Survei Kecerdasan, Indonesia di Mana Posisinya? - - www.indonesiana.id
x

Tenggelam

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 28 Juni 2022 11:59 WIB

  • Topik Utama
  • Survei Kecerdasan, Indonesia di Mana Posisinya?

    Bila di berbagai segi kehidupan saya kupas, maka semua persoalan bangsa, negara, dan rakyat Indonesia ini, akar masalahnya sama, SDM Indonesia masih gagal dalam dunia pendidikan. Sudah begitu, juga jauh dari kehidupan sastra dan bersastra yang mendidik dan mengajarkan tentang moral, budi pekerti, tata krama, sopan-santun, etika, tahu diri, rendah hati.

    Dibaca : 476 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Hingga menjelang usia Republik Indonesia ke-77 tahun, dalam hal pendidikan, Indonesia masih terus terpuruk, bahkan terus tercecer dari negara Asia Tenggara, terutama dalam hal kecerdasan intelegensi (otak) yang berbuntut tidak cerdas personality (pribadi, mental, emosi). Bicara ketidakcerdasan, rasanya di berbagai lini kehidupan di negeri ini, terus menjadi topik utama.

    Kita akan dapat dengan mudah mengidentifikasi sikap, perbuatan, pembicaraan, hingga perilaku tidak cerdas di berbagai ranah kehidupan. Mirisnya, yang teridentifikasi, ketidakcerdasan justru diperankan oleh para elite dan orang-orang yang labelnya terdidik di negeri ini yang seharusnya menjadi panutan dan teladan.

    Di sisi lain, manusia terdidik atau yang sudah cerdas dengan presentase lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia, malah banyak yang kebablasan sampai akhirnya berbuat licik. Takut kehilangan yang bukan milik di sektor politik, pemerintahan, parlemen, usaha, dan lainnya. Menghalalkan segala cara, membodohi, menipu, korupsi, dan sejenisnya.

    Fakta terbaru, kecerdasan Indonesia

    Dilansir dari World Population Review 2022, berdasarkan rerata nilai IQ, ternyata Indonesia ada di peringkat 130 dari 190 negara. Sangat jauh bila dibandingkan dengan Singapura yang sesama negara Asia Tenggara dan ada di peringkat 3 dunia dari 190 negara.

    Sementara, berdasarkan tolok ukur PISA, Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada di 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. Hal ini berdasarkan survei terakhir yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019. Kira-kira hasil survei di 2020-2022 yang belum dirilis, kondisinya bagaimana?

    Atas tolok ukur tersebut, hasil survei memang signifikan dengan fakta dan kenyataan. Tidak seperti hasil survei urusan politik di Indonesia yang jauh panggang dari api, karena hasil survei tergantung pihak mana yang membayar/membiayai dan untuk kepentingan apa.

    Deskripsi dalam sikap-perbuatan tokoh

    Terkait hasil survei tingkat kecerdasan dan literasi yang rendah, dapat dilihat dalam deskripsi perilaku kehidupan sosial Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia di berbagai segi dan bidang kehidupan nyata, akibat dari proses pendidikan yang masih gagal dan terus tercecer.

    Karenanya, tidak heran bila ada SDM di Indonesia di ranah politik yang seharusnya menjadi panutan dan teladan karena sudah duduk di kasta elite, sikap/perbuatan/bicaranya, tetap mencerminkan dirinya tidak cerdas otak dan tidak cerdas mental.

    Mirisnya, para SDM di sekelilingnya juga ikutan tidak cerdas otak dan tidak cerdas mental karena bukannya menjadi penasihat bagi si tokoh, malah terus membiarkan SDM yang ditokohkan atau menokohkan diri, terus bebas bermanuver dan terus membuat blunder karena mengumbar pernyataan yang tidak disaring.

    Hingga pernyataannya menyinggung dan menyakiti masyarakat, sebab tidak atau kurang cerdas otak dan kurang atau tidak cerdas mental, maka akan signifikan berpengaruh pada kualitas kompetensi sesuai bidang yang ditekuni.

    Setali tiga uang, rakyat Indonesia juga mahfum, paham, mengerti, tahu akan dunia politik yang hanya berkutat dan bermain pada kepentingan-kepentingan licik, rakyat hanya dijadikan atas nama. Tetapi skenario dan penyutradaraannya sangat mudah dibaca dan dicerna ke mana arahnya.

    Reshuffle kabinet?

    Saat Presiden membentuk Kabinet Pemerintahan Republik Indonesia (RI), dengan mengangkat para menteri dan pejabat terkait karena kepentingan partai, oligarki, dan dinasti, maka reshuffle kabinet seolah menjadi hal wajar sejak era Reformasi. Dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hingga Presiden Jokowi.

    Pertanyaannya, sudah berapa Menteri dan Pejabat Negara yang terkena reshuffle? Apa alasan reshuffle? Apa karena kinerjanya buruk atau sekadar mengakomodir jatah untuk partai politik dan orang dekat Presiden?

    Dua alasan tersebut, mendeskripsikan gagalnya SDM bersangkutan dalam hal kecerdasan otak dan mental. Direshuffle karena kinerja buruk, siapa yang tak cerdas intelegensi dan personality? Lalu, mengapa sudah dipilih tetapi direshuffle? Berarti tidak cerdas saat memilih? Atau direshuffle demi jatah dan bagi-bagi kursi agar merata?

    Rapor TIPS sepak bola

    Dalam kehidupan nyata masyarakat, semisal di olahraga sepak bola. Kehadiran pelatih asing asal Korea Selatan, Shin Tae-yong (STy) pun berani jujur dan membuka mata publik sepak bola nasional bahwa rapor para pemain Timnas dalam teknik, intelegensi, personality, dan speed (TIPS) juga belum lulus, hingga STy harus mengulang kompetensi TIPS pemain Timnas dari nol lagi.

    Terbaru, ada Trofeo Ronaldinho, tetapi yang punya kepentingan, panitianya, para pelatih dan pemainnya, seperti tidak paham ajang itu untuk apa. Publik sampai dibuat geram.

    Dan, yang terus konsisten memperkeruh suasana dan mengancam disintegrasi bangsa, aktornya para buzzer, sutradara dan siapa yang membiayai, pun terus dibiarkan eksis dan merajalela oleh pihak keamanan. Siapa yang di sini cerdas?

    Bila di berbagai segi kehidupan saya kupas, maka semua persoalan bangsa, negara, dan rakyat Indonesia ini, akar masalahnya sama, SDM Indonesia masih gagal dalam dunia pendidikan. Sudah begitu, juga jauh dari kehidupan sastra dan bersastra yang mendidik dan mengajarkan tentang moral, budi pekerti, tata krama, sopan-santun, etika, tahu diri, rendah hati.

    Ikuti tulisan menarik Supartono JW lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.


    Oleh: Echa Espe

    4 jam lalu

    Jerat

    Dibaca : 80 kali











    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.475 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi