Pelajaran Dari Motor Baca Keliling, Sabar Bila Tidak Dihargai - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Selasa, 28 Juni 2022 07:04 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Pelajaran Dari Motor Baca Keliling, Sabar Bila Tidak Dihargai

    Belajar dari kisah motor baca keliling. Hanya orang dan tempat yang tepat akan menilai suatu barang dengan nilai yang tepat pula.

    Dibaca : 654 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Memang sudah dari dulu ada motor tua di TBM Lentera Pustaka. Motor itu adalah Supra Fit keluaran tahun 1995, manual dan warnya merah. Karena usia motor yang relatif terlalu lama, jadi jarang dipakai. Maka awal tahun 2022 ini, terpikirkan oleh saya untuk dijual saja. Maklum, motor tua sehingga manfaatnya tidak optimal. Selain kurang terawat, motor yang lebih banyaak nganggur-nya. Memang pantas untuk dijual.

    Ikhtiar penjualan pun akhirnya dimulai. Awalnya tanya ke wali baca TBM Lentera Pustaka, kira-kira berapa motor tua warna merah ini? “Yah, kalau motor begini sih, dihargakan Rp. 500.000 juga sudah cakep, pak,” ujarnya. Saya pun merengut alias membatin, “Kok murah banget”.

    Lalu saya coba cek di toko online, kira-kira berapa harga motor tua keluaran 1995? Saat tanya melalui chat, lalu dijawab “Wah kalau tahun 1995 mah, paling  Rp1 juta sudah bagus,” katanya saat membalas chat.

    Padahal tahun 1995 kan nggak tua-tua banget. Tapi kenapa penawaran-nya rendah banget. Bisa nombok banyak dong, kalau mau ganti motor sekalipun bekas juga. Apalagi dibawa ke pegadaian, bisa jadi tidak laku. Maklum, motor tua pula, tidak terawat dan jarang dipakai lagi.

    Dan akhirnya, saya pun memutuskan tidak jadi menjual motor tua warna merah itu. Karena terlalu murah. Hingga akhirnya terpikir untuk dijadikan “MOtor BAca KEliling – MOBAKE”.  Lebih baik dijadikan motor baca untuk sediakan akses bacaan untuk anak-anak kampung yang selama ini tidak punya akses bacaan. Maka sejak 20 Februari 2022, jadilah MOBAKE beroperasi dan menjelajah ke dua kampung di sekitar TBM Lentera Pustaka.

    Alhasil hingga kini, dengan membawa sekitar 300 buku + 2 tikar saat beroperasi, MOBAKE pun digemari anak-anak yang kampung-nya dikunjungi motor baca keliling. Tidak kurang 60-an anak yang akhirnya bisa terfasilitasi untuk membaca buku. Dengan durasi 1,5 jam per sekali keliling. Motor baca keliling yang akhirnya lebih bermanfaat dan lebih berkah. Daripada dijual murah.

    Jadi, apa pelajaran dari motor tua yang akhirnya jadi motor baca keliling?

    Bahwa siapa pun akhirnya bisa belajar. Hanya orang dan tempat yang tepat akan menilai suatu barang dengan nilai yang tepat pula. Artinya, suatu kali bisa saja kita tidak dihargai. Karena kita berada di tempat yang salah. Atau kita berhadapan dengan orang yang salah pula.

     

    Maka dalam hidup, cukup bersabar saat berada di tempat yang salah atau bertemu orang yang salah. Tetaplah ikhtiar lebih baik dan jangan membuang waktu untuk berurusan dengan orang yang tidak menghargai kita. Lakukan saja perbuatan baik kita terus-menerus dan abaikan siapa pun yang tidak menghargai kita. Hingga waktu yang akan membuktikan semuanya. Salam literasi #MotorBacaKeliling #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

    Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.477 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi