Bahasa dan Budaya di Indonesia - Analisis - www.indonesiana.id
x

Rohim Koebanu

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 4 Juli 2022

Selasa, 5 Juli 2022 09:35 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Bahasa dan Budaya di Indonesia

    Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya mengandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, serta kebiasaan- kebiasaan dari suatu kelompok masyarakat. Sedangkan bahasa adalah sebagai alat komunikasi secara genetis hanya ada pada manusia

    Dibaca : 166 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bahasa Dan Budaya

     

     Satu lagi yang menjadi objek kajian linguistik makro adalah mengenai hubungan bahasa dengan budaya atau kebudayaan. Apakah bahasa yang merupakan alat komunikasi verbal milik manusia itu merupakan bagian dari unsur kebudayaan atau bukan. Kalau bahasa merupakan bagian dari kebudayaan, lalu wujud hubungannya itu bagaimana kalau bukan merupakan bagian dari kebudayaan, wujud hubungannya itu bagaimana pula.

     Dalam sejarah linguistik ada suatu hipotesis yang sangat terkenal mengai hubungan bahasa dan kebudayaan ini. Hipotesis ini dikeluarkan oleh dua orang pakar, yaitu Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf ( dan oleh karena itu disebut hipotesis Sapir-Whorf ) yang menyatakan bahwa bahasa mempengaruhi kebudayaan. Atau dengan lebih jelas, bahasa itu mempengaruhi cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya. Jadi, bahasa itu menguasai cara berpikir dan bertindak manusia. Apa yang dilakukan manusia selalu dipengaruhi oleh sifat-sifat bahasanya.

    Misalnya, katanya, dalam bahasa bahasa yang mempunyai kategori kala atau waktu, masyarakat penuturnya sangat menghargai dan sangat terikat oleh waktu. Segala hal yang mereka lakukan selalu sesuai dengan waktu yang telah dijadwalkan tetapi dalam bahasa-bahasa yang tidak mempunyai kategori kala masyarakatnya sangat tidak menghargai waktu. Jadwal acara yang telah disusun seringkali tidak dapat dipatuhi waktunya. Itulah barangkali sebabnya kalau di Indonesia ada ungkapan “jam karet”, sedangkan di Eropa tidak ada.

    Hipotesis Sapor-Whorf ini memang tidak banyak diikuti orang tetapi hingga kini masih banyak dibicarakan orang termasuk juga dalam kajian antropologi. Yang banyak diikuti orang malah pendapat yang merupakan kebalikan dari hipotesis Sapir-Whorf itu, yaitu bahwa kebudayaanlah yang mempengaruhi bahasa umpamanya, karena masyarakat inggris tidak berbudaya makan nasi, maka dalam bahasa inggris tidak ada kata untuk menyatakan padi, gabah, beras dan nasi. Yang ada Cuma kata rice untuk keempat konsep itu.

    Sebaliknya karena bangsa Indonesia berbudaya makan nasi, maka keempat konsep itu ada kosakatanya. Masyarakat Eskimo yang sehari-hari bergelut dengan salju mempunyai lebih dari sepuluh buah kata untuk menyebut berbagai jenis salju. Sedangkan masyarakat indonesia yang tidak dikenai salju hanya mempunyai satu kata yaitu salju. Itu pun serapan bahasa arab.

     Kenyataan juga membuktikan, masyarakat yang kegiatannya sangat terbatas, seperti masyarakat suku-suku bangsa yang terpencil hanya mempunyai kosakata yang juga terbatas jumlahnya. Sebaliknya, masyarakat yang terbuka. Yang anggota-anggota masyarakatnnya mempunyai kegiatan yang sangat luas, memiliki kosakata yang sangat banyak. Bandingkanlah, dalam kamus Inggris Webster’s terdaftar lebih dari 600.000 buah kata, Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak lebih dari 60.000 buah kata.

     Karena eratnya hubungan antara bahasa dengan kebudayaan ini, Maka ada pakar yang menyamakan hubungan keduanya itu sebagai bayi kembar siam, dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Atau sebagai sekeping mata uang sisi yang satu adalah bahasa dan sisi yang lain adalah kebudayaan.

    Ikuti tulisan menarik Rohim Koebanu lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.