Jatuh Hati Ketika Memantaskan Diri

Selasa, 28 Juni 2022 07:25 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ketika seorang wanita sedang masa memantaskan diri, akan ada banyak ujian yang dilalui. Hal ini seperti kekaguman ke Pria manapun ataupun tawaran menjalin komitmen. Berbagai hal ini yang menjadi lika-liku tokoh utama dalam cerpen semi fiksi ini. Tokoh utama pada akhirnya harus berhadapan dengan resiko komitmen dan kekaguman yang hadir di dua pria yang berbeda. Bijaksana itulah keputusan yang harus diambil.

Mengagumi dalam diam, seperti itulah yang sedang kurasakan kepada seorang pria berusia sekitar 29 tahun dan berprofesi sebagai dosen. Pria ini sangat menarik untukku karena memiliki segudang prestasi dari tingkat nasional hingga internasional. Sebagai mahasiswa tingkat akhir berusia 24 tahun yang sedang menjadi mahasiswa berprestasi pemula, aku sangat kagum dengan dosen muda yang baru kutemukan kurang lebih 4 bulan sebelum saling follow di Instagram, dengan awal pertemuan pada sebuah seminar fakultas dan berlanjut di sebuah workshop yang sama.

Menemukan pria baru ini bagiku menjadi kebimbangan tersendiri sebab posisiku yang belum pantas untuk masuk di jenjang pernikahan, sedang tidak jomblo dan memiliki banyak kisah cinta bertepuk sebelah tangan yang cukup menyakitkan hati. Pria ini jauh lebih menarik untukku dari pria lain yang pernah membuatku jatuh hati. Semakin bertambah waktu, pria ini semakin membuatku ingin memilikinya, namun kembali lagi, benteng besar masih ada. Hubunganku yang sedang LDR, aku yang masih tahap memantaskan diri, status antara mahasiswa vs dosen dan trauma luka terdahulu itulah bentengku dengan pria terbaru yang menarik hatiku.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ketakutan terbesarku ke pria baru ini jatuh pada ketakutan akan sikapku ke pria ini. Jika aku tidak bisa menjaga sikap dengan baik, maka bisa hancur hubungan baikku dengan pria baru ini. Namun kembali lagi, hubungan LDR ku yang hampir selesai ini masih menjadi penjaga untuk aku bisa menjaga sikap ke pria lain, termasuk pria baru. Sebab, biasanya ke pria lain sebelum aku memiliki hubungan komitmen dengan seorang pria yang menjadi mahasiswa di Mesir, sikapku ke pria yang sangat aku kagumi itu berujung aku salah tingkah, salah sikap dan sulit mengendalikan diri untuk menghubungi seorang pria yang kukagumi. Maklum, aku wanita yang biasa saja.

Menjaga sikap lebih kuat mulai kulakukan ketika selesai dari sebuah workshop, sebab di saat workshop itu aku berkenalan langsung dengan aria ini karena menjadi satu kelompok dan setelah workshop, saling follow di Instagram. Rasa penasaranku ke pria ini berujung di Instagramnya yang ternyata sungguh luar biasa menarik. Tampak sederhana namun berkelas tinggi. Lulusan pesantren, dan memiliki banyak prestasi tingkat nasional hingga internasional. Ini tipeku banget. Namun kembali lagi, posisi mengharapkan pria ini sedang tidak tepat.

Usai mem-follow Instagramnya, tanpa disangka hari berikutnya pria ini juga mem-follow Instagramku yang isinya cukup sederhana. Membuat aku sangat bahagia, di antara takut. Tetap harus kuhadapi kejadian ini. Berusaha bertanggung jawab atas pilihanku diketahui pria ini di Instagram. Dan hubunganku dengan pria yang baru kukagumi ini masih dalam kondisi baik, jadinya aku akan berusaha semampuku untuk hubungan yang baik dengan paria ini. Cukup kukagumi dalam diam.

Kejadian setelah saling follow di Instagram, lebih ke penyemangat baruku dalam berproses memantaskan diri. Salah satu proses memantaskan diriku yaitu dengan berusaha untuk menyelesaikan skripsi dan seperangkat pelengkap syarat untuk sidang skripsi. Ketika pria ini update status Instagram, aku akan sangat bahagia, begitu juga ketika aku update status Instagram, aku juga akan sangat bahagia ketika Pria ini sudah melihat status Instagramku.

