surabaya, sejumlah besar penduduk juga orang Cina. Menurut Ma Huan, kebanyakan orang Cina itu telah masuk agama Islam dan menaati aturan agama. Tetapi, tidak sedikit pula penduduk pribumi yang menjadi orang kaya dan terpandang.

    Dalam melakukan transaksi perdagangan, oleh Ma Huan disebutkan penduduk pribumi telah menggunakan kepeng Cina dari berbagai dinasti. Artinya, bahwa penduduk pribumi tidak mengerti tulisan Cina yang tertera pada kepeng itu sehingga mau menerima uang Cina dari dinasti manapun (Tang, Song, Yuan) yang mungkin sudah tidak berlaku lagi di negeri asalnya. Dari penelitian mata uang logam yang ditemukan di Trowulan, sebagian besar berasal dari Song Utara (960 — 1127) dengan legenda Yuanfeng Tongbao (1078—1085) yang diterbitkan oleh Kaisar Shen Tsung (1067—1085). Selain sebagai alat pembayaran dalam jual beli barang, mata uang kepeng juga digunakan untuk membayar utang piutang, gadai tebus tanah, denda akibat pelanggaran hukum, serta digunakan sebagai benda sesaji, bekal kubur, dan amulet atau jimat. Sementara itu, bagi kebanyakan orang, mata uang logam lokal dikenal dengan istilah uang gobog, dibuat bukan hanya dari tembaga melainkan juga timah, kuningan, dan perunggu.

    Berdasarkan jenis bahan, mata uang lokal yang berkembang sejak abad IX dapat dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu: mata uang emas, perak, tembaga, dan mata uang besi. Di dalam perdagangannya Majapahit mampu menyediakan bermacam-macam komoditi yang dibutuhkan, antara lain cengkeh, pala, merica, kayu cendana, gaharu, kapur barus, kapas, garam, gula, gading gajah, cula badak, dan lain-lain. Adapun barang impor untuk konsumsi di Jawa yang utama adalah sutera, kain brokat warna-warni, dan keramik.

    Dalam muhibahnya yang berkali-kali pelayaran armada raksasa di bawah Cheng Ho mampu menunjukkan kebesaran Tiongkok. Namun kebesaran yang menggentarkan siapapun itu tidak ditujukan untuk sebuah misi invasi ataupun pencaplokan suatu wilayah tertentu.

    Supremasi yang berhasil ditunjukkan Tiongkok melalui ekspedisi Cheng Ho justru digunakan untuk mengamankan persahabatan-persahabatan antar negara ketimbang untuk penindasan atau kolonisasi. Tidak diketemukan catatan maupun kesaksian dari wilayah-wilayah yang dilewati menyebut bahwa armada Cheng Ho telah melakukan agresi apalagi pencaplokan.

    Ikuti tulisan menarik Bayu W |kuatbaca lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.







    Oleh: Priskila Naomi

    19 jam lalu

    Asa

    Dibaca : 79 kali