Bertanya kepada Guru (2) - Fiksi - www.indonesiana.id
x

ilustr: Asia Marosa/EyeEm/Getty Images

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Jumat, 1 Juli 2022 08:52 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Bertanya kepada Guru (2)

    Belajar tanpa guru (suka) keliru. Bertanya tentang sesuatu kepada guru yang memang ahlinya, selalu menemu jawaban bijak. Cerpen ini mengungkapkannya.

    Dibaca : 788 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    (Bagian 2)

     

                “Mengapa?”

                “Dia yang membuat kita hidup, tak pernah jera menerima umat-Nya yang mau bertobat dari benaman lumpur dosa. Dia selalu mendengar keluhan kita, dan memberikan jalan keluar yang terbaik. Alangkah indahnya hidup dengan jiwa yang damai dan selalu diberikan petunjuk-Nya. Aalangkah itu terasa pada saat orang rebut menggunjingkan ihwal hidup bahagia, hidup yang indah dan seterusnya.”

                “Apa makanya guru?”

            “Memulai sesuatu dengan bijak, terpulang kepada diri kita sendiri sebagai manusia. Sejauh manakah penghayatan kita terhadap hidup dan kehidupan ini? Semakin mendalam penghayatan kita terhadap hidup, terasa semakin bernilai rasa yang selama ini kita cap sebagai keburukan. Air yang mengalir di sungai, angin yang meniup pepohonan, matahari yang selalu terbit dan tenggelam, dan rembulan yang terkadang purnama; mengisyaratkan makna keindahan yang seyogyanya dapat tertangkap oleh kita sebagai keindahan yang diberikan alam terhadap hidup dan kehidupan ini.”

                “Tuhan adil?”

                “Ya, sejauh kita pun memahami keadilan dan kasih itu serta memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Bukan disalahgunakan. ”           

                “”Tuhan ada?”

                “Benar. benar sekali, anakku!”

                “Guru, aku masih ingin bertanya.”

                “Bertayalah!”

                “Orang sering mengatakan kepadaku tentang makna kehidupan.”

                “Apa yang dikatakannya?”

                “Hidup adalah mencari. Bagaimana pendapat guru?”

                “Konotasi yang diberikan dari kata mencari itu sendiri cukup banyak ditafsirkan orang, sehingga ia tidak pernah rampung dipersoalkan. Hanya perlu kamu ingat, dari sekia yangn pendapat dilontarkan, ada satu garis titik temu. Itu berupa garis vertikal dan horisontal. Dengan kata lain, ada kehidupan dunia dan akhirat. Nah, rupanya manusia selalu mencari keduanya dalam hidup dan kehidupan. Namun, kita harus mulai menemukan jati diri. Ini yang paling anakku!”

                “Jika sudah?”

                “Becerminlah, siapakita sebenarnya? Amati baik dengan cermat!”

                “Lantas?”

                “Mulailah kita melangkah dari nol, satu, dua, tiga, empat, lima …”

                “Tidak merangkak guru?”

                “Tahapan yang dilakukan kita setelah menemukan jati diri merupakan langkah-langkah. Mengayunkan langkah dengan pasti menyongsong esok. raih segala cita dan cinta! Dengan itu, semua angan jadi nyata. kenyataan yang mewujud akan mengubah dirinya menjadi keindahan.”

                “Sesudah itu, guru?”

                “Tentu melalui proses, proses, proses, dan p-r-o-s-e-s!”

                “Artinya; aku mulai dengan nol guru?”

    ”Harus dari nol dan terussssssss ke garis sasaran!”

                “Hingga aku menemuka diri. Maksudku jati diri?”

                “.. dan Tuhanmu!”

                “Semudah itukah guru?”

                “Tnetu berproses. Ke garis horizon kau harus banyak menatap dan menghadapi kenyataan dalam hidup dan kehidupan. Ke garis vertical, kita harus selalu mendekat, pasarah, dan  pandai bersyukur kepada-Nya!”

                “Caranya?”

                “tawakal terus-menerus!”

                “Kapan mulai dan berakhir?”

                “Setiap memulai pasti ada akhirnya. Sebaliknya, sesuatu yang berakhir akan kembali ke awal lagi dengan hal baru.  Persoalan baru.”

    “Seperti roda pedati yang berjalan di atas tanah berkerikil?”

    “Tepat sekali!”

    “Jadi, kita boleh mengatakan: hidup ini berputar terus-menerus, begitu?”

    “Seperti cita-cita yang dicanangkan ke atas langit paling atas. Kita terus berupaya menembusnya sampai ke tujuan yang dikehendaki-Nya. Tanpa harus putus asa.”

                “Jika jatuh sebelum mencapai tujuan?”

                “Sudah kukatakan, jatuh bangun merupakan pengantar dalam memulai hidup dan kehidupan. untuk itu, bersabarlah agar kita mengerti nikmat, kasih, dan keadilan yang diberikan-Nya.”

                “Jika tak sanggup, guru?”

                “Meminta petunjuk kepada-Nya!”

                “Kalau petunjuk tak pernah datang?”

                “Itu isyarat bahwa kau tak pernah berjalan di garis vertikal. Nah, mulailah dari nol. Berjalan di garis itu, tak sesulit yang kau bayangkan. Tuhan akan selalu menolong seseorang yang mau memulai berusaha.”

                “Caranya?”

                “Mulailah dari nol!”

                “Dengan berproses?”

     

    (Bersambung)

    Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: Merta Merdeka

    1 hari lalu

    Haha huhu~

    Dibaca : 119 kali







    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.477 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi