Hari Zoonosis Sedunia, Awas Rabies! - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Anjing dengan gejala rabies. Foto: Wikipedia

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Rabu, 6 Juli 2022 11:08 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Hari Zoonosis Sedunia, Awas Rabies!

    Hari Zoonosis Sedunia (HZS) atau "World Zoonodes Day" diperingati dengan tujuan meningkatkan kesadaran global akan pentingnya vaksinasi dan pengobatan yang serius dalam penanganan penyakit Zoonosis.

    Dibaca : 885 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Hari Zoonosis Sedunia (HZS) atau World Zoonodes Day diperingati setiap 6 Juli. Adapun tujuan dibalik peringatan HZS  ialah untuk meningkatkan kesadaran global akan pentingnya vaksinasi dan pengobatan yang serius dalam penanganan penyakit Zoonosis.

    Melansir dari https://nationaltoday.com/world-zoonoses-day/ peringatan HZS bertolak dari sebuah peristiwa. Pada tanggal 6 Juli 1885, ahli biologi Prancis Louis Pasteur berhasil memberikan vaksin rabies pertama kepada seorang anak kecil yang digigit anjing gila. Vaksin tidak hanya mencegah anak terkena rabies. Tindakan tersebut berhasil menyelamatkan nyawanya.

    Rabies hanyalah salah satu contoh dari banyak penyakit zoonosis. Flu burung, Ebola, dan Virus West Nile adalah beberapa contoh lain yang telah ditemukan selama bertahun-tahun.

    Patogen zoonosis dapat berupa virus, bakteri, atau parasit dan dapat menyebar ke manusia melalui kontak langsung atau tidak langsung melalui makanan, air, atau lingkungan. Bahkan mungkin menyebar melalui spesies perantara. Tidak hanya berasal dari hewan liar seperti kelelawar atau kera.

    Itu juga bisa berasal dari hewan peliharaan dan ternak. Penggunaan antibiotik pada hewan yang dipelihara untuk makanan meningkatkan potensi strain patogen zoonosis yang resistan terhadap obat. Itu sebabnya,  hewan memiliki peran penting dalam infeksi zoonosis.

    Karena ada banyak jenis penyakit Zoonosis, maka banyak juga jenis perawatan seperti antibiotik. Beberapa praktik dapat membantu mencegah penyebaran penyakit zoonosis bawaan makanan, seperti pedoman aman untuk perawatan hewan di industri pertanian.

    Memiliki akses ke air minum bersih dan pembuangan limbah yang tepat adalah cara yang efektif untuk mengurangi penyebaran penyakit. Memvaksinasi hewan peliharaan rumah tangga dan menjaga kebersihan seperti mencuci tangan setelah kontak dekat dengan hewan juga dapat membantu mengurangi penyebaran penyakit.

    Melindungi dan mengelola kesehatan hewan yang hidup berdampingan dengan manusia sangat penting. Ketika kita mencegah penyakit pada hewan, kita menjaga kesehatan manusia.

     

    Solusi Penanganan Rabies

    Dalam sebuah studi oleh CDC dinyatakan bahwa 60% dari semua penyakit menular yang ada adalah zoonosis. Sementara 70% penyakit menular yang muncul berasal dari hewan.

     

    Penyakit zoonosis apa yang memiliki tingkat kematian tertinggi? Dalam studi terbaru dari Januari hingga April 2021, rabies mencatat jumlah kematian tertinggi yaitu 88,31%.

     

    Penyakit rabies adalah penyakit yang disebabkan oleh virus rabies. Penyakit ini menyerang semua hewan menyusui atau hewan berdarah panas seperti sapi, kerbau, kambing, kuda, monyet, kera, babi, anjing, dan kucing.

     

    Virus rabies masuk ke dalam tubuh hewan melalui luka terbuka, kebanyakan luka karena gigitan hewan lain yang tertular rabies. Hewan yang tertular rabies, di dalam air liur atau ludahnya mengandung virus rabies, lalu hewan tersebut menggigit hewan lain sehingga air liurnya bersama virus rabies masuk melalui luka gigitan tersebut ke tubuh hewan yang digigit.

     

    Celakanya, penyakit rabies ini bersifat zoonosis yaitu penyakit ini menular juga kepada manusia. Seperti pada hewan, manusia tertular virus rabies juga melalui gigitan hewan. Hewan yang sering menularkan virus rabies kepada manusia adalah anjing, kucing dan kera sehingga hewa-hewan tersebut mendapat nama HPR (Hewan Penular Rabies).  HPR utama yang menularkan rabies kepada manusia adalah anjing.

     

    Ni Wajan Leestyawati(2021) mencatat, bahwa di Bali, penularan rabies kepada manusia hampir 100% karena gigitan anjing. Penderita penyakit rabies pada umumnya menunjukkan gejala tidak dapat mengontrol diri, seperti gila, karena virus rabies menyerang susunan syaraf pusat /otak sehingga penyakit rabies disebut juga penyakit anjing gila.

     

    Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo dalam satu kesempatan menyatakan bahwa rabies bukanlah penyakit baru dalam sejarah peradaban manusia. Akan tetapi, kasus rabies ini bisa berdampak pada kematian manusia, bahkan juga berdampak terhadap perekonomian.

     

    Ia merujuk laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tahun 2021. Secara global, beban ekonomi akibat rabies yang diperantarai anjing diperkirakan mencapai 8,6 miliar Dolar AS per tahun.

     

    Keterlibatan berbagai sektor melalui kolaborasi one health, terutama penyuluhan kepada masyarakat tentang kesadaran dan kampanye vaksinasi, tidak melepasliarkan anjing peliharaan serta pertolongan pertama kasus gigitan, sangat penting sebagai upaya mengurangi kasus terkait penyakit rabies. Jika kasus gigitan anjing diduga rabies berkurang, maka kerugian ekonomi yang ditimbulkannya juga dapat ditekan.

     

    Hingga saat ini kita akan terus berupaya untuk membebaskan Indonesia dari penyakit rabies.  Oleh sebab itu, pada Kamis (10/2) 2022, melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan meluncurkan Kader Siaga Rabies (Kasira).

     

    Ditjen PKH Kementan berkolaborasi dengan Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-bangsa (FAO) dengan dukungan pendanaan dari Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) dan Pemprov NTB dan Pemkab Sumbawa memberikan pelatihan penanganan rabies dengan pendekatan one health.

    Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.475 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi