Manusia Ibarat Penginapan - Analisis - www.indonesiana.id
x

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Senin, 1 Agustus 2022 17:52 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Manusia Ibarat Penginapan

    Maulana Jalaludin Rumi mengibaratkan manusia sebagai penginapan. Apa maksudnya? Sila ikuti terus sampai tuntas.

    Dibaca : 542 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

    Manusia kok ibarat penginapan? Demikian mungkin Anda bertanya. Itu adalah kutipan dari sebuah puisi Rumi.

    Maulana Jalalaudin Rumi adalah seorang cendekiawan Muslim, sufi, dan penulis yang sudah menghasilkan ribuan puisi.  Hebatnya karya karyanya sampai sekarang masih dikagumi orang, baik Muslim maupun non Muslim.  Karyanya sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.  Selain indah, karyanya juga penuh makna.

    Sekarang mari kita bahas salah satu karya besar Maulana Jalaludin Rumi.  Seperti biasanya puisi Rumi selalu indah dan penuh makna.  Mari kita nikmati kutipan salah satu karyanya berikut ini yang berjudul The Guest House dalam bahasa Inggris.

    The Guest House.

    “This being human is a guest house.

    Every morning is a new arrival.

    A joy,  a depression, a meanness, some momentary awareness comes as an unexpected visitor

    Welcome and entertain them all.

    Treat each guest honorably.

    The dark thought, the shame, the malice, meet them at the door laughing, and invite them in.

    Be grateful for whoever comes, because each has been sent as a guide from beyond.”

    Menjadi manusia ini ibarat sebuah penginapan.  Setiap pagi ada kedatangan.  Kesenangan, kesedihan, kegembiraan, datang sebagai tamu yang tak terduga.   Sambutlah dan hiburlah mereka semua.  Perlakukan setiap tamu dengan hormat.  Tamu yang menyenangkan, tamu yang menyebalkan, temui mereka di pintu dengan senyum, dan ajak mereka masuk.  Berterimakasihlah pada siapapun yang datang, karena semuanya dikirim sebagai panduan dari sana (dari Allah  maksudnya).

    Rumi dengan indah sekali melukiskan manusia sebagai penginapan dan pengalaman yang dilalui sebagai tamunya.  Ada tamu yang menyenangkan, ada tamu yang menyusahkan.  Semua itu harus disambut dengan ramah dan dilayani dengan hormat dan sopan.

    Sejatinya gambaran Rumi itu adalah sanépa bahwa manusia dalam kehidupan duniawi ini akan mengalami banyak pengalaman yang termasuk dalam dua golongan itu – ada yang menyenangkan dan ada yang menyusahkan.  Rumi menggambarkan sikap yang seharusnya diambil ketika menghadapi semua pengalaman itu.  Semuanya harus disambut dengan senang hati, dengan lapang dada.  Dengan kata lain manusia harus rido dengan keputusan Allah.  Semua yang terjadi pasti sudah seijin Allah.  Kalau mau bahagia manusia harus menerima dengan lapang dada apapun yang terjadi.

    Siapapun anda, sebanyak apapun harta anda, setinggi apapun jabatan anda, pasti akan ada dua macam pengalaman itu.  Jangan dikira orang kaya raya dan berkuasa tidak akan mengalami kerugian, kekalahan, dan banyak pengalaman tidak énak lain.   Apalagi di saat pandemi mengguncang dunia.  Banyak pebisnis besar menderita kerugian besar.  Seorang pengusaha berkata, bukan hanya uang yang membuat dia bingung, tapi tangisan anak buahnya yang kehilangan pekerjaan.

    Di balik musibah, bencana dan ujian ada hikmah.   Rumi menganjurkan kita menyikapi dengan benar agar kita mampu mengambil hikmahnya.  Manusia harus sabar dan rido menerima semua takdir Allah.  Tentu saja kita harus berdoa dan berihtiar agar terhindar dari penyakit dan yang menderita kemunduran usaha atau bahkan terkena phk tetap berupaya memperbaiki kondisinya.   Jangan sekali sekali grenengan dengan takdir Allah.

    Di sisi lain kesenangan dan keberhasilan juga harus diwaspadai dan disikapi dengan benar karena di baliknya juga ada jebakan.  Kalau cara menyikapi tidak tepat, keberhasilan justru akan membawa resiko.  Saya sudah pernah membahas hal ini dalam artikel sebelumnya.  

    Monggo kita menata hati agar rela, sabar dan rido dengan takdir Allah, baik yang menyusahkan maupun yang menyenangkan, agar kita bisa memetik hikmahnya.

    Maulana Jalaludin Rumi memang memiliki karya yang mengagumkan.  Sampai saat ini, setelah ratusan tahun dia pergi, karyanya masih dikagumi banyak orang.  Peninggalannya masih bisa kita saksikan di Konya, Turki.  

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.