Andai Saat Ini Kita Menerapkan Kritik Socrates dan Plato Terhadap Demokrasi - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Harish Ishlah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Oktober 2019

Rabu, 3 Agustus 2022 16:48 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Andai Saat Ini Kita Menerapkan Kritik Socrates dan Plato Terhadap Demokrasi


    Dibaca : 496 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Demokrasi adalah sistem pemerintahan paling buruk, tapi tidak ada yang lebih baik dari itu

    (Winston Churcill)

    Jauh — jauh hari sebelum kelompok Islam konservatif memperdebatkan dan mengharamkan demokrasi karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam, maka para filsuf seperti Socrates dan Plato sudah memperdebatkan demokrasi yang dianut oleh Yunani kuno. Mereka menganggap demokrasi bukanlah sistem yang adil karena seorang budak pun bisa setara dengan seorang arsitek dalam perihal memilih dan dipilih sebagai seorang pemimpin.

    Socrates dan Plato mengibaratkan demokrasi tidak bisa dijadikan sebagai panduan hidup seperti saat memilih seorang kapten atau nahkoda kapal besar yang akan berlayar. Maka bukan sembarang orang yang patut dipilih menjadi pemimpin. Orang yang dipilih menjadi kapten atau nahkoda harus berpengalaman dan berpengetahuan luas.  Tujuannya agar bahtera tersebut bisa mengantarkan para penumpang kapal dengan selamat sampai ke daratan.

    Maksud dari Socrates dan Plato melalui ujaran tersebut bukanlah mendiskreditkan rakyat jelata yang tidak diperbolehkan untuk memiliki status setara dengan para priyayi, tetapi lebih kepada persoalan persamaan dalam memilih seorang pemimpin dari segi pengalaman dan status yang lebih memadai.

    Artinya semua orang tetap bisa dan boleh untuk berkesempatan menjadi pemimpin dan memilih seorang pemimpin, namun diperlukan algoritma yang lebih rumit lagi agar tidak terjadi suap suara, money politics, atau bahkan manipulasi suara di kotak pemilu seperti yang banyak terjadi di Indonesia saat ini.

    Socrates dan Plato pada saat itu belum tahu kalau demokrasi akan dimodifikasi dengan sifat licik politisi seperti saat ini namun ternyata mereka berdua sudah tahu lebih dahulu soal ini yang sudah diprediksi dengan akurat, maka demokrasi memang perlu dimodifikasi kembali agar memberikan kodifikasi terhadap pemilih pada saat pemilihan umum karena tidak cukup jika hanya diberikan edukasi semata yang ujungnya hanya akan membuat kaum proletar akan semakin ditindas bahkan dimanfaatkan oleh para elitis hanya untuk kepentingan kelompoknya dan menggunakan embel — embel populisme sebagai umpan pancingannya.

    Negeri ideal menurut saya adalah jika kita sudah mampu menafsirkan unsur ontologis dari demokrasi yang sebenarnya sehingga terdapat buah hasil keberhasilan dari demokrasi itu sendiri yang dipadukan dengan unsur lokal misalnya Indonesia yang sarat akan nilai dan moral sehingga demokrasi yang akan kita hasilkan adalah demokrasi nilai moral, mengingat dari awal kemerdekaan hingga sekarang ini Indonesia sering sekali menafsirkan dan mengeluarkan cap produk demokrasi seperti demokrasi terpimpin ala Soekarno, demokrasi pancasila ala Soeharto, dll.

    Maka saya mencoba berpikir liar juga seperti mereka dan mencoba memberikan cap dan tafsiran baru untuk demokrasi yang cocok untuk kita terapkan di Indonesia saat ini yaitu demokrasi nilai moral, bentuk demokrasi yang mengandung nilai tradisi sopan santun khas kehidupan sehari — hari masyarakat Indonesia serta juga menyertakan unsur etika moral yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia sebagai hukum yang tidak tertulis sehingga menurut saya sangat cocok untuk mendesain demokrasi bentuk baru semacam ini.

    Kritik terhadap demokrasi oleh Socrates dan Plato sangat relevan hingga hari ini karena sampai saat ini belum ada negara yang menerapkan demokrasi mutlak yang berpihak pada rakyat dan keadilan rasional bahkan negara yang dinilai paling demokratis sedunia semacam Amerika Serikat sekalipun tidak mampu mewujudkannya, mulanya kita memang harus bersikap skeptis karena rasanya kecil sekali kemungkinan Indonesia untuk bisa mewujudkannya namun cita — cita semacam ini harus tetap hidup dan dikembangbiakkan untuk diwariskan pada generasi selanjutnya.

    Jika tidak ada yang bersikap skeptis terhadap kondisi sosial politik saat ini, maka tidak akan ada pula yang bersikap kritis apalagi solutif untuk menghadirkan solusi aktual terhadap permasalahan yang terjadi pada Negeri ini. Seiring berjalannya waktu, perkembangan dan dinamika demokrasi memang selalu membutuhkan perubahan pada setiap zaman dan kondisi yang tergantung juga pada kebutuhan zaman, tetapi anehnya adalah kritik Socrates dan Plato terasa sangat relevan di setiap zaman serta kekal sebagai pondasi utama dalam mendirikan dan mengevaluasi sebuah konsep demokrasi sehingga suatu hari nanti akan terwujud aktualisasi dari buah kritik Socrates dan Plato terhadap konsepsi dasar dari demokrasi saat ini.

    Ikuti tulisan menarik Harish Ishlah lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.