Pidato Kebudayaan  Profesor Salim Said pada Hari  Sastra Indonesia 2022 - Analisis - www.indonesiana.id
x

Prof Salim Said sedang menyampaikan Pidato Kebudayaan

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Selasa, 5 Juli 2022 16:17 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Pidato Kebudayaan  Profesor Salim Said pada Hari  Sastra Indonesia 2022

    Tanggal 3 Juli diperingati sebagai Hari Sastra Indonesia. Tahun 2022 ini, masyarakat sastra memperingati milad yang kesembilan. Acara perayaan ini dilaksanakan oleh Taufiq Ismail dan Badan Bahasa. Selain acara baca puisi ada pula pidato. Salahsatunya adalah Pidato Kebudayaan Prof. Salim Said, berikut ini!

    Dibaca : 699 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Tanggal 3 Juli diperingati sebagai Hari Sastra Indonesia. Tahun 2022 ini, masyarakat sastra memperingati miladyang kesembilan. Acara perayaan ini dilaksanakan oleh Taufiq Ismail dan Badan Bahasa.

     

    Tokoh-tokoh sastra terkemuka negeri ini hadir pada saat itu. Di antaranya adalah Prof. Salim Said, yang malam itu didaulat menyampaikan pidato kebudayaan. Berikut transkripsi yang saya kutip dari tautan kanal youtube https://www.youtube.com/watch?v=0Gm0lgp0KJ4&t=12455s.  Semoga bermanfaat.  

     

     

    Assalamualaikumwrwb.

    Selamat sore,  nasib saya sebenarnya tidak berbeda dengan Putu Wijaya. Alhamdulillah saya cuma kebagian tongkat. Saya terharu menyaksikan Putu Wijaya.  Kami bertahun-tahun bertetangga meja sebagai sesama wartawan Tempo.

     

    Sudah berapa tahun saya tidak bertemu dengan saudara Putu. Ketemu di sini juga dengan Anda semua malam ini,  penting buat saya.  

     

    Selain karena peringatan atas sejumlah orang yang berulang tahun terutama yang disebutkan adalah saudara. Malam ini juga penting buat saya,  karena sejak ada wabah Corona inilah pertama kali saya berdiri atau menginjak halaman depan rumah saya.

     

    Saya tidak pernah keluar rumah pada malam hari.  Jadi, hari ini juga adalah hari kebebasan buat saya.

     

    Mudah-mudahan saja penyakit itu tidak bertahan lama,  sebab sekarang bangkit Kembali. Semoga tidak merajalela lagi, sehingga kita semua tidak terancam oleh bangkitnya penyakit yang menakutkan itu.

     

    Baiklah, malam ini kita akan berbicara tentang beberapa hal. Pertama, memperingati Mochtar Lubis 100 tahun.  Hal yang menarik buat saya,  Mochtar Lubis adalah ketika dia masuk masih di kanan di keagungan belum lagi bebas dari penjara Orde Lama.  

     

    Dia sudah menyanggupi kesediaan menjadi pemimpin penerbit majalah Horison. Ia sangat optimis bahwa Orde Baru waktu itu belum bernama Orde Baru,  akan jauh lebih baik dari Orde Lama yang memenjarakan dia selama 9 tahun tanpa pengadilan dan menutup auratnya.  Ternyata harapannya tidak terlaksana korannya juga ditutup kemudian.

     

    Seperti banyak di antara kita yang punya harapan besar pada awal Orde Baru. Ternyata dikecewakan. Marilah kita berdoa supaya era sekarang yang disebut era reformasi tidak berlanjut mengecewakan kita.

     

    Kita sudah kecewa berkali-kali. Kita pertama kali sangat berharap ketika Indonesia merdeka. Kemudian kita kecewa karena zaman parlementer. Negeri kacau,  sehingga Bung Karno punya alasan mendirikan demokrasi terpimpin yang berakhir dengan pertumpahan darah pada 1 Oktober tahun 65 lalu.

     

    Kemudian Pak Harto 30 32 tahun menjadi presiden mengecewakan kita. Kita sudah kecewa punya presiden Bung Karno berlama-lama,  mana seumur hidup datang tinggal di singgasana selama 30.  

     

    Setiap tahun sekarang ada lagi cerita ingin menambah apa yang sudah kita putuskan pada sidang MPR,  ketika kita merombak amandemen Undang-undang Dasar. Mudah-mudahan,  itu tidak terjadi lagi.  Kejadian berpanjang-panjang dan kita mengalah mengulangi lagi ketololan kita itu.  

