Neokepinding - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Senin, 25 Juli 2022 14:42 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Neokepinding

    Dia, Manusia kloning plus tekno android versi, teknologi mesin baru saja menghancur-leburkan dirinya. Apakah dia masih manusia atau bukan, dalam cerpen Neokepinding, hanya kisah khayali. Tabik, salam baik saudaraku.

    Dibaca : 664 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dia, diburu masa lalu selaku pemimpin pembantaian neodrone pesaingnya, pada masa peralihan revolusi teknologi, itu dulu bisik hatinya. Ketika aku masih disebut si pandir, oleh sejumlah kalangan pesaing, awal mula menjadi pemangku proyek sembelit.

    Sekarang, dia, gelandangan di tengah futuristis megalopolis terkurung fantasi akronimakronim, diremang gosip merah jambu, kenes asal bunyi, terbaca monoton, sama persis ketika dia menjadi kuasa usaha diri sendiri. Tak ada transisi estetis apapun, kecuali, para figuran peniru-lifestyle intelektual, padahal mereka, figuran golongan genre bingung.

    Diplomasi stimulus tak seindah warna asli lukisan kehidupan, ditinjau dari sisi nilai penampakan siluman, degradasi stabilitas berjamur dalam selang saluran air. Dia, konon tertipu sistem politisasi setara itu, terdesak kaumnya sendiri, ditinggalkan begitu saja. Penyebab persekongkolan terjadinya peristiwa pembantaian neodrone itu. Wah, pusing dia.

    “Tangan ini robotik hidupku. Musuhku, diriku sendiri.” Pikirannya memvisualkan perilaku diri sendiri, hadir di kesendirian kini, di sepi menakutkan, di sunyi merobek-robek dirinya, karma dari akibat perilaku dehumanisasi konspirasi koalisi.

    Di musim perubahan berlangsung, di saat pula kejatuhannya, dari kursikursi imitasi buatan sendiri, mendemo diri sendiri pula, dibentuk oleh kealpaan kemapanan adikuasa adigang adigung, telah menghancur-leburkan, merampas, semua miliknya.

    Karma itu berlangsung cepat dengan bunga tinggi. Perkumpulan arisan kaum feodal bentukan kekuasaan imitasi menghempaskan, mengakhiri segala kekuatan darah biru kepalsuan dari identitasnya. Terbukalah kedok para neokepinding ketika para neokecoa berebut sampah peradaban di era itu.

    ***

    Lantas. Ketika nilai menjadi pedoman isu pro-kontra, mencuatkan isme black area, di antara pepohonan demokrasi plutokrat sistem autokrasi, di balik kuasa monorel, dirinya, kejangkejang menghisap diri sendiri. Dia, terperangkap dalam polarisasi oportunistis autodrone buatannya sendiri pula.

    “Kejamnya diriku.” Liris, menyayat di hati, telah beku mengeras menjadi batu megalitikum kuantum, menghantam setiap selsel otak, menariknarik dirinya keruang pekat hitam sempurna.

    “Ohoi! Sesal kemudian tak berguna.” Suara mesin itu lagi, hadir gegapgempita. Berkumandanglah, orasi obat anti ngantuk untuk parlemen plastik pernah, dia, suarakan di podium massa promo aksi, dalam diskon papan atas menyulap batu menjadi emas permata ratna mutu manikam. Salah satu dari sekian juta penyebab dia sekocak keadaannya kini.

    ***

    Dia, menjadi semirip badut, tak lagi dikenali, sebagai mantan pemangku proyek sembelit nomor wahid. Kini, dia, seperti ulat bulu di antara sesama gelandangan futuristis, meski, dia, dulu penjual moda operasi khusus modus operandi seni palak memalak, promo gayahidup imitasi, menuju kursi plastik daur ulang berkostum peri nyamuk, seakanakan pembela kaum berbagai pihak.

    Sebetulnya, dia, memang tidak pernah membela kaum siapapun, dia, pulalah penganut konsepsi egosentrisme, semau gue dong. Dia, juga dikenal sebagai pencipta mobilisasi neokutu, neokepinding plus neokecoa, alat pencapaian tujuannya, pembohong nomor satu, dalam aroma kaumnya, mengeruk isi apapun milik ekosistem jagat raya, propaganda kepalsuan penampakan pengganda imaji, berkostum peri bunga.

    “Wahai dewa mesin! Rasanya aku kurang pantas hidup lebih lama, tolong matikan saja automated.system, milikku sekarang dong hiks hiks hiks”, suara sedu sedan hanya dalam pikiran kegilaannya. 

    “Ohoi! Sesal kemudian tak berguna.” Suara mesinmesin itu lagi, hadir gegap gempita.

    “Cukupkan penderitaanku telah tak pernah menjadi tua, akan menjelang abad baru versi iblis gigantik. Oh! Sialan. Tidak ada satupun peduli. Mereka merampas semuanya. Peralihan cuaca jungkir balik akulah penyebabnya. Aku, pengecut asli, beraninya keroyokan. Aku, berani berteriakteriak, jika massal. Sebenarnya aku si pengecut. Selalu lari dari gelanggang, jika aku sendirian."

    "Aku, sudah tak berguna hiks hiks hiks, aku si pandir pemuja dewa mesin jelek sepertimu, jangan mentang-mentang ya. Kenapa aku mau ya. Jadi tolol begini.” Dia menangis terus, menggema pada waktu dalam jiwa. Mesinmesin berdatangan lantas bertepuk tangan sesuai program rujukannya.

