Cahaya Demak Saat Tenggelam Surya Majapahit - Analisis - www.indonesiana.id
x

Bayu W |kuatbaca

Penulis Manis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Maret 2022

Senin, 27 Juni 2022 05:03 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Cahaya Demak Saat Tenggelam Surya Majapahit

    Raden Patah bersama-sama dengan Walisongo berhasil membuat Jawa tidak gelap sepenuhnya sesudah surya Majapahit tenggelam. Di era awal Demak, orang-orang Sudra yang kehilangan perlindungan dan merasakan beratnya kemerosotan ekonomi akibat cekcok di antara para Ksatria, berbondong-bondong memeluk Islam dan hidup di bawah pranata payungnya yang baru. Di tempat sosialnya yang baru ini para Sudra tidak harus kehilangan apapun kecuali belenggu kesudraannya sendiri.

    Dibaca : 329 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Di tahun 1436 terbit buku yang ditulis oleh Fei Xin berjudul Xing Cha Sheng Lan (Perjalanan Rakit dan Bintang). Pada satu bab dalam buku Fei Xin diceritakan, bila orang luar negeri berkunjung ke kerajaan Jawa, umumnya mereka berlabuh di empat tempat. Masing-masing tempat itu adalah Tuban, Gresik, Surabaya, dan Majapahit. Di Tuban, kata Fei Xin, uang kepingan dari negeri Cina, yang terbuat dari kuningan, juga berlaku sebagai alat pembayaran. Di daerah ini banyak perantau Cina dari Guangdong dan Fujian.

    Belakangan, para perantau Cina itu memberi nama baru pada Tuban, yakni Xin Cun. Artinya, ''kampung baru''. Bila orang berlayar setengah hari dari Tuban menuju timur, tulis Fei Xin, tibalah ia di Gresik. Di sini terdapat lebih dari 1.000 kepala keluarga. Banyak orang datang kemari untuk melakukan transaksi perdagangan. Mereka menjual emas dan permata.

    Dari Gresik berlayar menuju selatan, kira-kira sejauh 20 li (sekitar 10 kilometer), tercapailah Surabaya. Masih menurut Fei Xin, pelabuhan Surabaya dikelilingi air tawar, dan kapal besar sulit merapat di pelabuhan ini. Di sini diperdagangkan kambing, burung beo, kain kapas, dan perak.

    Kemudian, berlayar dengan menumpang kapal kecil sejauh 80 li (40 kilometer) dari Surabaya, orang akan tiba di Cangkir. Setelah mendarat, berjalan ke barat daya selama satu setengah hari, tibalah di kota raja Majapahit. Istana raja dikelilingi tembok batu bata setinggi 9 meter. Bangunan istana tingginya kira-kira 12 meter. Genting istana terbuat dari papan kayu keras yang bercelah-celah (atap sirap). Di dalam istana terdapat papan yang di atasnya terbentang tikar rotan, tempat orang duduk bersila.

    Sang raja memakai mahkota berhias kembang emas, memakai kain berjelujur sutra. ''Baginda tak pakai sepatu,'' tulis Fei Xin dalam bukunya. ''Kalau bepergian jauh, beliau biasanya naik gajah, atau kereta kuda.'' Pada masa Majapahit, hampir semua komoditas dari Asia ditemukan di Jawa. Hal ini karena pelayaran yang ekstensif oleh kerajaan Majapahit menggunakan berbagai jenis kapal, terutama jong, untuk berdagang ke tempat-tempat yang jauh. Ma Huan (penerjemah Cheng Ho) yang berkunjung ke Jawa pada tahun 1413, menyatakan bahwa pelabuhan-pelabuhan di Jawa merupakan tempat perdagangan barang dan jasa yang jumlahnya lebih banyak dan lebih lengkap daripada pelabuhan-pelabuhan lain di Asia Tenggara.

    Pada masa Majapahit pula penjelajahan Nusantara mencapai pencapaian terbesarnya. Ludovico di Varthema (1470-1517), dalam bukunya Itinerario de Ludouico de Varthema Bolognese menyatakan bahwa orang-orang Jawa berlayar ke "negeri Selatan yang jauh" sampai mereka tiba di sebuah pulau di mana sehari hanya berlangsung empat jam dan "lebih dingin daripada di belahan dunia mana pun". Studi modern telah menentukan bahwa tempat tersebut terletak setidaknya 900 mil laut (1666 km) selatan titik paling selatan Tasmania.

