Sketsa: Bualan Pak  Bual (1) - Analisis - www.indonesiana.id
x

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Selasa, 5 Juli 2022 15:53 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Sketsa: Bualan Pak  Bual (1)

    Omong kosong atau membual itu semacam paradoks. Antara harapan dan kenyataan, kurang klik. Sosok Pak Bual, sekadar perumpamaan pada sketsa ini.

    Dibaca : 444 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Bagian (1)

    “Paaaak!” teriak Mak Bual.

    “Hmmm ... ada apa?”sahut Pak Bual tak acuh.

    “Nasib kita kok tak pernah berubah. Dulu miskin. Sekarang melarang, kere.”

    “Hmmm.”

    “Orang-orang sudah hidup enak.Punya rumah bagus. Kendaraan bagus. Tapi kita? Jangankan rumah dan kendaraan bagus, gubuk pun nebeng di  bantaran kali. Sewaktu-waktu, bisa digusur Satpol PP atau malah diterjang banjir.”

    “Jangan ngelah-ngeluh. Kalau aku menang taruhan ... kalau main kartuku lagi hoki, kita bakal jadi bos eksekutif. Kayak si Bento-nya Mas Iwan Fals dan Sawung Jabo.”

    “Bapak ini gimana sih? Diajak rundingan, kok jawabannya nglantur. Sengak pula!”

    “Habis, mau ngapain lagi? Dagang di kakilima diuber-uber Satpol. Kerja kantoran, tak mungkin. mau nimbrung di bursa efek, nggak ada cuan. Ya sudah,kita nikmati aja keadaan ini. Daripada daripada kan mendingan. Mendingan berkhayal.”

    “Iya. Tapi jangan hanya berpangku tangan dong. Gimana masa depan anak-anak kita: Ngablu, Ngawag, Ngacho, dan Ngachir? Mereka mulai beranjak remaja. Bapak nggak kasihan sama mereka? Bapak nggak kasihan karena mereka putus sekolah?”

    “Ah sudahlah jangan nyinyir! Aku pusing!”

    “Kerja kok Cuma judi, mabook ...”

    “Diam, kataku!”

    Sejak itu Mak Bual tak mau lagi rundingan. Untuk apa, kalau yang diajak berunding bisanya cuma mencak-mencak? Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Tapi, seenak-enaknya sakit hati toh masih sakit juga ya?

    Mak Bual putarotak. Demi hidup ia harus ikhtiar. Usaha apa pun, yang peting halal. Kalau saja hidup tak perlu makan, pikirnya.

    Ketika Pak Bual sedang di luar, Mak Bual diskusi dengan anak-anaknya. Si Ngablu yang kebetulan akan nonton layar tancap di kampung sebelah, dicegah. Begitu juga dengan anak-anak yang lain, yang sudah siap mau jalan entah kemana dicegah Emaknya.

    Topik diskusi yang akan dibahas adalah “Upaya mengatasi lilitan nasib.” Mak Bual bertindak sebagai moderator, sekaligus notulen. Diskusi segera dilaksanakan.

    Berbagai pemikiran brilian dilontaran Emaknya. Anak-anaknya mencoba merespon, meng-kaji dan mulai saling curah pendapat.

    (Bersambung)

     

     

    Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.