Karir Politik Anak Elite Bergantung Orangtua - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

ilustr: Tribunnews.com

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 28 Juli 2022 08:32 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Karir Politik Anak Elite Bergantung Orangtua

    Ketimpangan kesempatan yang fair berpotensi menghalangi naiknya calon-calon pemimpin nasional yang potensial, yang kapasitas dan integritas pribadinya melebihi kapasitas dan integritas anak-anak elite politik. Praktik dinasti politik yang semakin menguat akan memunculkan rintangan yang lebih sukar ditembus, karena elite politik akan lebih suka mengorbitkan anaknya sendiri.

    Dibaca : 1.556 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Elite politik yang sekarang masih malang-melintang di panggung politik tampaknya akan berusaha terus bertahan hingga beberapa tahun ke depan. Mereka akan berusaha keras untuk tetap mempertahankan pengaruhnya di pentas politik. Salah satu faktor yang membuat mereka bersikap seperti itu tak lain karena anak mereka terjun ke dunia politik, sebagian besar malah baru terjun dan sedang meniti karir politik.

    Di tingkat nasional, mungkin hanya Puan Maharani yang sudah relatif lama berkecimpung di dunia politik. Agus Harimurti terhitung belum lama. Gibran Rakabuming dan Bobby Nasution boleh dibilang pemain baru yang langsung melejit dari bukan politikus jadi politikus di lingkup kota karena faktor orangtua. Para ketua umum partai juga punya anak-anak yang terjun ke politik. Mereka juga baru meniti karir dan karena itu masih belum lepas dari asuhan orangtua.

    Lantas apa pentingnya ngobrolin anak elite politik yang mengikuti jejak orangtuanya? Tentu saja ada. Dalam proses rekrutmen kepemimpinan di tingkat nasional, partai politik merupakan salah satu jalurnya. Bahkan, dengan adanya presidential threshold 20%, partai memegang peran menentukan terkait pergantian kepemimpinan nasional. Elite partailah yang sembari makan sate dapat ngobrolin siapa calon presiden yang mau mereka usung.

    Begitu pula dengan rekrutmen kepemimpinan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Terpilihnya Gibran dan Bobby tidak terlepas dari pengaruh Jokowi sebagai Presiden. Para ketua umum niscaya juga memikirkan masa depan politik anak-anak mereka agar bisa cemerlang, seperti anak dan menantu Jokowi yang langsung melejit.

    Karena pengaruh orangtua, anak-anak muda ini punya peluang yang lebih besar untuk mengorbit ke atas lebih cepat dibandingkan politikus muda lainnya. Di dalam lingkup internal partai politik, ketua umum mempunyai pengaruh besar, sehingga ia berkesempatan membuka jalan bagi karir anak-anak mereka. Mula-mula di dalam partai, dan kemudian ke luar partai, atau malah tidak perlu melewati penggemblengan di partai seperti dialami Gibran dan Bobby.

    Tentu saja, tindakan elite seperti itu akan mengurangi peluang kader-kader partai yang lebih mandiri, yang tidak punya orangtua yang masuk barisan elite partai. Mereka harus berjuang lebih keras dan cerdas untuk mampu bergerak ke atas. Repotnya ialah bila mereka kemudian harus menunjukkan loyalitas berlebihan kepada elite partai agar diberi kesempatan.

    Jajaran elite partai lapis tengah niscaya juga berebut untuk bisa naik ke lapis atas. Mereka juga ingin masuk ke dalam jajaran elite partai. Bila di internal partai mereka berhasil naik ke lapis atas, maka peluang untuk masuk ke jajaran elite nasional akan lebih terbuka.Karena inilah, kompetisi internal partai juga relatif keras. Bahkan mereka harus berjuang lebih keras dibandingkan anak-anak elite politik yang ada saat ini.

    Ketimpangan kesempatan yang fair inilah yang berpotensi menghalangi naiknya calon-calon pemimpin nasional yang potensial, yang kapasitas dan integritas pribadinya, misalnya, mungkin melebihi kapasitas dan integritas anak-anak elite politik. Praktik dinasti politik yang semakin menguat akan memunculkan rintangan yang lebih sukar ditembus, karena elite politik akan lebih suka mengorbitkan anaknya sendiri.

    Situasi ini dapat menyebabkan rakyat tidak berhasil mendapatkan pemimpin-pemimpin baru yang berkualitas sangat baik, karena posisi-posisi penting di tingkat nasional ditempati oleh keturunan para elite politik yang sekarang masih aktif. Para elite ini akan berusaha keras mempertahankan pengaruh politiknya demi mengamankan masa depan karir politik anak-anak mereka. Sirkulasi kepemimpinan berpotensi berputar-putar di antara keluarga elite yang itu-itu juga. >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.