Taman Bacaan Ajarkan Akhlak Anak di Tengah Gempuran Era Digital - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Kamis, 28 Juli 2022 08:34 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Taman Bacaan Ajarkan Akhlak Anak di Tengah Gempuran Era Digital

    Selain jadi tempat membaca, taman bacaan pun jalankan misi ajarkan akhlak anak-anak di tengah gempuran era digital.

    Dibaca : 612 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Banyak orang tahunya taman bacaan hanya tempat membaca. Gudangnya buku dan sarana untuk meningkatkan kegemaran membaca. Justru yang paling pas, taman bacaan adalah tempat sediakan akses bacaan. Karena faktanya hari ini, banyak daerah tidak punya akses bacaan. Tidak ada perpustakaan atau taman bacaan. Minat dan kegemaran membaca itu hanya bisa dicapai bila ada akses bacaannya.

     

    Tapi lebih dari itu, taman bacaan pun bisa menjadi tempat pembelajaran akhlak atau adab. Karena akhlak sejatinya di atas ilmu pengetahuan. Untuk apa ilmunya tinggi bila tidak punya akhlak. Maka akhlak menjadi kata kunci majunya peradaban manusia atau suatu bangsa sekalipun.

     

    Maka misi pembelajaran akhlak itulah yang diemban TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak. Setiap hari Minggu, selalu ada pelajaran akhlak yang diberikan ke 130-an pembaca aktif. Mulai dari mengucapkan salam, antre, cium tangan, bahkan sopan santun. Sebagai penguatan karakter dan mental yang baik di tengah dinamika kehidupan yang mulai mengabaikan akhlak. Selain sediakan akses bacaan, taman bacaan pun jadi sentra pembelajaran akhlak.

     

    Kenapa akhlak? Karena hari ini banyak orang begitu antusias mengumbar aib atau mencari keburukan orang lain. ibadah ritualnya bagus. Tapi sayang akhlaknya tidak baik. Contohnya, orang-orang kepo yang mau tahu urusan orang lain. Atas nama kepedulian pengen tahu apa yang dilakukan dan terjadi pada orang lain. Orang-orang yang lupa. Bahwa Allah SWT sangat membenci 3 perkara dalam hidup, yaitu: 1) bergosip atau membahas sesuatu yang belum jelas, 2) banyak bertanya, dan 3) menyia-nyiakan harta (HR Bukhari Muslim).

     

    Orang soleh itu rajin ibadah. Tapi belum tentu punya akhlak yang baik. Seperti anak kyai di Jombang yang mencabuli santriwati. Itu hanya contoh akhlak yang buruk, tentu masih banyak contoh lainnya. Ketika banyak orang “kehilangan peran” kebaikan di tengah masyarakat, maka taman bacaan harus mengusung pembelajaran akhlak. Untuk membangun generasi Ihsan. Generasi yang gemar berbuat baik. Berani untuk melakukan perbuatan yang baik dan mampu menahan diri dari dosa.

     

    Sudah pasti di dunia ini, tidak satupun manusia yang tidak punya aib apalagi kesalahan. Maka hanya manusia ber-akhlak yang membedakannya. Bila akhlaknya baik maka bersikap menutupi aib saudaranya. Bila akhlaknya buruk, maka jadilah pengumbar aib dan gemar bergosip. Sholat iya, sedekah iya tapi sayang akhlaknya tidak dijaga. Maka hilanglah amalannya.

     

    Di taman bacaan, perbuatan baik adalah spirit utama. Karena literasi sejatinya adalah “jalan dua arah”. Mau menghargai orang lain sebelum menuntut dihargai. Di situlah pentingnya belajar dan taman bacaan.

     

    Karena taman bacaan itu tempat belajar akhlak yang baik. Sekalipun orang-orang di sekitarnya bertindak buruk kepadanya. Literat itu soal akhlak, bukan hanya baca. Salam literasi… #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #BacaBukanMaen

     

    Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.