     

    Yang berikut yang saya mau ke komentari adalah keluhan kalau Anda baca di majalah Horison bahwa majalah sastra di Indonesia itu tidak bisa bertahan lama. Yang mempertahankan majalah Horison ini sampai mencapai usia berapa tahun itu sebenarnya kerja keras.

    Itu sebenarnya kerja keras sukarelawan oleh Ati Ismail yang berusaha memperpanjang usia majalah Horison.  Sebenarnya kita tidak perlu sedih kalau dibandingkan dengan negeri lain.

     

    Di negeri lain,  karena kemajuan tingkat peradaban yang lebih tinggi, maka orang tidak memerlukan lagi majalah sastra.  Mereka bisa menerbitkan buku langsung, sehingga tidak perlu juga di negeri lain tidak ada HB Yasin.

     

    HB Yasin itu besar peranannya di dalam menarik perhatian calon pengarang untuk mengirimkan karangannya ke  Horison.  Horison  maju itu karena pertemuan dua hal.

    Pertemuan adanya HB Yasin dan tingkat kemakmuran kita masih rendah kita tidak sanggup menurunkan buku.

     

    Saya masih ingat satu zaman,  ketika hanya Balai Pustaka yang bisa menerbitkan buku. Sekarang tidak usah Balai Pustaka lagi.  Orang sudah bisa menerbitkan sendiri bukunya,  sehingga mereka tidak memerlukan lagi majalah.  

     

    Saya ingin menghibur teman-teman yang mengelola majalah sastra. Daripada mengeluh,  lebih baik bersyukur kepada Tuhan bahwa bangsa kita lebih maju sekarang.  Tidak ada lagi peran bagi orang seperti HB Yasin.

     

    Yasin meninggal pada waktunya. Kita kenang saja dia. Sebenarnya kita mengenang kemiskinan kita di masa lalu.

     

    Yang ingin saya tambahkan lagi adalah perkembangan sebenarnya sastra Indonesia. Sastra sekarang itu berkembang lebih bagus. Kalau kita mencari karangan yang baik hanya di Horison. Anda tidak menemukan karangan-karangan di koran yang menerbitkan cerita pendek.

     

    Lalu dari situ, cerpen yang bagus dikumpulkan,  diberi hadiah dan kemudian diterbitkan. Jadi,  marilah kita mensyukuri kemajuan itu sembari mengingat berterima kasih kepada Aty Ismail yang bertahun-tahun menjaga supaya Horison tetap terbit.

     

    Putu Wijaya itu meskipun generasi saya kami satu kantor dan sudah sakit tetap bisa menulis seperti anak-anak muda menggunakan digital. Saya mengucapkan saja sudah susah saya adalah bagian dari masalah.

     

    Saya ingin katakana,  marilah kita bergembira karena sebenarnya sastra Indonesia itu sedemikian rupa sehingga kita tidak mengenal lagi begitu banyak pengarang. Saya menerbitkan sebuah buku diterbitkan oleh Balai Pustaka yang sebagian isinya adalah kritik karangan-karangan sejumlah pengarang yang saya tidak kenal orangnya.

     

    Setelah begitu tak seorang pun yang datang apakah memaki saya atau menyalami. Masyarakat seni kita sudah meluber kemana-mana.  Tanda bahwa ada kemajuan dalam bidang seni dan budaya Indonesia.

     

    Itu semua patut kita syukuri. Saya juga sangat senang melihat gedung kompleks ini luar biasa. Mudah-mudahan,  bisa dimanfaatkan dengan baik yang tergantung kepada pengelolanya. Bagaimana mengajak orang untuk datang memanfaatkan tempat ini.

     

    Memasyarakatkan tempat ini,  sehingga tidak gagah saja tapi bermanfaat untuk perkembangan kebudayaan dan kesenian Indonesia. Itu saja.

     

    Orang-orang yang lebih penting bicara ada disini orang-orang yang berkarya ada disini begitu rupa,  sehingga sudah sakit seperti saudara Putu masih tetap berkarya. Tidak dialami oleh gangguan yang mengganggu tubuhnya.

     

    Saya melihat itu tanda-tanda bahwa ada kemajuan yang cukup signifikan di dalam perkembangan kebudayaan dan kesenian kita.  Itu saja. Mudah-mudahan tidak diukur sebagai sebuah orasi.

     

    Saya cuma ingin berpartisipasi saja untuk meramaikan acara malam sastra ini.  Saya sama sekali tidak berniat berhasrat untuk berorasi mengajarkan kepada orang apa yang saya pikirkan.

     

    Demikianlah. Terima kasih. Mohon maaf. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

     

    Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.