Mengapa Hollywood Bisa Menjadi Kiblat Industri Film Dunia?

Minggu, 10 Juli 2022 12:01 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Hollywood sebagai pialang industri film yang membuat semua negara mengikuti jejaknya. Tetapi mengapa demikian? Penulis akan mengulas mengapa Film Hollywood menjadi "Kiblat" film yang ada didunia.

Film Hollywood mengapa disebut demikian? Bukanlah tanpa alasan Hollywood menjadi sebuah industri paling maju seantero dunia.  Sudah ribuan film-film bagus dan ikonik yang sudah tayang. Bahkan para filmmaker menyebut Hollywood sebagai pabrik film berkualitas. Terlepas dari banyaknya kontroversi yang ada di Hollywood, kita harus mengakui bahwa film yang rilis di Hollywood akan masuk box office.

Kali ini kita akan berdiskusi mengapa Hollywood bisa menjadi pusat film di dunia.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

SEJARAH SINGKAT HOLLYWOOD 

Pada tahun 1908 Thomas Alfa Edison mendirikan sebuah perusahaan, yaitu  Motion Picture Patent Company (MPPC). Thomas Alfa Edison menyediakan alat dan bahan baku untuk pembuatan sebuah film. Perusahaan yang membuat film harus menjadi anggota MPPC terlebih dahulu untuk mendapatkan izin dan mendistribusikan filmnya lewat perusahaan ini. Perusahaan yang bukan anggota, tidak bisa membuat film karena tidak mendapatkan hak paten dan lisensi dari MPPC.

Beberapa Anggota MPPC memutuskan keluar termasuk D.W Griffith salah satu sutradara dari perusahaan biograph.  Lalu pada tahun 1912, pemerintah Amerika Serikat melarang MPPC untuk beroperasi karena dianggap memonopoli pasar bahan baku. Pada tahun 1910-an sebenarnya beberapa anggota MPPC memutuskan untuk keluar dan pindah ke California karena tekanan dari MPPC. Para perusahaan mantan dan yang bukan anggota MPPC pindah ke daerah California  tepatnya Hollywood. Bukan hanya karena menghindar dari MPPC, tetapi dari segi geografis Hollywood merupakan kawasan yang memiliki iklim memumpuni untuk pembuatan film.

Pada perang dunia pertama Produksi sinema AS atau lebih dikenal dengan sebutan Hollywood. Dan saat era itu industri perfilman menjadi maju khususnya film-film asal Prancis dan Italia. Hollywood pun tidak tinggal diam hanya dengan kurun beberapa waktu saja Hollywood bisa menembus pasar eropa dan menjadikan Hollywood bukanlah industri perfilman lokal tetapi berskala internasional. Prestasi yang diraih Hollywood pun tidak main-main pada tahun 1920-an sampai 1930-an Hollywood sudah memproduksi kurang lebih 800-an judul film pertahun. Hollywood pun semakin maju semenjak era TV bewarna pada tahun 1950-an. Konsep Hollywood dalam membuat filmnya maju adalah karena memanfaatkan teknolosi yang ada dan bisa membuat berbagai efek seperti, suara, animasi, visual efek, dll. Semenjak era tersebut hingga sekarang banyak perusahaan perfilman mengikuti jejak Hollywood dalam menghasilkan film-filmnya.

 

PEMASARAN FILM HOLLYWOOD

Seperti industri film lainya, Hollywood memasarkan film - filmnya gencar keseluruh dunia. Hal itu pun didukung oleh pemerintah AS khususnya masa-masa pemerintahan Ronald Reagan. Film Hollywood dijadikan sebagai agenda pemerintahan AS untuk menyebarkan kekuatan AS sebagai negara digdaya didunia. Tetapi dibalik itu, Hollywood tetap mempertahankan esensi filmnya agar tetap fresh dengan cara menyuguhkan format-format baru dalam membuat film, konsep yang bagus, hingga memudahkan akses untuk memasarkan film-film dari industri yang kecil.

Melihat hal itu, para petinggi Hollywood membuat asosiasi bernama Motion Picture Producers and Distributors Assosiation atau disingkat MPPADA dan Will. H. Hays ditunjuk sebagai ketua asosiasi tersebut. Dan tugas pertama dari Will.H.Hays adalah memasarkan, dan memaksimalkan film-film Hollywood agar bisa tetap eksis di dunia. Will. H, Hays menyadari pentingnya memasarkan film – film Hollywood keseluruh dunia.

Strategi yang digunakan Will adalah bekerjasam dengan negara tujuan ekspor untuk dapat menarik perhatian masyarakat negara tersebut. Film Hollywood biasanya mengikutsertakan aktor atau latar belakang dari negara tersebut dalam proses pembuatan filmnya atau bahkan memakai sumber daya dari negara tersebut untuk menarik lebih banyak peminat film-film Hollywood. Selain itu, karena kebijakan tiap negara hampir sama dalam aturan pembuatan film yaitu , tidak menyangkut isu politik, tidak menjelekan identitas negara tersebut, film sudah bisa masuk bioskop dengan mudah. Belum lagi Hollywood menggunakan Corporate Social Responsibility (CSR) agar bisa menjangkau lebih jauh kemasyarakat.

 

HOLLYWOOD MENJADI “KIBLAT” FILM DI INDONESIA

Karena kepopuleran dari film-film Hollywood, semakin banyak industri film khususnya di Indonesia mengarah ke Hollywood. Tidak hanya dari segi marketing, tetapi jalan cerita, visual, dan latar belakang menjadikan film-film di Indonesia mengikuti jejak Hollywood. Tidak hanya dari segi teknis, tetapi tidak jarang banyak produse-produser di Indonesia menghadirkan langsung sutradara dari Hollywood untuk membuat film otentik Indonesia.

Contohnya film The Raid yang diperankan oleh Iko Uwais, Yayan Ruhiyan, Joe Taslim, dll. Film The Raid disutradarai oleh Gareth Evans. Unsur di film The Raid memiliki kataristik ala Hollywood akan tetapi tidak menghancurkan film laga otentik  Indonesia dimana fighting menggunakan kemampuan beladiri asal Asia yaitu pencak silat.

Tidak hanya itu, sutradara Joko Anwar pun kerap membuat film yang memiliki standar Hollywood sebut saja film Pengabdi Setan film reboot tahun 80-an berhasil diubah oleh Joko Anwar menjadi film horor Indonesia pertama yang melanglang buana di festival film dunia.

Pengabdi Setan menskipun memiliki khas otentik horor ala Indonesia, tetapi memiliki karakteristik film ala Hollywood, mulai dari latar belakang cerita, tone warna, bahkan sampai musik dan wardrobe yang digunakan. Hal ini menandakan bahwa, Film Hollywood sangat sukses sehingga film-film lokal bisa meng-influence dari Hollywood.

 

Referensi : The Editors of Encyclopaedia Britannica, ―Will H. Hays‖, diakses dari

http:// http://www.britannica.com/biography/Will-H-Hays, pada tanggal 11

Februari 2019

27 Dorothy B. Jones, ―Hollywood’s International Relations‖, (California:

University of California Press, 1957), hal. 363

Douglas Kellner, Media Culture, Identity, and Poitics between Modern

and Postmodern, (New York: Routledge, 1996), hal. 67

Tim Dirks, ―The History of Film The 1920s‖, diakses dari

http://www.filmsite.org/20sintro.html pada tanggal 10 Februari 2019

3 Eric Hoyt and Paul McDonald, Hollywood and The Law, (British Film

Institute, 2015), hal. 124

Paolo Sigismondi, ―The Digital Glocalization of Entertainment: New

Paradigms in the 21st Century Global Media Scape‖, (New York-USA:

Spinger Science + Business Media, 2011),Chap. 2, hal. 17.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Muhamad Willys Stanza

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua