Capres Pilihan ‘King Maker’ - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 29 Juni 2022 13:03 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Capres Pilihan ‘King Maker’

    Bila para king maker lebih menentukan, seberapa besar sesungguhnya kedaulatan rakyat untuk memilih pemimpinnya sendiri? Inilah realitas politik, rakyat diminta memilih capres/cawapres saringan para king maker, tak boleh dan tak bisa memilih yang lain.

    Dibaca : 1.482 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Manakah yang lebih heibat dan bergengsi, menjadi ‘king’ alias raja atau menjadi ‘king maker’—yang menjadikan seseorang raja? Di jagat politik modern, king itu bisa jadi hanya kepanjangan lidah dan tangan king maker, walaupun di saat-saat tertentu dia bandel dan menggigit balik king maker. Mungkin pula, sesekali ia ingin menunjukkan kepada handai taulan bahwa ia bisa mandiri.

    Di sisi lain, elite memilih jadi king maker setidaknya karena salah satu dari dua alasan, meskipun mungkin ada alasan-alasan lain. Pertama, sebab ia merasa tidak mungkin jadi raja, maka ia memilih jadi king maker. Biarpun ia habis-habisan berusaha menggalang dukungan, bila para king maker tidak berkehendak menjadikannya raja, maka tidak jadilah dia. Maka, bergabunglah dia dengan para king maker lainnya agar tetap bisa berperan.

    Kedua, karena ia sudah pernah jadi raja atau ratu, tapi kemudian tidak bisa menjadi raja lagi walaupun ambisinya masih setinggi Gunung Semeru. Mungkin saja ia sudah berusaha mengutak-atik rumus, aturan main, dan menggalang relawan yang tidak bekerja secara sukarela agar ambisinya terwujud, namun ternyata mentok. Para king maker juga menolak dia jadi raja [lagi]. Karena itulah, ia memilih bergabung dengan para king maker ketimbang tidak punya apa-apa.

    Dengan menjadi bagian dari kelompok king maker, mantan king ini merasa masih bisa bermain di panggung politik, memainkan bidak-bidak yang senantiasa senang walaupun dipindah-pindah sesuka hati. Para bidak ini justru merasa pemindahan itu wujud dari kepercayaan king maker kepada mereka.

    Mantan king yang jadi king maker pada umumnya juga punya tanggungjawab serius memikirkan masa depan politik keturunannya. Lantaran itulah, mereka ingin tetap berada di dalam gelanggang politik. Bagi mereka, menjadi begawan yang memberi nasihat, saran, dan berbagi pengalaman dengan mengenyampingkan kepentingan pribadi belum lagi tiba waktunya.

    Bagi mereka, ini bukan semata-mata perkara memenangkan calon king pilihan mereka, melainkan upaya memperoleh jaminan bagi masa depan politik keturunan mereka. Langkah-langkah membangun jejaring pengaman penting dilakukan agar tidak ada rintangan dan gangguan yang tidak bisa dikendalikan dan diatasi. Calon king pilihan mereka itu harus dapat memberi jaminan bagi masa depan keturunan mereka.

    Karena itulah, mereka sangat antusias dalam menentukan siapa capres dan cawapres yang bakal diusung. Masing-masing king maker membuat kalkulasi untung rugi, risiko, konsekuensi, dan ukuran-ukuran lain layaknya mengelola future trading. Mereka merancang sejumlah skenario yang memungkinkan mereka tetap eksis di jagat politik untuk mengamankan jalan bagi keturunannya.

    Bila para king maker lebih menentukan, seberapa besar sesungguhnya kedaulatan rakyat untuk memilih pemimpinnya sendiri? Inilah realitas politik, rakyat diminta memilih capres/cawapres saringan para king maker, tak boleh dan tak bisa memilih yang lain. >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.