Kenapa Pegiat Literasi Susah Menulis? - Analisis - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Rabu, 29 Juni 2022 09:38 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kenapa Pegiat Literasi Susah Menulis?

    Kenapa pegiat literasi harus menulis? Karena setiap praktik baik harus disosialisasikan ke publik. Menulis itu wajib bagi pegiat literasi

    Dibaca : 503 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kenapa saya susah menulis? Mungkin karena saya tidak membiasakan untuk menulis setiap hari.

    Buktinya hingga saat ini, sudah 39 buku saya hasilkan. Sepanjang 12 tahun, dari 2010-2022 ini, rata-rata 3 buku per tahun diterbitkan. Ada yang menulis sendiri, menulis bersama anak atau menulis bersama mahasiswa. Bukunya bisa  diperoleh di toko buku ternama atau toko online. Intinya saya menulis. Sebab menurut saya, ada hal-hal sederhana yang selalu bisa ditulis. Dalam hidup siapa pun, termasuk saya.

    Saat ditanya orang, kenapa saya menulis? Jawab saya, saya menulis untuk diri sendiri. Sebab menulis itu seperti olahraga, atau makan, atau tidur. Untuk menyehatkan pikiran, mencerahkan batin. Agar mampu membangun pikiran baik dan mental yang positif. Maka menulislah agar sehat, jangan hanya ngedumel di media sosial.

    Menulis pula yang bikin saya “berteman” dengan pengalaman, pengetahuan atau perasaan. Menulis sebagai ruang terbuka untuk ber-ekspresi. Apa saja dan di mana saja. Seperti saat bikin tulisan ini pun, saya sedang di Busway 9C menuju Senayan dari Cawang UKI. Lebih baik menulis daripada banyak bicara.

    Dengan menulis pun, saya akrab dengan buku-buku. Termasuk mengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Ketahuilah, tidak ada orang yang mampu menulis tanpa pernah membaca. Seperti tidak ada orang yang pandai bicara tanpa pandai mendengarkan. Karena menulis, kita jadi membaca. Sederhana kan?

    Scripta manent verba volant; yang tertulis akan abadi dan yang terucap akan hilang. Maka saya menulis. Menulis juga perbuatan bukan pelajaran. Menulis itu keberanian bukan kekhawatiran. Menulis harus praktik bukan teori. Jangan terlalu banyak berdiskusi tentang menulis. Karena menulis harus dilakukan. Maka saya sering “memaksa” diri saya dan orang lain untuk menulis.

    Sebagai pegiat literasi, saya pun selalu menulis. Tidak ada aktivitas di TBM Lentera Pustaka yang tidak saya tuliskan. Bila TBM isinya praktik baik, kenapa tidak dituliskan? Selalu ada yang bisa dibagi dan dituliskan di taman bacaan, tanpa terkecuali. Alhamdullah hingga kini, mungkin saya termasuk pegiat literasi yang rajin menulis setiap hari. Silakan di cek di web: www.tbmlenterapustaka.com.

    Perlu diketahui, saya pun tidak menulis untuk cari uang. Bahwa ada tulisan yang diterbitkan di media massa lalu mendapat honor, itu hanya bonus. Saya menulis pun bukan untuk menyelamatkan dunia. Atau mengejar popularitas. Saya menulis karena menulis sudah jadi gaya hidup, sudah jadi kebiasaan. Ibarat “tidak bisa tidur bila belum menulis”. Tiap hari saya menulis. Minimal 300 kata atau bisa juga 6.000 karakter. Tentang apa saja, tentang apa pun. Asal berdasar pengalaman, pengetahuan atau perasaan saya. Bukan pengalaman atau perasaan orang lain, karena itu susah banget. Jujur, jadi orang lain itu susah banget untuk dituliskan. Apalagi dalam kehidupan sehari-hari ya.

    Kenapa saya menulis?

    Karena saya senang dan terbiasa menulis. Seperti kata orang jatuh cinta “Bila sudah cinta, apa pun pasti senang dikerjakannya”. Dan ketahuilah, resep menulis yang paling jitu adalah “menulis, menulis, dan menulis” bukan yang lainnya. Salam literasi. #KenapaSayaMenulis #PegiatLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

     

    Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.477 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi