Seharusnya AFF Bukan Lagi Menjadi Fokus Indonesia - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

muhammad rizal

Pemula dan terus belajar
Bergabung Sejak: 27 Maret 2022

Senin, 18 Juli 2022 09:06 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Seharusnya AFF Bukan Lagi Menjadi Fokus Indonesia

    Kegagalan Timnas Sepakbola U19 Indonesia membuat beberapa pendukung timnas Indonesia menuntut PSSI untuk berpindah federasi dari AFF (Asia Tenggara) menuju ke EAFF (Asia Timur). Hal tersebut disadari oleh kejadian dugaan adanya main mata antara laga Thailand dan Vietnam yang membuat keduanya lolos semifinal dan Indonesia akhirnya tidak lolos secara Head to head. Namun sebenarnya, bagaimana kita memandang federasi AFF dalam dunia sepakbola sekarang ini?

    Dibaca : 2.210 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Publik sepakbola Indonesia, sempat murka dengan sikap Vietnam dan Thailand yang dirasa tidak menjunjung tinggi fairplay ketika bertemu dilaga terakhir yang menentukan lolos tidaknya Indonesia, Vietnam, dan Thailand. Karena kedudukan akhir antara Vietnam dan Thailand berakhir 1-1 1 membuat Indonesia resmi tidak lolos grup karena kalah Head to Head yang membuat PSSI selaku federasi sepakbola nasional resmi melakukan protes kepada AFF.

    Walaupun banyak yang murka, adapula yang merasa kalau Indonesia diposisi Thailand dan Vietnam, kemungkinan bersikap dan bermain seperti kedua tim tersebut sangatlah mungkin. Namun sekarang sebenarnya bagaimana kita sebenarnya menganggap AFF selaku federasi sepakbola Asia Tenggara di ajang sepakbola resmi dunia dibawah naungan AFC (federasi Asia) dan FIFA (federasi Dunia)?

    Memang turnamen yang diadakan oleh AFF dari U16 sampai senior sebenarnya adalah turnamen resmi dibawah naungan AFF, namun tidak terhubung ditingkat lebih tinggi seperti Kualifikasi Piala Asia, Piala Asia, Kualifikasi Piala Dunia ataupun Piala Dunia dibawah naungan AFC dan FIFA. Mudahnya, Timnas Indonesia pada tingkatan manapun dan gender apapun jikalau mampu merengkuh juara diajang Piala AFF tidak akan kemana-mana serta tidak membuat timnas tersebut lolos ke Piala Asia ataupun Piala Dunia. Sehingga sewajarnya Piala AFF untuk Indonesia yang dianggap (atau mengganggap) sebagai salah satu kekuatan legendaris dikawasan Asia Tenggara menjadikan turnamen dibawah AFF sebagai ajang ujicoba untuk seleksi pemain serta bongkar pasang strategi yang paling cocok untuk timnas.

    Trofi atau juara memang masih menjadi harapan terbesar para pendukung Timnas Indonesia ketika bertanding diajang Piala AFF di luar Sea Games. Walaupun sebenarnya untuk kelompok usia U16, U19 dan U22 diajang Piala AFF Indonesia sudah mampu juara masing-masing sekali, dimana AFF U16 kita dapatkan tahun 2018, AFF U19 tahun 2013, dan U22 ditahun 2019. Memang untuk ajang Piala AFF senior Timnas Indonesia baru mampu menjadi runner up sebanyak enam kali dan belum satu kali pun mendapatkan trofi sebagai raja kawasan Asia Tenggara. Sebagai runner up enam kali dikawasan sudah sewajarnya, Indonesia memikirkan bahwa pembuktian di kawasan ASEAN sudah lebih dari cukup. Karena tidak ada satupun finalis di ASEAN dibawah naungan AFF yang mampu menjadi runner up sebanyak enam kali.

    Namun, bila kita melihat sisi positif dari enam kali runner up Piala AFF hal tersebut sudah menandakan bahwa Indonesia adalah kekuatan penting di ASEAN dan sudah waktunya menatap yang lebih tinggi, Asia dan dunia. Apalagi setelah 15 tahun, Timnas Indonesia senior mampu kembali lolos Piala Asia yang terakhir diikuti pada tahun 2007. Dengan kesempatan kembali ke kancah Piala Asia menandakan bahwa Indonesia harus mulai konsisten lolos ke Piala Asia agar muncul harapan kedepan lolos Piala Dunia lagi setelah terakhir lolos pada tahun 1938. Konsistensi inilah harga mahal yang harusnya Indonesia pertahanan seperti yang dilakukan pada empat edisi Piala Asia sebelumnya (1996, 2000, 2004, 2007) dan "lebih berharga" daripada juara Piala AFF.  Dengan begitu, kemungkinan untuk mendapatkan juara Piala Asia bukanlah sesuatu yang mustahil dan akan lebih bangga ketika masuk serta mendapatkan posisi 4 besar atau 8 besar bahkan juara ditingkat Asia. 

    Apalagi dimedio 2010-2020 Timnas Indonesia kelompok usia U22, U19 dan U16 punya prestasi yang lumayan di Asia, entah resmi FIFA/AFC atau tidak. U22 yang dua kali lolos 16 besar Asian Games 2014 dan 2018, lalu U19 dimana 2014, 2018, dan 2020 (batal karena pandemi corona) lolos Piala Asia dan U16 yang lolos Piala Asia 2018 dan 2020 (batal karena pandemi corona), bahkan keduanya mampu lolos sampai 8 besar ditahun 2018. Memang untuk U22 belum pernah lolos Piala Asia resmi bikinan AFC/FIFA namun pengalaman di Asian Games pun patut diperhitungkan. Ditambah bila dikalkulasi keikutsertaan Timnas Indonesia di U19, kita sudah pernah lolos sebanyak 18 kali dan pernah juara bersama Myanmar tahun 1961 serta U16 sudah pernah lolos sebanyak 7 kali dan prestasi tertingginya juara empat pada tahun 1990. 

    Dengan modal pilihan skuad yang cukup berpengalaman ditingkat Asia, sudah semestinya kita membuat Piala AFF sebagai turnamen coba-coba pemain dan bila memungkinkan juara, itu adalah untuk menjawab rasa penasaran kita karena sebelumnya hanya mampu menjadi runner up sebanyak enam kali. Dengan skuad muda seperti Egy Maulana Vikri, Witan Sulaiman, Ernando Ari, Rizky Ridho, Saddil Ramdani yang sebelumnya pernah bermain di Piala Asia dikelompok usia harusnya membuat Timnas Indonesia lebih siap melakoni Piala Asia 2023 dan Kualifikasi Piala Dunia 2026 yang mulai tahun depan. Ditambah kita semenjak 2018 sudah memiliki kompetisi elit usia dini, yaitu Elite Pro Academy yang membantu para pemain bermain sebanyak mungkin walaupun masih belum maksimal. Jadi, sewajarnya kita mulai memikirkan Piala Asia dan Piala Dunia, tidak apa bila tidak juara Piala AFF karena bila sudah saatnya kita akan mendapatkan yang lebih baik. 

     

     

    Ikuti tulisan menarik muhammad rizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.