Masa berat dalam hidup mulai ku jalani, ketika aku dihadapkan problematika dengan skripsi, harus putus dengan seorang yang sudah menjalin komitmen denganku selama enam bulan dan harus dihadapkan pada kenyataan kekaguman ke seorang pria. Menjalani masa mengerjakan skripsi itu benar-benar membuat berat dan tambah beban berat dari berbagai sudut, stressnya bisa berlapis. Satu sisi skripsi dengan sekelumit problematikanya dan sisi yang lain harus berhadapan dengan kehidupan yang sudah wajar ada masalah.

Putus dengan seorang pria yang sudah menjalani enam bulan hubungan komitmen lebih disebabkan ketidak cocokan dan tidak ada rasa cinta selama enam bulan komitmen, hambar. Wajar adanya mahasiswa tingkat akhir dari fakultas teknik dengan mahasiswi tingkat akhir fakultas sosial keagamaan ketika mencoba menjalin hubungan serius, akan ada permasalahan di topik obrolan yang sering tidak nyambung. Meski tetap ada jalan tengah dari penengah jurusan yaitu obrolan seputar kehidupan, agama, negara dan hobi. Tetap saja untukku dan seorang pria yang belum pernah kutemui langsung ini, tidak bisa menjadi penengah. Berkali-kali mencoba untuk nyambung dalam obrolan via media sosial, yang ada hanya saling yakin bahwa hubungan komitmen ini harus berakhir. Tidak cocoknya lebih besar dari cocoknya.

Rasa cinta wajarnya di tandai dengan adanya kecemburuan. Hal ini seperti saat aku yang berkali-kali update status Instagram berdua bersama beberapa teman laki-laki, sewajarnya seorang yang memiliki kekasih, akan ada reaksi kecemburuan. Begitu juga ketika pria yang ada di Mesir berkali-kali update foto berdua dengan beberapa wanita lain, seharusnya aku ada reaksi cemburu. Namun kenyataannya di kedua kejadian tersebut, tidak ada reaksi apapun dari aku dan dia terkait kecemburuan. Fakta terungkap menjelang putus, ternyata sama, tidak ada rasa cemburu selama menjalani komitmen. Dalam arti tidak ada cinta di kedua belah pihak. Hanya saat awal menjalani komitmen setelah dikenalkan seorang saudara yang menjadi teman pria tersebut, rasa tanda cinta itu hadir begitu besar, begitu juga dia. Beberapa bulan selanjutnya kembali hambar. Akhirnya hubungan komitmen berakhir dengan baik tanpa memutus silaturahmi. Segala rencana serius, harus padam, dan jadilah mantan komitmen yang menjadi relasi baik.

Pengalaman menjalani komitmen yang berakhir dengan baik tersebut yang membuat Aku berpandangan bahwa untuk pasangan hidup kriteriaku lebih ke seorang yang jurusan di kuliahnya dekat denganku, kalau bisa yang sejurusan. Pria yang baru kutemukan tersebut kembali menjadi perhatianku di antara dunia akademikku. Kuperhatikan pria ini tepat juga, memiliki jalur yang sama dalam agama, prestasi dan jurusan. Namun kembali lagi bentengnya masih tinggi meski sudah berkurang. Aku jomblo, jadi aman saja seorang yang benteng statusnya sudah menjadi jomblo mengagumi pria manapun.

Komitmen baru dengan diri sendiri, setelah putus mulai kubuat dan kujalani. Aku berkomitmen pada diri sendiri untuk fokus memantaskan diri dari segi fisik, akhlak, agama, akademik hingga kedewasaan. Kujalani sampai sungguh pantas dimiliki dan seterusnya. Untuk pernikahan, aku berharap saat diantara usia 27 hingga 30 tahun. Di antara usia itu aku merasa sudah pantas dimiliki seorang pria yang sungguh ditakdirkan untuk mendampingi hidupku hingga maut memisahkan. Berharap yang menjadi jodohku yaitu pria terbaik dari Allah untukku, entah pria baru yang membuatku sangat tertarik, atau pria lain. Aku berpasrah pada takdir terbaik dari Allah untukku. Hal pasti memantaskan diri itu utama.

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Meraki Nuha

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Jatuh Hati Ketika Memantaskan Diri

Selasa, 28 Juni 2022 07:25 WIB
img-content

Ketulusan dan Kehancuran Hati

Minggu, 24 April 2022 08:08 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content

Purata

Selasa, 7 Desember 2021 14:09 WIB

img-content
Lihat semua