Riset Akademisi Sebaiknya Dimasyarakatkan - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

LIBRARY UPH

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Sabtu, 30 Juli 2022 06:27 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Riset Akademisi Sebaiknya Dimasyarakatkan

    Riset para akademisi jika dimasyarakatkan melalui media massa daring, akan bermanfaat bagi kemaslahatan kehidupan. Ide yang digagas jadi membaur. Apa pun bidang kajiannya tentu akan diketahui masyarakat luas.

    Dibaca : 502 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Prof. dr. Ova Emilia Rektor Universitas Gajah Mada,  menuturkan kepada media belum lama ini, bahwa  institusi pendidikan secara undang-undang punya kewajiban untuk menjalankan tanggung jawabnya dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, Ova menyebut perlu upaya kolaborasi antara institusi pendidikan dengan media untuk bisa menyalurkan ilmu pengetahuan itu.

    Ova mengungkapkan, riset yang dihasilkan para akademisi hanya berakhir di rak-rak perpustakaan. Sehingga menjadi sebab banyaknya arus informasi yang lalu lalang tanpa memperhatikan aspek kebenarannya.

    Karena kalau dia hanya ada di dalam jurnal, tentu tidak semua masyarakat membaca jurnal. Sehingga perlu dibahasakan dalam bentuk yang dapat diaplikasikan oleh masyarakat dan jadi lebih bermanfaat. Saya kira di sanalah media berperan,” ungkap Ova.

    Ide yang Membaur

    Gagasan yang dilontarkan Prof. Ova menarik.  Sebuah gagasan yang ditulis dari pusatnya peradaban yakni kampus tentu akan memiliki kontribusi besar bagi kemaslahatan umat.

    Skripsi, tesis, dan disertasi yang ditulis oleh para mahasiswa dari tiga strata berbeda tersebut merupakan pemikiran yang perlu diapresiasi dan dimasyarakatkan. Diapresiasi, karena tulisan yang merupakan penelitian yang sangat bermanfaat jika hasilnya dapat dinikmati masyarakat.

    Dimasyarakatkan, karena sebuah gagasan yang ditulis terbatas untuk kepentingan akademik hanya dapat dinikmati oleh kalangan terbatas. Lingkupnya hanya pada perguruan tinggi yang bersangkutan. Malah bisa jadi, hanya terbatas pada jurusannya.

    Pernah ada syarat bagi mahasiswa yang akan menuntaskan program sarjana magister, dan doktor agar menulis risetnya melalui publikasi jurnal ilmiah. Namun, harap maklum tidak semua pembaca awam mengakses jurnal. Jadi, riset mereka mentok hanya di kalangan akademisi.

    Riset para akademis jika dimasyarakatkan melalui media massa daring, inilah yang disebut ide yang membaur. Apa pun bidang kajiannya tentu akan diketahui masyarakat luas.

    Pemasyarakatan bisa dituangkan dalam bentuk artikel. Tentu dengan bahasa yang tidak melulu ilmiah, namun mencerahkan. Kolom Opini sebagaimana dapat kita baca di Kompas.com selalu menyajikan keilmuan yang ditulis dengan artikel yang ringan tetapi mengena.

     

    Bermanfaat 

    Perintah agama agar menjadi manusia yang bermanfaat sudah diteladankan oleh para ilmuwan kita. Risetnya yang bermula berada di kampus, kelak dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

    Beberapa contoh ilmuwan yang risetnya sangat bermanfaat bagi kemaslahatan umat dapat dikemukakan disini. Masih ingatkah nama-nama tokoh berikut ini?

    Prof. dr. Adi Utarini melalui riset bersama timnya dalam Eliminate Dengue Project di Yogyakarta menemukan bahwa bakteri Wolbachia yang dimasukkan ke nyamuk Aedes aegypti ternyata membuat nyamuk tak berkutik. Si Aedes tidak bisa mentransfer virus demam berdarah ke manusia.

    Nyamuk Aedes aegypti berbakteri yang dilepas liar dan dibiarkan berkembang biak akan menghasilkan generasi nyamuk yang jinak, sehingga mencegah wabah demam berdarah dengue.  Alhasil, temuannya  mengurangi kasus demam berdarah hingga 77 persen di sejumlah kota besar Indonesia.

    Sebelum akhirnya menuai sukses, Prof. Adi Utarini membuat idenya membaur melalui saluran forum ilmiah seperti diseminasi dan seminar. Pun menulis artikel baik jurnal maupun artikel.

    Ada lagi riset Tri Mumpuni yang akhirnya mampu menciptakan PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro). Pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) memungkinkan warga desa-desa terpencil mendapat penerangan lampu listrik dengan tenaga dari sumber daya air di sekitarnya.

    Pembangkit ini melalui Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) yang dipimpinnya dan dieksekusi para warga dengan bantuan ahli. Hingga saat ini, IBEKA telah membangun setidaknya 65 PLTMH di berbagai desa di pelosok tanah air.

    Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.