Sketsa: Bualan Pak  Bual (2) - Analisis - www.indonesiana.id
x

ilustr: legalesq.com

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Rabu, 6 Juli 2022 10:28 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Sketsa: Bualan Pak  Bual (2)

    Omong kosong atau membual itu semacam paradoks. Antara harapan dan kenyataan, kurang klik. Sosok Pak Bual, sekadar perumpamaan pada sketsa ini.

    Dibaca : 545 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bagian (2)

     

    “Kita boleh beda pendapat” ujar Emaknya, “tapi yang terpenting kita harus bertolak dari kenyataan. Bapakmu bukan saja pemalas, namun juga pembual kelas teri. Dulu sebelum nikah sama Emak, yang selalu digombalkannya tentang rumah yang bersuasana istana megah.

     

    Nyatanya? Itu semua cuma khayalan. Sekarang ia suka ngerumpi dengan mantan konco-konconya di kolong jembatan sambil berjudi kartu.

     

    Kalian perhatikan kalau bapakmu pulang. Entah kalah entah menang judi, mulutnya selalu beraroma minuman keras, sambil menceracau.

     

    “Lalu, apa yang harus awak lakukan Mak?” tanya si Ngablu.

     

    “Ijasah, kita nggak ada Mak” timpal si Ngawag.

     

    “Cari kerja di zaman sekarang nggak gampang Mak!” sambung si Ngacho.

     

    “Terus mau ngapain, kita Mak?” sambar si Ngacir.

     

    “Baik, baik. Sekarang emak tawarkan pekerjaan yang bisa dan harus kalian laksanakan. Ingat pekerjaan ini halal dan tak perlu pakai ijasah segala. Yang penting, niat.”

     

    “Kerja apa itu, Mak?”

     

    “Mulung barang-barang bekas.”

    “Boleh usul Mak? Bagaimana kalau si Ngawang dan Ngablu dagang asongan aja?”

     

    “Mak setuju. Ide bagus itu. Ingat, jangan dagang di perempatan lampu merah atau di angkot-angkot. Itu  dilarang. Kalian  keliling dan menjajakannya ke gang satu ke gang lain di kampung sebelah.

    Nah, Ngachir dan Ngacho bantu Emak ya!”

     

    ESOKNYA, keluarga laskar mandiri tersebut mulai menjalankan aksinya. Mereka berharap bakal ada perubahan nasib.

     

    Kerja mereka tak kenal waktu. Tak kenal angka merah pada kalender mereka. Apalagi cuti. Tiap ada kesempatan, mereka akan beraksi.

     

    Sementara Pak Bual, semakin menjadi-jadi bualannya. Bualannya tidak hanya kepada keluarga,pun dimana dan kapan pun bualan itu digelindingkan.

     

    Pak Bual bilang, seminggu lagi bakal pindah kawasan elit di tiga kota: Jakarta, Bandung, Surabaya, Tangerang, dan Semarang. Tidak tanggung dalam ceracaunya, ia bahkan fasih menyebut nama-nama seperti: Rumah Elit di Pondok nan Indah, Jakarta Selatan. Rumah Elit Menterang di Menteng, Jakarta Pusat.

     

    Rumah Elit di Jagung Bakar Dago Pakar, Bandung.  Rumah Elit di Pawon Simbah Pakuwon City, Surabaya.  Rumah Elit di BSD (seBelah SD Inpres), Tangerang. Rumah Elit Ulat  di Alam Sutera, Tangerang.

     

    Rumah Elit di Buah kepala Batu, Bandung. Rumah Elit Molen di Citraland, Surabaya.  Rumah Elit Omahomahan di Griya Lestari, Semarang. Rumah Elit Arane Mboh di Pandanaran Hills, Semarang.

     

    Ia masih dalam sakaw-nya, berceloteh akan merayakan hari lahir anak pertamanya, yang kini memasuki usia 17 tahun. Pesta meriah bakal digelar.

     

    Pewara kondang, penyanyi termahal di negeri ini bakal dihadirkn sebagai penghibur tetamu. Catat pula, ada panggang burung termahal di dunia: burung merpati balap atau racing pigeon.  Sebagaimana kita tahu, burung ini dibanderol harganya sangat fantastis, yakni Rp20,4 miliar. Lalu ada pepes ikan koi dan arwana platinum.

     

    Kepada istri dan anak-anaknya, Pak Bual memastikan keadaannya dalam waktu tak lamaakan berubah.

     

    “Hahahahaha. Sebentar lagi, kita akan kaya raya. Tinggalkan kerja nista kalian! Ayo, tinggalkan” celotehnya. Matanya yang memerah agak sedikit melotot ketika menyampaikan pesan itu.

     

    Bau minuman keras menyengat. Jalannya tampak limbung.

     

    “Sini manis. Kemarilah anak-anakku.  Istriku tercinta, sini kasih lagi aku uang yang banyak. Aku kalah judi lagi. (hik!)

     

    (Tamat)

    Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.