Akankah Kita Merdeka? - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Pengibaran Bendera Merah-Putih saat Proklamasi Kemerdekaan RI

Ilham Pasawa

Penulis
Bergabung Sejak: 8 November 2021

Kamis, 4 Agustus 2022 16:31 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Akankah Kita Merdeka?

    Cerpen ini berlatar di tahun 1941.

    Dibaca : 236 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    AKANKAH KITA MERDEKA?

    Remang sinar mentari merasuk ke jendela-jendela rumah. Memadamkan sinar lampu minyak yang dipasang sejak Maghrib kemarin. Orang-orang sudah banyak yang menggendong cangkul menuju sawah. Beberapa sudah harus pergi ke kebun-kebun karet atau rempah lain, ada juga yang dengan terpaksa bekerja membangun jalan. Mereka adalah pribumi! Tetapi tak diperlakukan selayaknya pribumi. Pria dekil yang barusan berlalu lalang itu adalah pemilik sawah, namun ia tak bisa bebas menjual hasil dari sawah yang ia kelola. Ia hanya bisa menjual hasil taninya pada orang-orang yang memiliki kuasa.

    Aku sudah jenuh dengan semua itu, setiap hari tanahku dikeruk dan diperkosa oleh para pendatang yang tidak beretika. Mereka mengambil semua, sawah, perkebunan, tanah, serta kehormatan. Aku mendengar ada beberapa orang muda yang bergerak dalam politik untuk segera mewujudkan kemerdekaan. Jika tak salah diantara mereka bernama Sjahrir, Soekarno, Hatta, dan Tan Malaka. Dan kini beberapa diantaranya tengah berada dalam pengasingan.

    Sementara mereka berjuang pada tingkatan level yang lebih tinggi, aku di sini harus ikut berjuang agar orang-orang desaku bisa bebas dari hegemoni perdagangan serta pemaksaan kerja yang tidak manusiawi.

    "Suroso!" Teriak seorang pria.

    Mataku melirik, tampak wajah tak asing mendekat.

    "Kau sudah mendengar kabar itu?" Ujarnya begitu bersemangat.

    "Kabar apa?"

    "Jepang menggila, ia meluluhlantakkan pangkalan militer sekutu di Pearl Harbour" Ujarnya.

    Aku terkejut mendengar hal itu, Jepang akan benar-benar menjadi raksasa di Asia, ia akan menjadi batu ganjalan besar bagi sekutu untuk wilayah Asia-Pasifik. Di sisi lain, kudengar kabar jika pasukan Jepang sudah banyak di wilayah timur dekat Ambon.

    "Jepang akan menjadi momok menakutkan bagi sekutu, apakah ini berarti kita akan segera merdeka?" Uajrku melempar tanya yang tak harus terjawab.

    "Semoga saja!" Jawabku kawanku.

    Aku dan kawanku duduk di sebuah tebing yang menyajikan pemandangan hamparan sawah yang begitu luas serta gunung-gunung yang menjulang tinggi serupa pagar. Tak lama kami pun hanyut dalam hayal yang tak pasti.

    "Menurutmu, jika negeri ini merdeka haluan apa yang akan dipakai?" Tanya kawanku.

    "Republik, seperti yang disinggung Datuk Malaka pada bukunya yang ditulis di Canton dua puluh tahun yang lalu." Ujarku.

    Aku memang sedikit beruntung dari saudara-saudaraku setanah air, sebab dengan menjadi anak bangsawan, aku masih bisa mengenal baca tulis dan mendapat akses buku-buku terbitan terbaru.

    "Menjadi komunis?" Tanya kawanku lagi.

    "Kemungkinan itu bisa saja, tetapi bisa jadi lebih baik. Negeri ini mungkin akan menjadi negeri demokratis yang besar dan makmur." Ujarku.

    "Tak ada lagi perbedaan kelas sosial seperti saat ini? Semua anak bisa mengenyam pendidikan tanpa melihat latar belakang sosial?"

    "Pasti!" Jawabku bersemangat.

    Bagaimana aku tak yakin negeri ini tak akan menjadi besar? Lihat saja, para pedagang asing yang selalu datang ke tanah ini untuk mencari rempah. Serta tak mungkin orang-orang itu berusaha sekuat mungkin untuk menduduki tanah ini jika di tanah ini tak ada yang berharga. Tanahnya begitu subur, lautnya begitu luas, negeri mana yang punya kekayaan alam serupa negeri kita.

    "Aku ingin sekali merasakan Kemerdekaan. Seperti apa rasanya menjadi bangsa yang merdeka, menjadi bangsa yang bisa bebas memilih jalan hidupnya sendiri, tanpa paksaan, tanpa upeti, dan tanpa monopoli perdagangan." Kawanku menghela nafas.

    "Menjadi merdeka adalah impian kita semua. Aku pun berharap hidup sampai negeri ini merdeka sepenuhnya. Aku ingin menyaksikan anak-anak datang ke sekolah untuk mengenyam pendidikan tanpa pandang status sosial, melihat para petani sejahtera, serta melihat para pekerja diberi upah dengan layak, juga yang terpenting aku ingin melihat anak bangsa kita menjadi pemimpin yang memikirkan rakyat dan saudaranya setanah air. Aku amat sangat menginginkan menghirup udara di tempat yang sama dalam keadaan merdeka. Di mana semua orang memiliki hak untuk bicara, memiliki hak untuk berkarya, serta memiliki hak untuk hidupnya." 

    "Apakah hal seperti itu akan benar-benar terjadi."

    Duaaar! Suara tembakan terdengar tak jauh dari tempat kami bersantai. Ramai teriakan penduduk desa terdengar. Apakah pasukan pemberontak sudah mulai beraksi kembali? Apakah kemerdekaan bangsa ini sudah dekat, apakah negeri ini akan benar-benar merdeka?

    "Mari kita wujudkan kemerdekaan yang sesungguhnya," ujarku sambil menuju asal tembakan.

     

    Pasawa, Depok 04 Agustus 2022

    Ikuti tulisan menarik Ilham Pasawa lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.




    Oleh: I. Jepris Mitang

    21 jam lalu

    Ruang Makan

    Dibaca : 120 kali


    Oleh: I. Jepris Mitang

    21 jam lalu

    Hotel Mewah

    Dibaca : 113 kali






    Oleh: Merta Merdeka

    1 hari lalu

    Pamit!

    Dibaca : 146 kali