    Namun, Majapahit pada akhirnya memasuki penghujung senja ketika mampu dikalahkan oleh Keling yang diperintah oleh Raja Girindrawardhana. Prasasti Petak dan Trailokyapuri menerangkan, raja Majapahit terakhir adalah Dyah Suraprahawa, yang runtuh akibat serangan tentara keling pimpinan Girindrawardhana pada tahun 1478 Masehi. Keterangan ini sesuai dengan Pararaton.

    Sejak itu, Majapahit telah berhenti sebagai pusat kotaraja. Di dalam Pararaton kekuasaan Kertabhumi (Brawijya V) berakhir sebagaimana diberitakan atau dicatat melalui candrasengkala sirna-ilang-kertaning-bhumi. Di situ kejatuhannya disebut karena raja Kadiri yang dendam setelah ayahnya, Suraprabawa atau Bhre Pandanalas, diturunkan dari tahta oleh Bhre Kertabumi.

    Setahun dari kejatuhan Kertabhumi, Masjid Agung Demak berdiri. Tahun pendirian ini diperoleh berdasarkan gambar bulus di mihrab Masjid Agung Demak yang memiliki candrasengkala Sariro Sunyi Kiblating Gusti, tahun 1401 Saka atau 1479 Masehi. Menurut kisah setempat, ketika masjid Demak berdiri, Sunan Bonang didaulat untuk menjadi imam yang pertama.

    Dalam menjalankan tugasnya itu ia dibantu oleh Sunan Kalijaga, Ki Ageng Selo serta wali yang lain. Sebelum Masjid Agung Demak telah berdiri pula pesantren di Tuban yang dibangun oleh Sunan Bonang pada 1478. Selain berhasil membuat di Tuban, Sunan Bonang juga membangun pesantren Watu Layar di Bonang, sebuah desa kecil di Lasem, Rembang. Dan, Sunan Bonang mendirikan pula Masjid Sangkal Daha di Kadiri.

    Pada pembangunan Masjid Agung Demak, turut terlibat pula Syarif Hidayatullah dari Cirebon. Pada awalnya, Syarif Hidayatullah diutus oleh Tumenggung Cakrabuana untuk pergi ke Demak dengan dua tujuan. Pertama, membantu persiapan Demak naik menjadi sebuah otoritas politik yang mampu menaungi masyarakat Islam di tengah tidak tegaknya keberadaan hukum positif negara yang bernafaskan ajaran Hindu dan Budha akibat carut-marut politik bangsawan Majapahit. Kedua, menjajaki kemungkinan Cirebon menjadi wilayah yang merdeka, lepas dari Pajajaran.

    Pada medio 1479 ini, atas musyawarah para wali, Syarif Hidayatullah juga diminta supaya kembali dari Ampel Denta ke Cirebon, guna mendirikan atau mempersiapkan adanya sebuah otoritas Islam di sana. Sesampainya di Cirebon, Pangeran Cakrabuana selaku penguasa Cirebon lalu menyerahkan tampuk pimpinan kepada Syarif Hidayatullah, yang juga merupakan keponakan sekaligus menantunya.

    Oleh para para wali di Jawa, Syarif Hidayatullah dianugerahi gelar sebagai panetep dan panata agama Islam di Tatar Sunda. Syarif Hidayatullah juga disebut sebagai "Pandiin Ratu", karena selain sebagai kepala pemerintahan (penguasa), ia juga menjadi menjadi ulama penyebar Islam yang menjadi anggota Walisongo. Oleh kalangan adat setempat, ia kelak disebut dengan gelar "Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Penata Agama Awaliya Allah Kutubid Zaman Kholipatur Rosulullah SAW".

    Di barat Jawa sendiri, telah didirikan Pesantren Quro di Karawang oleh Syekh Quro sejak tahun 1416 . Syekh Quro adalah Muballigh asal Mekah yang bernama asli Hasanuddin. Makam Syekh Quro terdapat di desa Pulo Kalapa, Lemahabang, Karawang. Syekh Quro menjadi sangat terkenal karena menjadi Guru bagi Nyai Subang Larang, puteri Ki Gedeng Tapa, di masa gadisnya. Nyai Subang Larang yang terkenal karena kehalusan budi dan kecantikannya kemudian dinikahi oleh Jayadewata, putera Prabu Dewa Niskala yang di kemudian hari menjadi raja Pajajaran dan bergelar Sri Baduga Maharaja.

