75% Taman Bacaan di Indonesia Bersifat Mandiri, Apa Risikonya? - - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Senin, 4 Juli 2022 18:57 WIB

  • Topik Utama
  • 75% Taman Bacaan di Indonesia Bersifat Mandiri, Apa Risikonya?

    75% taman bacaan di Indonesia bersifat mandiri alias otonom. Maka mereka berjuang keras untuk tetao eksis di era digital.

    Dibaca : 328 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Survei Tata Kelola Taman Bacaan tahun 2022 menyimpulkan 3 dari 4 taman bacaan di Indonesia atau 75,5% yang ada berjenis mandiri atau dikelola secara independen. Sementara taman bacaan yang tergabung dengan lembaga Pendidikan formal seperti PAUD/PKBM/SKB/Sekolah 21,6%, serta 2,9% lainnya. Itu berarti, 3 dari 4 taman bacaan di Indonesia bersifat mandiri.

     

    Taman bacaan yang bersifat mandiri, sejatinya lebih independen dan tidak tergantung pada lembaga atau pemerintah. Biasanya taman bacaan yang mandiri bersifat otonom dan dikelola sendiri oleh pendiri atau pengelolanya. Ada atau tidak ada bantuan, taman bacaan yang mandiri selalu berjuang untuk menegakkan kegemaran membaca anak-anak. Maka wajar, terkadang taman bacaan yang mandiri dihadapkan pada persoalan operasional dan finansial.

     

    “Survei tata kelola taman bacaan ini membuktikan jumlah taman bacaan yang dikelola swadaya atau mandiri lebih banyak. Karena itu mereka lebih independent dan otonom dalam menjalankan program literasi dan aktivitas TBM. Ke depan, seharusnya pemerintah daerah dan korporasi bisa mendukung taman bacaan yang swadaya” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka di Bogor sekaligus pelaksana Survei Tata Kelola Taman Bacaan tahun 2022.

     

    Taman bacaan yang mandiri biasanya memiliki inisiatif untuk tetap eksis, di samping harus kreatuf agar taman bacaannya tetap dapat bertahan. Mencari buku sendiri, menggaet anak-anak pembaca sendiri, bahkan tata laksana taman bacaannya pun digagas sendiri. Intinya, agar taman bacaannya diminati anak-anak dan masyarakat. Jadi, taman bacaan yang mandiri lebih profesional dan tidak birokratif. Orientasinya punya manfaat yang besar untuk masyarakat, di samping agak idealis dalam menjalankan peran taman bacaannya.  

     

    Untuk diketahui, Survei Tata Kelola Taman Bacaan tahun 2022 ini melibatkan 156 pegiat literasi dari 27 Provinsi di 91 Kabupaten/Kota di Indonesia. Selain untuk memberi infomasi berbasis data ilmiah, survei ini bertujuan untuk memetakan realitas objektif yang ada di taman bacaan di Indonesia.

     

    Sekalipun bersifat otonom, taman bacaan yang mandiri sangat menunggu dapat berkolaborasi dengan berbagai pihak. Karena biasanya, taman bacaan mandiri lebih berpegang pada tujuan literasinya di masyarakat. Dan bagusnya, taman bacaan mandiri tidak menggantungkan diri kepada siapa pun. Salam literasi #SurveiTataKelolaTBM #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

    Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.


    Oleh: Echa Espe

    6 jam lalu

    Jerat

    Dibaca : 86 kali











    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.478 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi