Hancur Sastra Asmaraloka - Analisis - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Kamis, 4 Agustus 2022 16:32 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Hancur Sastra Asmaraloka

    Satu-satunya kalimat yang telah mengukir dalam-dalam dari Mpu Tantular: “Umandya donta carweka”, bagi perjalanan lain yang liar, yang sembunyi, yang untuk kehadirannya menjalani jalan panjang dari betapa beruntungnya saya ada di masa paska kemerdekaan.

    Dibaca : 420 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Jantung “nusa”, menjadi salah satu organ anatomi yang cukup penting dalam kehidupan, sepertinya sedang membutuhkan pipa buatan transthoracic untuk dapat mendeteksi secara detail organ-organ. Apakah organ-organ inti di dalam batang tubuhnya memiliki gejala yang beresiko gagal fungsi atau bahkan rusak? Mungkin, kesehatannya telah terlalu luput sebab kesibukan membangun pilihan pada desain pertumbuhan bukanlah proses yang sederhana. Entahlah. Ini linimasa absurd bagi saya, tepat di pukul tigabelas tigapuluh satu, saya mengingat Dante.

    Begitu banyak dot di dalam temporal bone saat ingatan menyusup pada psychedelic masa depan.

    Baru-baru ini, saya berkesempatan mengunjungi kawasan kerikil sulfur Tangkuban Parahu, di Jawa Barat. Pada sebuah tanah merah, suatu dataran tinggi yang merupa cekung dengan alami, yang akan selalu memiliki tempat khusus di emotional intelligence saya. Dan, tentunya tidak terlalu jauh dari Jakarta. “I may trace back the authority for this belief to the most remote ages and countries, as a natural consequence of the champaign country in which they lived[Marcus Tullius Cicero] Saya, tidak ingin menjadi terasing pada tanah kelahiran, hanya itu.

    Namun, di dalam prosesnya, menyusuri satu-satunya perjalanan peradaban bukanlah kembara yang menuntut kepastian layaknya rumus di matematika. Hantaman bertubi-tubi di antara tatalnya catatan tertulis serta artefak alam raya, hingga karya seni; “saya terjatuh tersimpuh, berkali-kali”. Ini bukan tentang suatu kemerdekaan yang dimaklumi sebagai pesta perayaan, selain tertunduk dan menunggu air mata mengalir dengan empedu yang tertekan.

    Ini, tentang misteri berjalan, dalam proses a way of life. Suatu jalan hidup yang hanya menawarkan lembar kosong pelikan fine nerves tentang peradaban bushing panel. Mungkin, kita telah melupakan kehadirannya sebagai denah darah dari nyata gunung-gunung. Sedangkan, sewujud oxygen cylinder dibutuhkan oleh pemukiman satu planet, planet Bumi.

     

    di antara liar yang sembunyi

    dan dingin menggugah pori

    seekor ayam jantan menatap

    bukankah ini masa yang sama?”

    asas takkan mengabaikan wadahnya

    kesetiaan memiliki isi pengorbaan

    ada pemukiman gunung gunung

    yang memohon hati menatap hati

     

    Siang ini, bersama beberapa butir cengkeh dalam kopi susu, ada kontemplasi yang menggulung seluruh pengalaman tentang organ anatomi, dan bisa jadi, “nusa” sangat membutuhkan pipa buatan transthoracic, yang telah lama memohon pulihnya batang tubuhnya, “yang memohon hati menatap hati”. Satu-satunya kalimat yang telah mengukir dalam-dalam dari Mpu Tantular: “Umandya donta carweka”, bagi perjalanan lain yang liar, yang sembunyi, yang untuk kehadirannya menjalani jalan panjang dari betapa beruntungnya saya ada di masa paska kemerdekaan.

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.