    Dari pernikahan Nyai Subang Larang dan Jayadewata kemudian lahir tiga orang anak, yaitu Raden Walangsungsang, Raden Sangara dan Nyi Ratu Mas Rarasantang. Di kemudian hari, Walangsungsang menjadi tumenggung Cirebon yang aktif menyebarkan Islam. Sedangkan Nyi Ratu Mas Rarasantang kelak menikah dengan Syarif Abdullah, cucu Syekh Maulana Akbar dari Gujarat dan melahirkan Syarif Hidayatullah yang akhirnya dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati.

    Di tahun 1481, Sunan Ampel sebagai pemuka para wali di Jawa wafat. Ia dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya. Di kemudian hari, tugas mengelola pesantren Ampel Denta lalu diambil alih oleh Sunan Giri, yang menggabungkan pesantren Ampel dengan Giri. Di tahun ini diketahui pula bahwasannya kraton di Demak telah berdiri. Berita pendirian ini berdasarkan sinengkalan: Geni Mati Siniram Janmi, 1403 tahun Saka. Dan, Raden Patah menduduki dampar kencana Demak dengan gelar Sultan Syah Alam Akbar Al-Fattah.

    Pada medio tahun 1513, Sultan Demak mengirim armada yang dipimpin oleh Pati Unus untuk sampai di perairan Malaka. Di situ terjadi pertempuran dengan Portugis, namun Portugis berhasil mempertahanka Malaka. Joao de Barros menerangkan, bahwa pada tahun 1513, Pati Unus yang ketika itu masih putra mahkota Kesultanan Demak dan menjabat sebagai Adipati Jepara, berangkat dengan 90 kapal untuk menyerang Malaka ... "membawa 12.000 orang dengan banyak sekali meriam yang dibuat di Jawa, karena mereka itu ahli-ahli besar pengecoran dan segala macam pengolahan besi, dan keahlian lain yang terdapat di Hindia (grandes homens de fundição e de todo lavramento de ferro, e outras que houveram da India)". Berkenaan dengan kehadiran armada Jawa di Malaka, kemahiran orang Jawa dan orang Melayu dalam bidang perkapalan sangat mempesonakan orang Portugis, karena kapal-kapal jung itu ternyata jauh lebih besar daripada kapal-kapal Portugis, dan lambungnya bahkan tidak mempan ditembaki dengan meriam-meriam yang terdapat pada kapal Portugis (lihat misalnya uraian tuntas Manguin 1980).

    Kapal terbesar yang pernah dibangun di Indonesia pra-kolonial ialah jung yang berpenyisihan air 1000 ton, yang turun gelanggang dari Jepara pada tahun 1513. Di tahun 1517, setelah penyerangan terhadap kedudukan Portugis di Malaka, kekuatan Demak-Cirebon dialihkan untuk menggempur wilayah-wilayah Prabu Udara di timur Jawa. Penyerangan ini dilakukan karena Prabu Udara telah membangun persekutuan strategis dengan Portugis di Malaka.

    Raden Patah atau Sultan Syah Alam Akbar Al-Fattah wafat pada tahun 1518. Sebagaimana wasiatnya, Pati Unus lalu diangkat menjadi sultan Demak dengan gelar Sultan Syah Alam Akbar At-Tsaniy (Sultan Syah Alam Akbar II). Pati Unus merupakan menantu Raden Patah dan juga Sunan Gunung Jati. Tome Pires, yang mengenal penguasa Demak dengan sebutan Pate Rodin (Sr) atau identik dengan Raden Patah, menuliskan bahwa ia adalah “persona de grande syso” (Orang besar dengan kebijaksanaan luar biasa) dan “cavaleiro” (ksatria bangsawan). Sedangkan adanya nama lain bagi Raden Patah, Jim Bun atau Jinwen, menurut Slamet Mulyana bermakna “orang kuat”.

    Di masa Raden Patah otoritas Islam telah mengembangkan payungnya hampir di seluruh pesisir utara Jawa. Dari sebagian pulau Madura, kota Gresik-Surabaya, Tuban, Lasem, Demak-Jepara, Cirebon, hingga Karawang. Raden Patah bersama-sama dengan Walisongo berhasil membuat Jawa tidak gelap sepenuhnya sesudah surya Majapahit tenggelam.

    Di era awal Demak, orang-orang Sudra yang kehilangan perlindungan dan merasakan beratnya kemerosotan ekonomi akibat cekcok di antara para Ksatria, berbondong-bondong memeluk Islam dan hidup di bawah pranata payungnya yang baru. Di tempat sosialnya yang baru ini para Sudra tidak harus kehilangan apapun kecuali belenggu kesudraannya sendiri.

    Ikuti tulisan menarik Bayu W |kuatbaca lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.477 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi