Konyol - Analisis - www.indonesiana.id
x

sucahyo adi swasono

Pegiat Komunitas Penegak Tatanan Seimbang (PTS); Call Center: 0856 172 7474
Bergabung Sejak: 26 Maret 2022

Kamis, 28 Juli 2022 15:32 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Konyol

    Tragikomedi konyol, pun kian menjadi-jadi atas bangsa dan negeri ini ...

    Dibaca : 558 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Anekdot, pengertian lugas dan simpelnya adalah cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan, yang biasanya mengenai orang penting atau terkenal dan atas dasar kejadian yang sebenarnya. Itulah anekdot. 

    Di tulisan saya ini, sebagaimana judulnya, semoga saja memenuhi unsur dari makna definintif perihal anekdot yang beraroma satire atas fakta fenomena yang membikin gerah dan demam negeri ini, bagi anak negeri. Sekalipun tidak seanekdot bingit-lah, minimal masih nyenggol-nyenggol sedikit, agar tidak dikata sebagai jauh panggang dari api dari pengertian sebuah anekdot.

    Berawal dari terminologi konyol, yang bisa bermakna tidak sopan, kurang ajar, agak gila, kurang akal, tidak berguna, ataupun sia-sia, terinspirasilah saya menuangkan tulisan dalam wujud artikel ini. Dibaca atau tidak, bagi saya adalah soal berikutnya. Syukur-syukur memang ada yang membacanya, hatta hanya 1 gelintir orang pembaca. Hal itu akan menjadi lebih berarti bagi saya, daripada tidak sama sekali. Sumpah! Tanpa harus berserapah...

    Negeri ini kian menjadi gerah, demam bin nggreges, yang saya mulai dari titik picu agar tak terlalu panjang, yakni dari saat dilanda isu pandemi Kopid Sembilan Belas dalam rentang waktu dua tahun yang menghebohkan itu. Hingga saat ini, akhir Juli 2022, disisipi pula oleh kejadian dan peristiwa heboh lainnya. Apakah itu?

    Nyenggol ranah politik dan pemerintahan dulu, ya? Ok! Sebut saja tentang IKN, terlepas dari dasar argumentasi yang dilontarkan oleh yang punya wewenang, project IKN yang tidak sedikit menyerap anggaran itu, apa sih pertimbangan yang prinsipal bila dikaitkan dengan uapaya mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat, atau dalam rangka memajukan kesejahteraan umum? Berimplikasikah  terhadap kesejahteraan rakyat dalam keseluruhan, tanpa kecuali? Lha wong, kemiskinan, stunting di negeri ini dari data statistik resminya masih terendus dan terbaca, koq? Mengapa masih bersikukukuh untuk diwujudkan, ya? 

    Kemudian, memamerkan proyek pembangunan tol, Mandalika, JIS dengan event ABB FIA Formula E World Championship-nya, itu semua buat apa ya? Apakah bersentuhan dengan kesejahteraan bagi rakyat kebanyakan? Belum jera jua, ya dengan hantaman isu pandemi Covid yang menggoyang anggaran tak sedikit dalam upaya mengakhirinya? Apakah anggarannya karena dengan mudah diambilkan dari cara ngutang, ngutang, dan ngutang? Alhasil, berakibat pada defisit atas APBN adalah sebagai hal biasa dan dilumrahkankah? Belum lagi soal rencana Pemilu 2024 yang disebut-sebut dianggarkan sebesar 76,6 trilyun rupiah? Diambilkan darimana, ya anggarannya? Apa dengan cara ngutang lagi?

    Melompatlah kita berikutnya tentang pencabulan yang melanda ranah sosial kehidupan santri-agamis, yang ditampilkan oleh pelakunya justru dari elit pengelola, yang semestinya bagian dari panutan dan seharusnya sebagai digugu lan ditiru, menjadi berita peristiwa yang heboh bin konyol dan mencengangkan juga, lho? Negeri ini pun menjadi gonjang-ganjing berguncang lantaran peristiwa pencabulan yang konyol itu. 

    Konyol berikutnya adalah peristiwa polisi tembak polisi yang hingga saat ini masih sebagai misteri dalam konyol dan kekonyolan, apalagi, kepolisian itu sebagai bagian dari institusi dan alat penegak hukum yang berkeadilan. Berlanjut dengan rencana pembunuhan terhadap istri serdadu di Banyumanik, Semarang, JawaTengah. Menjadi peristiwa konyol, karena yang merencanakan adalah justru sang suami sendiri yang serdadu itu, terhadap istrinya sebagai sasaran korban. Konyol? Sepertinya, koq impossible, ya? Istri sendiri, koq mau dibunuh dengan cara pinjam tangan oleh suaminya, serdadu lagi! Lagi-lagi, konyol lagi.

    Tragikomedi konyol, pun kian menjadi-jadi atas bangsa dan negeri ini...

    Demikianlah, sekian, dan terima kasih. Salam Satu Bangsa Indonesia_Nusantara, Salam PANCASILA dalam Bhinneka Tunggal Ika, Salam Seimbang ... 

     

    Kota Malang, Juli hari kedua puluh tujuh, Dua Ribu Dua Puluh Dua.

    Ikuti tulisan menarik sucahyo adi swasono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.