Disiplin Positif - Analisis - www.indonesiana.id
x

ilustr: GitaCinta.com

Rahadiansyah Andri

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 hari lalu

5 hari lalu

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Disiplin Positif

    Renungan Metode Mendisiplinkan orang lain, dengan model disiplin positif

    Dibaca : 440 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    “Anak sekarang itu kepribadiannya lemah, karena dididik dengan lembek. Sangat berbeda dengan saya dulu yang sering dimarahi dan mendapatkan bimbingan secara  keras, tetapi menghasilkan orang yang tidak cengeng. Sekarang itu mau agak keras dikit, takut dilaporkan ke Polisi atau komnas HAM”. Kira-kira ini adalah satu dari beberapa curhatan guru yang merasa bahwa cara pendidikan sekarang sudah jauh dari ketegasan atau tidak sebagus dulu. Apakah benar asumsi ini? Kemudian Apa itu ketegasan? Dan Apa itu kedisiplinan?

    Sejauh ini saya masih sering menemukan pemahaman kebanyakan orang tentang kedisiplinan itu adalah memberikan hukuman bagi yang melanggar. Bahkan tak jarang kita membaca artikel/berita terkait penggunaan kata “mendisiplinkan” itu adalah suatu proses untuk memberikan hukuman atau teguran kepada orang yang melakukan kesalahan. Apakah dengan adanya hukuman, aturan bisa dijalankan dengan baik? Untuk menjawab ini, mari kita lihat fenomena yang terjadi di lingkungan kita. Saya akan mulai dari temuan di jalanan Ibu Kota, bahwa setiap orang paham bagaimana cara kerja lampu merah di perempatan jalan raya, tetapi setiap orang juga banyak melanggar aturan lampu merah ini, pengendara hanya takut ditilang bila ada petugas yang berjaga. Disini kita pahami bahwa hukuman itu hanya memberikan ketakutan, bukan untuk mendisiplinkan. Sehingga kita juga memahami mengapa masih banyak orang yang tidak disiplin menggunakan masker saat keluar rumah dimasa pandemi ini bukan?

    Hukuman adalah cara paling cepat untuk menghentikan ketidakterturan saat itu, tetapi tidak menjamin bahwa selanjutnya rantai kesalahan akan terhenti. Kebanyakan kita masih senang membuat kebijakan yang sifatnya mudah dan cepat, tetapi belum tentu tepat. Mari kita ubah pemahaman ini bersama. Kita ingin melihat di masa depan nanti, jalanan ibu kota dan semua kota di Indonesia diisi oleh pengendara yang disiplin baik itu ada petugas yang berjaga ataupun tidak ada. Kita juga ingin melihat sosok-sosok pemimpin di Indonesia kelak adalah pribadi yang berintegritas. Harapan itu bisa mulai dipupuk dari pejuang-pejuang pendidikan garda depan, Guru.

    Menanamkan disiplin kepada setiap siswa di Indonesia secara benar, atau kita sebut positif disiplin adalah tanggung jawab para Guru di sekolah. Kuncinya adalah memberdayakan siswa bukan mengontrol. Guru tidak mencari cara bagaimana agar siswa mau mendengarkan, tetapi bagaimana cara mendapatkan kerjasama dari siswa. Guru tidak mencari apa hukuman bagi siswa yang terlambat, tetapi bagaimana cara membantu siswa untuk lebih bertanggung jawab. Seperti yang sudah saya ungkapkan sebelumnya, hukuman hanya memberikan ketakutan dan bahkan melatih siswa untuk berbohong. Mengapa demikian? Siswa akan mencari cara agar tidak dihukum, sehingga mencari alasan dan akhirnya berbohong. Apalagi jika hukumannya adalah kekerasan fisik, hal ini akan menciptakan pelaku-pelaku kekerasan fisik juga di masa depan.

    Kedisipilan harus muncul dalam diri siswa, bukan karena keterpaksaan atau takut menerima hukuman. Untuk mencapai ini, prosesnya memang tidak singkat dan perlu waktu lebih lama agar disiplin positif ini berhasil. Ciptakanlah lingkungan sekolah yang auranya positif, atau bisa dimulai dari lingkungan kelas yang bisa Bapak/Ibu Guru kontrol secara langsung. Membuat rutinitas-rutinitas yang baik dikelas dan selanjutnya menjadi budaya. Lantas bagaimana bila ada yang tidak disiplin? Mari kita ambil contoh kasus siswa yang terlambat masuk kelas. Alih-alih menyuruh dia berjemur dilapangan atau bahkan sambil angkat satu kaki sambil hormat ke bendera, lebih baik tetap meminta di masuk pada saat datang tetapi konsekuensinya waktu istirahat atau pulang dipakai dia untuk belajar. Dari sini Guru memberikan pemahaman bahwa bila dia terlambat, dia tidak punya waktu untuk bermain bersama teman-teman lain, dan ini yang disebut sebagai Konsekuensi Logis, bukan hukuman. Tentu ketika hal ini terjadi, tidak hanya waktu istirahat siswa yang tersita, tetapi juga Guru memberikan penguatan agar siswa tersebut bisa kembali disiplin. Kasus lain, misalnya ada siswa yang tidak mengerjakan PR? Apakah benar jika kita malah menyuruh dia pulang dan tidak mengikuti kelas akibat tidak mengerjakan PR? Tentu itu bukanlah sebuah Konsekuensi Logis.

    Hal lain yang juga sangat penting agar penanaman Disiplin positif ini berhasil, tentunya adalah bagaimana seorang Guru menjadi Role Model bagi para siswanya. Mari berkaca pada pribadi masing-masing, sudahkah kita menjadi contoh yang baik kepada para siswa? Jadilah guru yang bisa menjadi orang tua kedua, dan membuat siswa nyaman ketika bersama dalam kelas. Hal ini akan membuat kerjasama antara guru dan siswa bisa berjalan lebih maksimal dan penanaman positif disiplin bisa lebih optimal. Mari mulai dari diri sendiri, dan tidak ada upaya yang sia-sia bila kebaikan bisa dimulai dari hal-hal yang kecil.

    Ikuti tulisan menarik Rahadiansyah Andri lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.