Versus Singapura U-16, Tidak Ada Alasan Klasik - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

bola Indonesia Australia

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 2 Agustus 2022 12:04 WIB

  • Sport
  • Topik Utama
  • Versus Singapura U-16, Tidak Ada Alasan Klasik

    Jangan ada alasan yang klasik dan tidak perlu diungkap ke publik, bila penampilan versus Singapura U-16, Timnas U-16 masih tampil tak sesuai ekspetasi, masih tak cerdas TIPS. Andai begitu, siapa yang harus dievaluasi?

    Dibaca : 529 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dalam setiap event internasional, terutama Timnas Vietnam, Thailand, hingga Malaysia di semua level umur, menurut catatan saya tidak ada lagi pelatih mereka yang menggunakan alasan bahwa skuat yang diampunya baru turun pertama kali di event internasionallah, baru pengalaman pertamalah dll, bila timnya tidak bermain cerdas, bermain imbang atau kalah.

    Pemain Timnas sudah level Timnas

    Publik sepak bola Asia Tenggara khususnya, tidak lagi melihat pengalaman ini itu. Yang dilihat adalah level dan kualitas Timnas Vietnam dan Thailand, juga Malaysia. Mau pemainnya baru pernah tampil atau baru pernah turun di laga internasional, yang dilihat adalah para pemain tersebut sudah ada dalam gerbong Timnas mereka.

    Jadi, berada dalam gerbong Timnas Vietnam, Thailand, atau Malaysia, maka setiap pemain wajib menunjukkan kelasnya sebagai pemain yang berkualitas dalam TIPS yang standar, sebab mereka turun di bawah bendera Timnas berkelas khususnya di Asia Tenggara.

    Seharusnya, hal itu juga menjadi contoh bagi pelatih Timnas Indonesia U-16 di Piala AFF U-16 2022. Mau Timnas yang dibesutnya turun di level lokal mau pun internasional, tidak ada lagi alasan menyoal pengalaman. Pemain yang sudah terpilih masuk Timnas, tidak lagi dipersoalkan hal yang demikian. Apalagi turun atas nama Bendera Timnas Indonesia, dan sebagai tuan rumah Piala AFF U-16. Timnas U-16 bukan wadah coba-coba.

    Selain nama Indonesia dan sebagai tuan rumah, maka semua lawan terutama Vietnam yang satu grup, tentu ingin tahu seperti apa kekuatan Timnas U-16 sekarang.

    Pemain U-16 di Indonesia melimpah

    Bila Timnas U-16 mau diperkuat pemain berpengalaman, Indonesia tidak pernah kekurangan pemain seusia U-16 tahun yang bahkan sudah bertanding di level internasional baik bersama SSB/Akademi/tim yang mengatasnamakan Indonesia, lho.

    Jadi, bila membaca alasan klasik Bima Sakti, mengapa pasukan yang dipimpinnya hanya menang 2-0 atas Filipina, bahkan 1 gol hasil bunuh diri lawan, saya miris.

    Dalam artikel sebelumnya, saya sebut Bima wajib menguasai ilmu pedagogi, padahal saya belum membaca apa alasan Bima. Tetapi begitu membaca alasan Bima yang dikutip oleh beberapa media usai laga, dalam konferensi pers, membuat saya semakin yakin, masalah Timnas U-16, baik pemilihan pemain, menyoal TIPS pemain yang belum standar, hingga hasil laga hanya mampu menang 1 gol (1 gol bunuh diri) atas Filipna U-16, ada pada Bima sendiri.

    Buktinya, dalam pernyataannya kepada media, Bima menyebut pemain-pemain Timnas Indonesia U-16, baru pertama kali menjalani pertandingan internasional saat melawan Filipina. Lalu, kurangnya pengalaman, disebut oleh Bima Sakti membuat tim Merah-Putih tak bisa dengan tenang memanfaatkan peluang yang didapat.

    Alasan tersebut, sepertinya Bima lupa, para pemain yang direkrut dari Klub apa dan sudah turun dalam kompetisi apa? Apa mereka kurang pengalaman? Menghadapi Filipina U-16, Filipina U-16 itu kelasnya sama dengan salah satu tim SSB/Akademi/Diklat/Tim EPA Liga 1 U-16 di Indonesia.

    Berikutnya, Bima pun dengan enteng mengungkap: "Pertama alhamdulillah yang penting kita menang dulu. Ya, memang ada beberapa poin-poin yang harus kita benahi nanti di pertandingan kedua tanggal 3 (Agustus), masih ada waktu dua hari untuk kita evaluasi, recovery pemain juga."

    Bima pun menutup dengan pernyataan: "Ya sebenarnya sayang masih banyak peluang, beberapa kali peluang tidak terjadi gol mudah-mudahan di pertandingan kedua diperbaiki." "Dan saya melihat wajar pemain baru, pertama kali semua mereka di level internasional, ya kita bersyukur bisa menang 2-0."

    Waduh Bima! Yang Anda pegang Timnas Indonesia, lho! Bukan SSB/Akademi/Diklat/Tim EPA Liga 1! Hanya lawan Filipina pemain tak cerdas TIPS. Apakah versus Sigapura U-16 akan mengulang kesalahan yang sama? Bagaimana menghadapi Vietnam U-16?

    Setop paradima zadul dan versus Singapura?@@ Paradigma baru pertama turun di level internasional, belum pengalaman, masih proses, baru laga pertama, dan bla-bla lainnya, tidak boleh lagi dijadikan kambing hitam untuk apa yang terjadi pada apa pun hasil laga di level sekelas Timnas Indonesia. Namaya Timnas, semua sudah harus level Timnas, terutama TIPS pelatih dan TIPS pemainnya. Setop paradigma zaman dulu (zadul), di sepak bola moderen dan level Timnas, tidak ada, itu!

    INGAT, TIM U-16 adalah cikal bakal pondasi Timnas Senior!

    Jika Vietnam mampu membantai Singapura U-16 5-1, saya pikir, Timnas Indonesia U-16 tidak harus kebakaran jenggot. Menang 1-0/2-0/3-0 pun tidak apa, yang penting terlihat TIPS para pemain yang cerdas. Baru kemudian, saat bertemu Vietnam, buktikan Anak Garuda U-16 mampu menang berapa pun golnya, maka juara grup di tangan. Kemudian berpikir di fase gugur harus bagaimana.

    Ingat, head to Head Indonesia Vs Singapura sudah empat kali di Piala AFF. 1. Indonesia 1-1 Singapura - Piala AFF U-16 2008 2. Indonesia 1-1 Singapura - Piala AFF U-16 2013 3. Indonesia 2-0 Singapura - Piala AFF U-16 2017 4. Indonesia 3-0 Singapura - Piala AFF U-16 2019

    Jadi, jangan ada alasan yang klasik dan tidak perlu diungkap ke publik, bila penampilan versus Singapura U-16, Timnas U-16 masih tampil tak sesuai ekspetasi, masih tak cerdas TIPS. Andai begitu, siapa yang harus dievaluasi?

    Ikuti tulisan menarik Supartono JW lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Michael HB Raditya

    Rabu, 10 Agustus 2022 16:50 WIB

    Ronaldo, Penjual KW, dan Cuan

    Dibaca : 326 kali