Kutulis Memoar Tentang Engkau - Analisis - www.indonesiana.id
x

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Selasa, 2 Agustus 2022 07:50 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kutulis Memoar Tentang Engkau

    Memoar mengungkap sisi menarik dari perjalanan seorang tokoh. Dalam fiksi, memoar sah saja mengungkapkan tokoh dengan kata ganti. Sejumlah penafsiran tentang tokoh tersebut, sila para pembaca punya kuasa.

    Dibaca : 363 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kutulis memoar tentang engkau ini

    dalam ragam lagak sebagai retrospeksi

     

     

    ada masa kala engkau berkiprah di Ons MULO Blad

    tentang sastra awalmu berupa prosa dan bukan puisi

     

     

    Ada masa saat keakrabannmu dengan Jassin era pendudukan Jepang.

    Engkau penyiar radio. Sementara Jassin bergiat di majalah Panji Pustaka sebagai wakil pemimpin redaksi.

     

     

    Engkau, seperti tuturan Jassin kerap bertindak sesuka hati:

    bertandang ke rumah atau ke kantor tanpa peduli

    Berkunjung ke rumah menumpang becak dan meminta Jassin yang membayar ongkosnya. Lantas, Pinjam buku tapi berpura lupa mengembalikan.

     

     

    Engkau tak sungkan mengangkat kaki ketika duduk atau berbicara lantang ketika mengritik orang di forum. Pengarang sepuh: Datuk Mandjoindo dan Sutan Sati risi dibuatnya.

    “Gantung saja dia!”  ujar Datuk Mandjoindo berang.

     

     

    Reputasimu  semakin melangit saat puisi-puisimu diberi tempat Jassin pada Pantja Raja. Jassin pun tak segan menggelarimu: Pelopor perpuisian Angkatan 45.

     

     

    Ada masa ketika engkau dibogem Jassin hingga terpelanting

    karena puisimu dibanting dan engkau tidak terima.   

    Engkau lantas lari ke Affandi: bukan untuk belajar melukis.

    Cuma numpang berlatih angkat besi agar dendammu terlampiaskan.

     

     

    Ada peristiwa

    bagaimana engkau melahap buku

    dengan aneka kiat:

    membaca di toko buku

    membaca di perpustakaan

    meminjam dari teman

    bertandang ke rumah siapa pun yang baru dikenalnya

    kemudian menyusuri buku ke pasar loak  

     

     

    Ada kala

    bagaimana engkau berdebat

    dengan siapa pun

    tentang

    budaya

    sastra

    politik

    filsafat 

     

    Engkau bersekolah kelas dua SMP cuma

    tapi kiprahmu melebihi magister strata dua

     

     

    Kepada perempuan

    engkau tak hanya romantis

    pun menjunjung marwahnya

    Ada Ida yang dijadikan judul puisi

    Ada Dien Tamaela, Gadis Rasid, Tuti

    Sumirat, Karinah Moordjono, dan  Sri Ajati

    yang dijadikan sebagai  persembahan puisi

     

     

    Pada usia 27 engkau menghadap-Nya

    Ada yang selalu dikenang dari masa ke masa

     

     

    Engkau meneladankan budaya berliterasi

    Engkau mewariskan 94 karya monumental:

    70 puisi karya asli

    10 puisi terjemahan

    4 puisi saduran

    6 prosa asli

    4 prosa terjemahan

     

     

     

    #LombaPuisiTerokaIndonesiana

    # Slamet Samsoerizal

     

     

    Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.