Kegemaran Politikus Membidik Lambung Rakyat - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Politisi. Karya Mustafa Kucuk dan V. Gruenewaldt dari Pixabay.com

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 27 Juli 2022 07:39 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Kegemaran Politikus Membidik Lambung Rakyat

    Alih-alih berusaha memecahkan persoalan pasokan makanan agar harganya terjangkau oleh rakyat bawah, politikus malah melihatnya sebagai peluang untuk merayu rakyat agar memberikan suara kepada mereka. Politikus beranggapan bahwa apabila rakyat dikenyangkan lambungnya, rakyat akan bersedia memenuhi kemauan politikus.

    Dibaca : 1.241 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Dalam berbagai kesempatan, politikus—baik yang sedang memegang jabatan publik maupun yang tidak—senang berbagi sembako. Dalam tas kemasan berlogo partai dan bergambar wajah sang politikus, sembako itu berpindah tangan ke warga masyarakat. Warga senang-senang saja menerima bingkisan sembako. Apakah ini sejenis kedermawanan murni yang berangkat dari hati nurani, keprihatinan atas hidup sebagian besar rakyat, ataukah dilumuri juga oleh kepentingan politik?

    Adegan pemberian minyak goreng baru-baru ini yang ramai diberitakan di berbagai media secara jelas menyingkapkan motif di baliknya. Seorang ketua umum partai, politikus senior, sekaligus pejabat tinggi telah membagikan kemasan minyak goreng kepada warga. Yang menarik [atau yang klise?], ia menjanjikan akan secara teratur membagikan minyak di kemudian hari asalkan para warga mau memberikan suara kepada anaknya di hari pemungutan suara pemilu nanti.

    Tak ada yang disembunyikan. Terang-benderang, motif politik menjadi dasar dan alasan untuk membagikan minyak goreng. Motif serupa ini juga melatari kedermawanan para politikus pada umumnya. Niat mereka tidak lain membidik lambung rakyat disertai permintaan agar memberikan suaranya di hari pemilihan. Ketika rakyat kesusahan, dalam kasus ini karena harga minyak goreng yang tinggi, politikus melihatnya sebagai peluang politik untuk membujuk warga masyarakat. Bagi politikus, tidak ada makan siang gratis, bahkan kepada rakyat sekalipun.

    Secara terang-terangan, ketua umum partai ini memberitahu warga bahwa ia akan membangi minyak secara teratur asalkan warga mau memilih anaknya dalam pemilu nanti. Lihatlah, betapa murah politikus menghargai suara rakyat: satu suara pemilih dihargai dengan 1 liter minyak goreng. Rakyat umumnya tidak peduli, sebab dalam situasi ekonomi seperti sekarang, rakyat membutuhkan minyak ataupun jenis sembako lainnya. Rakyat dijadikan objek politik. Pendidikan politik tidak berjalan dengan semestinya. Bila bagi-bagi sembako dianggap politikus sebagai pendidikan politik, dapat dibilang ini bukan dari jenis yang baik bagi peningkatan kesadaran berdemokrasi rakyat banyak.

    Di sisi lain, kegemaran politikus—baik yang elite maupun bukan—untuk memberi sembako kepada rakyat sesungguhnya merupakan pengakuan bahwa rakyat membutuhkan makanan. Politikus tahu bahwa rakyat memerlukan sembako, karena harganya yang terus naik, yang membuat rakyat semakin dipaksa mengencangkan ikat pinggang. Politikus membidik kebutuhan hidup sehari-hari yang sangat diperlukan rakyat banyak.

    Alih-alih berusaha memecahkan persoalan pasokan makanan agar harganya terjangkau oleh rakyat bawah, politikus malah melihatnya sebagai peluang untuk merayu rakyat agar memberikan suara kepada mereka. Politikus mengambil manfaat atas kesulitan yang dihadapi rakyat. Politikus beranggapan bahwa apabila rakyat dikenyangkan lambungnya, rakyat akan bersedia memenuhi kemauan politikus.

    Bila niat politikus murni bersedekah, mestinya tak perlu embel-embel meminta rakyat untuk memilih. Menjadikan lambung sebagai sasaran itu sama saja dengan menyuap dan tidak mendidik kesadaran politik masyarakat. Semestinya, para politikus mengajak rakyat, memprakarsai, serta mendukung upaya menyediakan lumbung pangan yang tahan dari segala jenis gangguan, sehingga harganya dapat terjangkau oleh rakyat banyak. Tapi inilah barangkali jalan yang disenangi kebanyakan politikus, sebab bila rakyat semakin sadar politik, kesadaran yang meningkat ini berpotensi mengganggu stabilitas relasi kekuasaan di antara mereka. >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.