Keluar Dari Diri Sendiri - Analisis - www.indonesiana.id
x

image: Lifehack

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Jumat, 1 Juli 2022 11:50 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Keluar Dari Diri Sendiri

    Keluar dari diri sendiri bisa membuat kita mampu melihat banyak hal. Apakah ini klenik? Sila baca terus.

    Dibaca : 1.118 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

    Barangkali Anda sudah pernah mendengar frasa ngrogoh sukmo dalam bahasa Jawa.  Ini adalah nama sebuah ilmu di kalangan orang Jawa. Saya belum pernah melihat sendiri sih, hanya sering mendengar ceritanya. Konon orang yang memiliki ilmu ini mampu mengeluarkan rohnya dari badannya. Rohnya lantas bisa jalan jalan ke mana mana dengan terbang. Terbangnya gratisan kaya Superman, bukan dengan naik pesawat. Tapi konon terbangnya berdiri, bukan tengkurap seperti Superman.

    Kali ini kita tidak akan membahas tentang ilmu ngrogoh sukmo tapi sesuatu yang beda.  Sepintas topiknya sama. Keluar dari diri sendiri. Apa maksudnya? Mari kita cermati dulu quote dari Maulana Jalaludin Rumi, sang mestro sufi.  

    “If you could get rid of yourself just once, the secret of secrets  would open to you. The face of the unknown, hidden beyond the universe would appear on the mirror of your perception.”  (Rumi)

    Jika kamu bisa keluar dari dirimu sekali saja, rahasianya rahasia akan terbuka untukmu.  Wajah dari yang gaib, yang tersembunyi di balik jagad raya akan muncul di cermin persepsimu.     Demikian kalimat mutiara dari Maulana Jalaludin Rumi yang akan kita bahas kali ini. 

    Menguasai diri sendiri

     

    Saya memiliki dugaan bahwa Rumi menganjurkan kita membebaskan diri dari perangkap egoisme yang ekstrim.  Ini memang masalah agak pelik.  Di satu sisi kita harus membuat prioritas mengutamakan kepentingan sendiri dulu.  Ini ada baiknya, ada benarnya.  Meskipun demikian kalau kebablasan sampai menjadi ekstrim ini bisa menjadi bahaya buat diri kita sendiri, keluarga dan bahkan masyarakat.  Banyak sekali orang yang terjebak pada masalah ini.  Repotnya masalah ini tersamar, tersembunyi jadi seolah tidak ada masalah.

    Mengutamakan kepentingan pribadi yang ekstrim bisa menjadi bumerang, bisa merugikan diri sendiri.  Barangkali kita sudah melihat di tempat kerja atau di lingkungan sosial kita, orang yang sangat berambisi mengincar kedudukan, harta, kehormatan dll.  Saking bernafsunya dia sampai menghalalkan segala cara, menganggap semua cara halal asal tujuan tercapai.  Dalam kepustakaan barat ada sebuah buku yang ditulis oleh Niccolo Machiavelli dalam bahasa Italia, judulnya  “Il Principe” (Sang Pangeran),  yang mengajarkan prinsip itu.    Tanpa pernah membacanya banyak orang sudah mempraktekkannya.

    Selain mengundang banyak musuh, orang yang menganut prinsip itu akan ‘buta’  mata hatinya.  Meskipun mata nalarnya bisa saja sangat tajam.  Kalau terbiasa melanggar aturan Allah swt untuk mencapai tujuannya maka mata hatinya akan tertutup.  Dia tidak akan melihat keindahan, dan kebenaran ajaran Allah swt.  Dia mungkin saja sukses menggapai kedudukan tinggi dan harta banyak, tapi tidak susah menebak arah hidupnya ke mana.  Selain dirinya sendiri maka dia sejatinya juga ikut menjerumuskan keluarganya.  Anak istri yang diberi harta dari hasil perbuatan tidak benar akan ikut menjadi tidak benar juga.  Mungkin anda sudah sering melihat keluarga orang yang demikian.

    Oleh karena itulah Rumi menganjurkan kita keluar dari perangkap egoisme ekstrim ini. Dengan kata lain kita harus bisa menguasai diri sendiri.  Pertanyaannya, bagaimana caranya membebaskan diri dari egoisme, dari nafsu?  Jawabannya panjang.  Pada intinya ikuti saja semua ajaran Al Qur’an.   Kalau sudah mempraktekkan dengan baik nanti anda akan melihat sendiri.  Hati anda akan sehat, lembut dan bersih.  Mata hati anda akan terbuka.  Jadi anda akan terbimbing oleh wahyu Allah swt.  Sukses memiliki kedudukan tinggi dan harta banyak tidak akan membutakan mata hati anda.  Tidak memiliki kedudukan tinggi dan tidak memiliki harta banyak juga tidak akan menjadi masalah.  Dalam keadaan apapun anda akan menikmati kebahagiaan.

    Merajai diri sendiri, membuka mata hati

     

    Orang yang sudah mencapai tahapan tertentu akan melihat apa yang orang awam tidak melihat.  Orang yang sudah memiliki tiga mata alias trinetra, yatu mata raga, mata nalar dan mata hati akan melihatnya.  Itulah barangkali yang dimaksud oleh Rumi dalam kalimatnya di atas.   Barangkali anda sudah hafal di buku mana ada bahasan tentang trinetra ini.

    Melihat dari perspektif lain

     

    Setelah ketiga mata awas, kita akan mampu melihat dari perpektif lain. Dalam bahasa Inggris ada peribahasa “Always put yourself in other’s shoes.  If you feel hat it hurts you, it probably hurts the other person too”  (Rachel Grady) Maksudnya lihatlah dari sudut pandang orang lain. Upayakan jangan menyakiti liyan.  Dalam bahasa Jawa ada frasa yang maksudnya serupa. Tepo seliro.  Terapkan pada diri sendiri. Kalau sakit ya orang lain sakit juga. Maksudnya anjuran memahami perasaan orang lain.

    Ringkasan

     

    Manusia punya potensi besar tapi nafsunya dan egonya menjadi kendala. Apabila manusia sudah bisa menguasai nafsu dan egonya maka dia akan menguasai dirinya sendiri.  Ibadah akan membuat manusia menjadi hamba Allah saja, bukan hamba nafsunya. Maka dia akan bisa ‘lepas dari dirinya sendiri’.  Mungkin dalam istilah lain dia mampu lepas dari ikatan primordial.  Dia akan mampu melihat dari perspektif lain. Dia akan bisa melihat dari sudut pandang liyan. Dia bisa berempati. Maka dia bisa memikirkan kepentingan pihak lain dan memberi manfaat buat liyan.  Monggo berlatih keluar dari diri sendiri.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.