Perjalanan Masih Jauh Kutempuh (1) - Fiksi - www.indonesiana.id
x

image: Aksonsat Uanthoeng from Pexels

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Rabu, 29 Juni 2022 13:07 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Perjalanan Masih Jauh Kutempuh (1)

    Menikah atau kawin, bukan perkara remeh temeh. Putusan untuk menghelat hajat, perlu pertimbangan. “Ojo kesusu!” Cerpen ini meniatkan amanat tersebut.  

    Dibaca : 714 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    (Bagian 1)

    SESEORANG menepuk pundakku. Aku menoleh. Rasanya aku mengenalnya. Entah dimana. Ia memandagiku penuh selidik. Aku risih.

                “Ini Dodi?” tegurnya.

                “Anda siapa?” balasku.

                Ia membuka topinya. Wajah itu rasanya memang pernah kukenal. Ia tersenyum.

                “Aku Bambang!”

                “Hmm!”

                Aku berusaha keras untuk mengenalnya secara pasti. Tapi, kira-kira siapa ya? Bambang yang mana, ya? Ada Bambang Sugiyono, Bambang Susilo, Bambang Yudhoyono, Bambang Suprayogi, lalu yang kukenal terakhir ya Bambang Gentholet itu.

                “Lupa?”

                Aku pura-pura tersenyum dan cepat sok akrab. Tapi, sungguh mati, aku masih terus mengingat-ingat Bambang yang kukenal dimana ini? “Oh, tidak!”

                “Dimana sekarang?”

                Kikuk juga mendapat pertanyaan seperti itu. Bukan apa-apa. Soalnya pertanyaan seperti itu, seringkali justru mempunyai makna beraneka.

     “Di sini!” jawabku spontan.

    “Kamu tak berubah, Dod. Masih suka guyon. Gimana, apa sudah married?”

    Aduh!  Bak ditohok pukulan seorang petinju kelas dunia, perutku berasa mual.

    “Kawin, maksudmu?”

    “Ya!”

    “Anda sendiri?”

    “Sudah punya celengan dua.”

    “Sudah dua anakmu?”

    “Ya ..”

    “Oooo, dimana kamu sekarang tinggal?”

    “Sama … disini.”

    Tawa kami pun meledak.

    Bambang terbahak. Aku pun jadi latah terbahak. Sungguh mati terbahakku, sekedar sok akrab saja. Dalam pikiranku, aku masih dihantui oleh rasa yang berkecamuk.

    “Cepat kawin sebelum kiamat mendekat! ”

    “Apa hubungannya kawin sama kiamat?”

     

    “Orang kawin itu sebenarnya cuma soal keberanian. Keberanian mental semata. Banyak orang yang gajina puluhan hingga ratusan juta, namun disebabkan tak ada nyali untuk kawin … ya terus0menerus membujang.”

     

    Ah, sumpah aku tak mengerti dengan jalan pikirannya. Mengapa, ia tiba-tiba khotbah di hadapanku  tentang kawin? Apa sih maksudnya? Nyindir? Atau merasa paling berhasil, karena ia sudah kawin? Aku akui, memang. Hingga usia ketiga puluh, aku belum juga kawin. Bukan karena apa-apa. Akan tetapi, karena apa-apa. Maksudku, karena ada apa-apanya.

     

    BUS yang kutunggu sudah datang. Tanpa sedikit ingin mengetahui alamatnya, aku tinggalkan orang yang mengaku bernama Bambang. Ia menepuk pundakku sekali lagi, sebelum kutinggalkan.

     

    Dalam bus, kudengar percakapan dari dua penumpang yang kebetulan duduk di depanku.

                “Kawin itu enak, lho!” kata penumpang yang satu.

                “O, ya?” sahut penumpang kedua menimpali sekenanya.

                “Sungguh. makanya cepetan kawin. Jadi, merasakan bagaimana nikmatnya kawin. Kalau udah tahu, hmmm nyesel deh. Kenapa baru tahu sekarang? ”

     

    Ah ada-ada saja.

     

    SESAMPAI di rumah,a da surat undangan perkewinan tergelatak di meja belajarku. Di sana tertera: ‘Kawin: Nungky bin Remin dengan Efan bin Anune.’ Tak kupedulikan siapa Nungky dan siapa Efan. Aku Cuma tahu, pengundangnya Pak Ketua RW 05.

                Sorenya aku mendengar kabar, putra kedua Pakde akan dikawinkan bulan depan. Itu, kata adikku yang paling kecil, si  bungsu.  

                “Calon suaminya hebat lho Mas. sudah sarjana, rajin salat dan anak satu-satunya, lagi!” kata si Bungsu bersemangat.

                “Kaya?” tanggapku sekenanya.

                “He-eh. Hebat, ya Mas.”

                “Iya, hebring euy!”

                “Ngomong-ngomong, kapan Mas kawin?”

                “Kapan-kapan!”

                “Kapan-kapan, kapan? Kok selalu begitu jawabannya? Dini kan sudah pengin gendong keponakan.”

                “Kira-kira, kapan enaknya?” godaku.

                “Lho, kok malah tanya. Kan Mas sendiri yang akan menjalani.”

                “Ah, sudahlah. Belajar yang rajin sana! Katanya mau jadi dokter?”

                “Uuuuh!” gerutu si Bungsu.

     

                Adikku berlalu. Aku cuma geleng-geleng kepala. Entah mimpi apa aku semalam. Seharian diberondong dengan satu topik yang sama: kawin.

     

    Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.