    “Ohoi! Sesal kemudian tak berguna.” Suara mesinmesin itu lagi, hadir gegap gempita. "Sebenarnya sih, dia sedang berpurapura kalah, sedang akting lagi, agar bisa mencapai tujuannya, lagi." Mesinmesin bersorak riuh.

    ***

    Sebenarnya juga nih ya, dia, otaknya sudah digandakan dengan sains kloning tekno, serupa tapi tak sama dengan manusia android kelas tekno tiruan level tiga. Dia, lebih canggih, alias, dia itu manusia superandroid plus melekat pula Artificial Intelligence, dia punya otak kembar, manusia asli plus manusia superandroid. Wah! Hamba menulisnya juga bingung nih. Tapi, ya begitu laporan pandangan mata dari sejumlah media digital.gaib, secara utuh, ya begitu.

    Kalau otaknya mengontrol kemanusiaannya, dia jadi peka, sensibilitasnya prima, bahkan masih ada cinta meski sedikit banget kirakira, taruh kata-7% dari 50% manusia, 50% mesin, nah, itu dia, begitu.

    Tapi kalau watak serakahnya muncul, dia bisa superkuat. Gawat,  jadi superkebal, nah. Huh! Ngeri! Satu pesawat kelas Jumbojet, habis dimakan. Namun, menariknya, tubuhnya tak berubah jadi raksasa karet abalabal.

    Namun kini. Dia sudah menjadi neolalat, kadang-kadang juga menjadi neokepinding, orientasi pikirannya tetap pada nilai manipulasi pada metode diplomasi hua hi hu.

    Sesungguhnya diamdiam, dia, dendam karena disingkirkan dirinya sendiri, dikucilkan dari waktu, membelenggu kuasa robotiknya.

    “Dewa mesin! Jangan membiarkan hidupku seperti ini dong, hidup lebih lama bahkan mungkin takkan perna mati. Huhh. Huu. Hiks.” Jantungnya berhenti sejenak. Tersedak sejenak. Lantas tertawa terbahak-bahak, tersedak lagi, seperti makhluk mau mati akan tetapi tidak jadi. Dia kembali berakting agar lebih meyakinkan, diri sendiri.

    “Kamu gila ya!” Kata perasaannya sendiri, berkecamuk simpang siur. Kembali dia, merangkak dengan cepat menuju depan panggung sandiwara itu. Berdiri seolah-olah dari lunglai menuju gagah menggeram pada diri sendiri. 

    Lampu-lampu spot menyala fokus, panggung memerah. Lalu kepiawaiannya memainkan imaji peranan, mengguncang tubuhnya. Antara tangis dalam tawa terbahak-bahak. Dia terus melakukan hal itu, terbahak-bahak dalam tangisan, geraman, amarah amoral.

    Seakan-akan puncak dari rasa kehilangan entah apa. Meski sesungguhnya dia pura-pura tak pernah tahu, untuk apa hidup tanpa gelar pemangku proyek sembelit lagi, atau tanpa gelar apapun, termasuk tanpa julukan apa saja. Nilai kemanusiaannya sirna oleh, lagi, dirinya sendiri.

    ***

    Hanya waktu di musim terus berganti tidak menaruh dendam apapun padanya, meskipun dia pernah menyakiti ekologi gugusan ekosistem secara geobenua, dari sistem neraca geologis matematis kelas supramodern, dalam ranah ekosistem sempurna natural.

    “Dasar biang kerok! Beraninya main keroyokan!” Kata jiwajiwa, korban dari perbutannya, telah merasuk di selsel darah, menuju syarafsyaraf dalam diri, akan segera meledakkan kepala batunya. Suara mesinmesin terus bersoraksorai.

    Dia, memang manusia superandroid manipulator kelas kakap, berkepala ikan hiu, memang demikian, mungkin takdirnya. Dia, punya banyak cara untuk menjadi siluman apa saja, semirip gelar pintar. Meski sesungguhnya, dia, pencuri keadilan, mau menang sendiri, dialah, tangan iblis ajaib konspirator alias the invisible hand, disinyalir sungguh begitu. Lagi, menurut laporan pandangan mata dari sejumlah media digital.gaib, secara utuh, mungkin sudah bisa dipastikan.

    Ketika dia merasa bisa menyulap sistem berjenjang. Awan cakrawala, sarkastis geobenua membrangus dirinya, menjadi bukit batuan fosil tak berguna. Tak lagi ada emas permata ratna mutu manikam, hanya ada air mata darah terus menerus mengalir.

    Akhir dari kuasa usaha sebagai pemangku proyek sembelit, telah direbut paksa makhluk robot buatannya sendiri, karena dia selalu lupa diri, congkak, pongah, takabur, kini apapun keinginannya, tak lagi kan terujud. Bahkan dia, tak pernah tahu katakata dari pikirannya sendiri, untuk siapa, di mana, kapan. Terkadang dia rindu memakan kotorannya sendiri.

    Waktu baginya adalah angan-angan, mimpi, muskil, niskala surealistik, pada kosong, mungkin pada sepi, mungkin juga pada aksioma, mencipta paradoks skemaskema matematis, nonvisual, nonnalar, nonvirtual, nonvisi, nonmisi.

    Karena fiksi, telah membunuh setiap molekul darah, merembes ke permukaan poripori kulit berlogam mulia itu, meledakkan propaganda dirinya. Menggelegar! Membahana.

    ***

    Jabodetabek Indonesia, Juli 22. 2022.

    Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.