Dari Menyalahkan Liyan Menuju Evaluasi Diri - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

image: lawschooltransplant.com

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Rabu, 3 Agustus 2022 06:48 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Dari Menyalahkan Liyan Menuju Evaluasi Diri

    Sebagian orang muda memiliki keinginan mengubah dunia. Dalam pandangan mereka banyak sekali kelemahan dan ketidakberesan.  Namun cara pandang bisa berkembang. Mereka melihat segalanya lebih imbang. Kelemahan sendiri juga terlihat. Maka alih alih mengubah dunia, mereka berupaya mengubah diri sendiri menjadi lebih baik. Rumi dengan indah melukiskan perkembangan sikap dan pemikiran manusia. Bagaimana gambarannya?

    Dibaca : 628 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

    Yesterday I was clever so I want to change the world. Today  I am wise so I am changing myself.  Dulu saya (merasa) pintar maka saya ingin mengubah dunia.  Sekarang saya bijaksana jadi saya mengubah diri saya sendiri.  Demikian kata mutiara terkenal dari Maulana Jalaludin Rumi  yang masih diingat orang sampai sekarang.  Apa kira kira maksud sang sufi kondang ini?  Mari kita bahas.

    Melihat kesalahan liyan

    Saya kira Rumi menggambarkan perkembangan pemikiran orang yang bergerak dari idealis menjadi lebih realistis.  Pada umumnya memang anak anak muda di usia mahasiswa masih sangat idealis.  Mereka memandang banyak sekali kelemahan, ketidakberesan dalam banyak hal.  Dari mulai politik, ekonomi, budaya, dan segala macam realitas.  Hampir segalanya mereka kritik, sehingga seolah tidak ada hal benar di dunia ini. 

    Meskipun ada unsur kebenaran pada pandangan mereka, ada juga sisi lain yang terlupakan.  Kadang mereka lupa mengkritik dirinya sendiri.  Saking rajinnya mengkritik pihak lain sampai lupa bahwa dirinya sendiri juga masih jauh dari sempurna.  Jadi pandangan mata nalarnya masih agak ‘rabun’.  Hanya sebagian kenyataan saja yang nampak tapi sebagian kenyataan lain, terutama tentang dirinya tidak nampak.  Dalam bahasa Indonesia ada sebuah peribahasa yang tepat sekali melukiskan keadaan ini.  Kuman di seberang lautan nampak, tapi gajah di depan mata tidak nampak.  Jadi kesalahan kelemahan orang lain terlihat jelas meskipun kecil, sedangkan kesalahan sendiri tidak nampak, meskipun besar.

    Melihat dengan berimbang

    Setelah menelan lebih banyak pengalaman hidup biasanya orang menjadi lebih bijaksana.  Meskipun tidak selalu demikian.  Ada juga yang sampai tua tidak pernah menjadi bijaksana.  Kemampuan belajar dari pengalaman sangat menentukan.  Itulah sebabnya dalam bahasa Jawa ada kata sesepuh yang artinya orang yang sudah lama tinggal di dunia. Ada lagi pinisepuh yang artinya orang yang dituakan.  Usianya mungkin belum lanjut tapi sudah bijaksana.  Bisa juga sudah lama tinggal di dunia dan sudah bijaksana. 

    Pinisepuh, orang yang dituakan karena bijaksana, sudah mampu melihat secara seimbang.  Dia melihat kelebihan dan kelemahan semua pihak.  Tidak hanya pihak lain tapi juga dirinya sendiri. Orang yang sudah sampai pada tahap ini tidak lagi demanding,  tidak hanya menuntut pihak lain untuk menuruti keinginannya tapi lebih mampu memahami pihak lain.  Barangkali kalau dalam istilah sekarang kecerdasan emosinya sudah lebih tinggi. 

    Kalimat mutiara Rumi ini juga cocok untuk orang yang memiliki sikap mental yang kurang unggul.  Masih banyak orang yang memiliki sifat demanding, menuntut pihak lain menuruti keinginannya tapi dia sendiri tidak mau melaksanakan kewajibannya dengan baik.  Masih banyak siswa dan mahasiiswa yang memandang sekolah dan kuliah hanya tempat mendapatkan ijazah, bukan ilmu.  Mereka hanya mau nilainya, bukan skillnya.  Maka upayanya bukan giat belajar tapi mendekati guru dan dosen dengan harapan diberi nilai tinggi. Mereka lupa bahwa nilai itu adalah bikinan mereka sendiri, bukan bikinan guru atau dosen.  Sejatinya guru dan dosen hanya menulis saja nilai yang didapat muridnya.  Tapi seberapa tinggi nilai itu dibuat oleh si murid sendiri. 

    Menjadi semakin bijaksana

    Apa kuncinya agar kita bisa menjadi orang yang lebih bijaksana?  Mulat sariro alias melihat diri sendiri.  Mawas diri. Melakukan SWOT pada diri sendiri.  Ini tidak mudah memang. Karena itu tidak semua orang bisa melakukannya.  Banyak membaca akan sangat membantu.  Masalahnya minat baca di kalangan orang Indonesia sangat rendah.  Seorang petinggi mengatakan bahwa minat baca kita tinggi tapi daya baca rendah.  Apa yang dibaca hanya telepon genggam, itupun hanya wa, bukan buku berbobot.  Inilah PR kita bersama, bagaimana meningkatkan minat baca orang Indonesia.

    Kaitan dengan parenting

    Dari perspektif parenting hal ini menjadi tantangan buat orang tua, bagaimana menciptakan sikap mental unggul anak anaknya. Sikap yang tidak hanya menyalahkan liyan tapi lebih suka mengevaluasi dirinya sendiri.  Sejatinya sikap mental anak dibentuk oleh keluarganya.  Bagaimana membangun karakter unggul pada anak?

    Contoh yang baik adalah pelajaran terbaik. Orang tua lebih baik sering mengevaluasi dirinya sendiri lalu menyampaikannya pada anak anaknya. Kalau anak anak melihat kemajuan yang dicapai dengan kegiatan evaluasi diri maka mereka pasti juga akan menerapkan.

    Ringkasan

    Sebagian orang muda memiliki keinginan mengubah dunia karena dalam pandangan mereka banyak sekali kelemahan dan ketidakberesan.  Namun bersama bertambahnya pengalaman mereka, cara pandang bisa berkembang. Mereka melihat segalanya lebih imbang. Kelemahan sendiri juga terlihat. Maka alih alih mengubah dunia, mereka berupaya mengubah diri sendiri menjadi lebih baik.  Orang tua berperan besar membentuk sikap mental positif seperti itu dengan memberi contoh cara mengevaluasi diri dan memperbaiki diri.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.