Patah Arang Membayang - Analisis - www.indonesiana.id
x

ilustr: thegypsythread.org

sucahyo adi swasono

Pegiat Komunitas Penegak Tatanan Seimbang (PTS); Call Center: 0856 172 7474
Bergabung Sejak: 26 Maret 2022

Sabtu, 30 Juli 2022 06:28 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Patah Arang Membayang

    Akutak boleh patah arang! Dan, harus kutandaskan di ruang dan waktu yang melingkupi keberadaanku sebagaimana manusia seumumnya, manusia sebagai ciptaan Tuhan, bukan manusia yang keberadaannya, dianggap muncul dengan sendirinya di dunia, tanpa ada proses sebab dan akibat yang menghadirkannya.

    Dibaca : 625 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Entahlah mengapa, selalu menghantui dan membayang di setiap saat, di ruang dan waktu yang tak mau tahu. Mengharu biru alam pikiranku, mengusik di kala aku tengah berjuang untuk menjadi mau tahu apa yang Engkau mau. Dari kauliyah yang begitu simpel sederhana, namun bermakna luar biasa. Lantas, kucoba menyambungkan dengan sekuat tenaga, antara tangkapan pikiran yang mejelma sebagai pemikiran di atas fakta fenomena nan nyata, pantulan semesta alam dan sosial budaya manusia seumumnya, yang bernama kauniyah.

    Tak bolehlah terjadi, bahkan kian menjadi-jadi tiada henti, antara sains teknologi dan mitologi indoktrinasi yang membalut kalut dengan ekspresi bersungut-sungut, oleh para pelaku yang sok agamis apapun, tanpa kecuali. Merasa diri dan kaumnya yang maha benar, melahirkan jurang yang dalam dan menganga dari masa ke masa. Hingga detik ini, sampai saat ini, yang tak perlu terjadi!

    Semuanya harus dan selayaknya menuju harmonisasi. Antara ajaran Sang Maha Pencipta Segala dengan kenyataan sosial budaya dan peradaban manusia seumumnya, universal. Tanpa ada penonjolan dan unjuk superioritas ras, suku bangsa, agama, golongan, dan apapun itu namanya menjadi kotak-kotak, jauh dari seumumnya manusia di alam dunia fana. Hal itu tak perlu terjadi, bila manusia mau tahu dengan apa yang dimaui oleh Sang Perancangbangun kehidupan.

    Mengusik terus ke alam pikiranku, bukan tanpa sebab musabab. Lantaran, antara apa yang kupikirkan dari jalanannya memahami atas apa yang bernama kauliyah di kala berhadapan dengan alam nyata, kenyataan sosial budaya dan peradaban manusia, terjadi selisih dan perbedaan. Mengapa? Nalar logika mengatakan dengan jujur nan seksama dan selayaknya, bahwa antara pantulan kauliyah dan pantulan kauniyah, mestinya wajib klop, harmonis, seimbang, adil, objektif dalam keteraturan nan indah sebagaimana gambaran sebuah kehidupan ideal bernama surga. Justru yang terjadi, yang kualami dan yang kuhadapi saat ini, adalah sebuah kehidupan laksana dari gambaran sebuah neraka.

    Kembali kubertanya, mengapa? Salahkah diriku yang telah dihantui oleh pencapaian usia yang aku tak tahu sampai pada titik kapan harus berhenti, bila kukatakan dan kusimpulkan, bahwa dunia beserta penghuninya, manusia seumumnya saat ini, masih dalam lingkaran pikiran, ucap kata dan perbuatannya, dalam kubangan yang sarat dengan ketimpangan, disharmonisasi hidup dalam kehidupannya. Salahkah diriku berpandangan dan berpenilaian atas simpulan ini? Sekali lagi, salahkah diri ini yang sudah tak muda lagi, tua reyot renta nan  kelabu? Belum bisa mewujudkan dengan seksama ke dalam tata bangunan kehidupan yang putih, dan menandaskan serta mengartikulasikan bila saat ini, kita masih dalam sebuah kehidupan hitam bagai jelaga pekat tanpa cahaya yang harus dihindari bagi manusia seumumnya, bila memang mau menjadi hamba Tuhan dengan sepenuh-penuhnya penangggapan tanpa reserve, dan tanpa tedeng bin aling-aling ...

    Aku tak boleh patah arang! Dan, harus kutandaskan di ruang dan waktu yang melingkupi keberadaanku sebagaimana manusia seumumnya ciptaan Tuhan, bukan manusia yang keberadaannya, dianggap muncul dengan sendirinya, tanpa ada proses sebab dan akibat yang menghadirkannya di dunia. Walaupun aku amat menyadari, bila aku masih belum apa-apa, belum bisa memperhitungkan arti empat lima ribu nyawa, dan bukan sebagai bagian dari orang-orang yang terbuang, menyitir ungkapan sang punjangga yang melegenda, Chairil Anwar. Dengan prinsipnya yang masih menggema di seantero negeri, sekali berarti sesudah itu, mati! Kapan lagi bila tak dimulai dari diri sendiri, dan mulai dari saat ini? Dalam mewujudkan dan  membuktikannya. Antara kauliyah dan kauniyah harus seiring sejalan, tanpa ada jurang perselisihan dan perbedaan. Singkat kata, harus harmonis laksana gambaran sebuah surga yang penuh dengan tata hidup ideal seimbang dalam keseluruhan, tanpa celah yang menampilkan ketimpangan secuilpun ...

    Aku harus berjuang hingga sampai pada batas waktuku. Dan, aku tak mau tahu apa yang dicelotehkan oleh orang-orang yang telah terbius bisik rayuan setan, tenggelam dalam kubangan kenikmatan nan menggiurkan. Sementara, komplotan iblis dan setan tertawa sambil menari-nari, setelah menghembuskan bisik rayuannya kepada manusia yang terlelap dalam lena, tak mau tahu atas maunya Tuhan yang menciptakannya, agar hidup dalam tata hidup seimbang nan sempurna selaras dengan ajaran-Nya ...

     

    Kota Malang, Juli hari kedua puluh sembilan, Dua Ribu Dua Puluh Dua.          

    Ikuti tulisan menarik sucahyo adi swasono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.