Perjalanan Masih Jauh Kutempuh (2) - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Risk alma konusunda insan doğası gereği kaçınmaktadır. Ancak bir girişimci için veya iş dünyasında olan herhangi biri için risk olmazsa olmaz

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Rabu, 29 Juni 2022 19:17 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Perjalanan Masih Jauh Kutempuh (2)

    Menikah atau kawin, bukan perkara remeh temeh. Putusan untuk menghelat hajat, perlu pertimbangan. “Ojo kesusu!” Cerpen ini meniatkan amanat tersebut.

    Dibaca : 816 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    (Bagian 2)

     

                Mungkin ini teguran. Atau lambing, bahwa secepatnya aku mesti segera kawin. Dulu, sewaktu tunangan calon mertua pesan kepadaku begini:

               “Jangan keburu-buru kawin. Biar calonmu lulus dulu. lalu kerja. Lalu punya penghasilan tetap, bisa beli rumah. bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga. Lalu supaya rumah tangga kalian bisa bahagia ….”

                Padahal, untuk memenuhi amanat itu berarti aku harus sabar selama lima tahun. Sabar menunggu. Calonku kini baru memasuki sebuah perguruan tinggi. Ini berarti, menunggu hingga lulus msih tersisa waktu sampai empat tahun. Ini pun kalau otak calon sitriku cemerlang. Apalagi kuliahnya di swasta. Kata orang, kuliah di perguruan tinggi swasta harus kuat uang saja. Sebab, sedikit-sedikit uang. Per mata kuliah yang bobotna Cuma 2 SKS, harus bayar sekian ratus ribu rupiah per SKS-nya.

     

                Belum lagi selesai kuliah, ia pun harus menunggu panggilan kerja dari lamaran yang diajukannya. Harus berapa tahun lagi aku menunggu? Mana tahaaaaann? Kata tetangga sebelah, mencari pekerjaan di zaman kini susah. Kalau tak ada orang dalam atau koneksi atau yang bawa, semisal saudara susah cari kerja. Makanya, jumlah penganggur kian meroket. Banyak tenaa kerja yang belum mendapat lapangan pekerjaan. Banyak pengangguran intelektual.

     

                Ya, kalau calon istriku orang yang berjiwa kreatif dan mandiri. Tidak pasif. Kerja apa saja. Pokoknya: kerja! Atau syukur-syukur bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Jika tidak? Mana tahaaaaann? Kata orang lagi (!),  lowongan kerja yang dibuka sekarang ini suka ngeledek. Mengapa? Setiap lowongan kerja yang dibuka, selalu menyertakan dan mengharuskan ua tahun. si pelamar harus sudah berpengalaman selama paling sedikit dua tahun. Mana tahaaaaann?

     

                Aku merenung. Alangkah susahnya menimbang, mengingat, dan memutuskan persoalan ini? Repotnya lagi, hingga kini aku belum mendapat pekerjaan tetap. Honorku sebagai kartunis hanya mampu tutup sedikit lubang hutang. Artinya, tak kurang dan tak lebih cuma mampu untuk biaya operasional: beli rokok dan pulsa internetan. Lha, kalau misalnya aku nekad kawin? Apa kata oang nanti? Bagaimana biduk bahtera rumah tangga yang bakal kujalani nanti?

     

                TIBA-TIBA aku menemukan gagasan. Malam ini aku menemui calon mertua dan istriku.

              “Saya kira kami segera kawin Pak!” kataku membuka pembicaraan. Mertua (masih calon) tapak bingung. Begitu juga dengan calon istriku.

             “Ya, kami harus segera kawin! kalu tidak, aku takut jalan pikrianku segera berubah. Aku takut, kalau-kalau seleraku untuk kawin sudah lenyap. Ini janan sampai terjadi, Pak. Lagian umurku sudah cukup. Cukup untuk kawin. Umurku kini sudah berkepala tiga. Aku kasihan dengan keturunanku kelak.

           Sementara ia masih kecil-kecil aku sudah tua, dan kalau mereka sudah dewasa kami sudah renta. Aku mohon dengan sangat, Bapak dan Ibu meluluskan permintaanku! Sebab, kalau tidak, rasanya di antara kita tidak pernah ada keterbukaan dalam bersikap. Di antara kita tidak ada komunikasi. Bapak hanya mementingkan kepentingan sendiri. lalu aku menderita sendiri pula. Bagaimana Pak? Bagaimana Bu?”

                 “Kapan kalian akan kawin?” jawab Calon Mertuaku tak kuduga.

                  “Terserah Bapak dan Ibu saja!”

                  “Kamu sudah dapat pekerjaan?”

                 “Inilah, Pak! Tapi aku kira tidak ada masalah, kan? Banyak orang ketika kawin lalu malah kaya raya. Karena kawin malah akan membawa berkah. tidak ada masalah, kan Pak?”

               “Gundulmu! Bapak dulu ngomong apa sama Bapakmu? Juga kamu? Biarkan calon istri ini lulus dulu, dapat pekerjaan dulu. lantas kamu juga dapat pekerjaan, lantas kalian kawin. nah, kenapa tiba-tiba gini? ”

              DUA TAHUN kemudian, terjadi berbagai perubahan. Aku sudah menjadi karyawan di sebuah media massa cetak ternama negeri ini. Gaji di atas cukup. Dapat perumahan cluster seluas 300 m2 beserta mobil, dengan status kepemilikan pribadi.

            Calon mertuaku sudah agak tua.  Oh, ya perlu aku Anda ketahui, aku sering ditugaskan di luar kota. Selama dua tahun pula, aku jarang pulang. Calon mertuaku, begitu aku datang memberondong dengan basa-basi. Mereka mendesakku agar sesegera mungkin mewujudkan keinginanku tempo dulu: kawin!

              “Aku belum mau kawin, Pak. Calon istriku juga  belum lulus. Belum kerja, dan perjalanan karierku masih jauh kutempuh. ” 

    Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.